Aku dan Cucu!

Nangis, dikasih cucu emak, dipoto bapak. Meneng deh.

            Ancik, angel tibak’e! Wis dipikir bolak-balik kate nggaya dadi arek gaul Jakarte tibak’e gak iso. Kaet wingi wis tak pikir kate nulis sing apik, sing (sok) gaul cek oleh hadiah soko emak-emak sing ngakune gaul hehehehe malah dadine ngene ae.

 

            Cerita masa kecil ya? Banyak, bingung yang mana secara umurku sebagian besar kuhabiskan di masa kecil saja alias gak dewasa-dewasa (masio ta tuwek). Tapi demi si emak gaul eh bukan ding, demi mendapat salah satu hadiah yang diberikan di Giveaway ini aku akan pilih salah satu. Ini bukan kisah lucu, bukan kisah sedih, ini hanya sebuah cerita tentang kesukaan di masa kecil. Jadi begini ceritanya…

            Meskipun sering dibilang keluar dari batu (dipadakno Sung Go Kong ae) atau anak temuan (rongsokan be’e) aku tak beda dengan bayi-bayi lain yang punya emak dan emakku punya cucu (susu maksude hehe). Sayang, entah karena apa, emakku tak bisa menyusui anak-anaknya, termasuk aku. Menurut cerita emak, aku minum susu hanya seminggu saja dari hari lahirku karena selanjutnya susu emak tak keluar lagi. Saknoe….aku…

            Ya begitulah untuk mengganti asupan giziku akhirnya emak memberiku susu formula. Seperti Mira Lesmana dan Sarah Sechan aku adalah anak Tit! Tit! Tit! (sensor, males aku iklan gratis). Serupa dengan bayi juga anak-anak kecil lainnya, aku dan susu tak terpisahkan. Sampai umur lima tahun aku menggandrungi susu. Aku nggak suka makan. Susu dalam botol, susu dalam gelas hidung babi, pokoknya susu meski aku senangnya tetap susu dalam botol susu yang pake dot.

            Kalau anak lain, juga emak lain, umur segitu pasti sudah mulai dikenalkan makanan lain selain susu tapi aku nggak. Aku cuma mau susu dan emakku nggak bingung meski aku nggak doyan makanan. Mungkin karena aku nggak pernah sakit, selalu lincah ceria juga manis (yang terakhir partai tambahan tapi harap diperhatikan) emakku nggak ambil pusing. Jadi kalau ada yang bilang hanya ASI yang bagus untuk ketahanan tubuh bayi atau anak, bolehlah diragukan pernyataan itu. Aku nggak pernah sakit kecuali sakit hati (cie arek cilik yo iso loro ati rek…) kalau emak atau bapakku  sampai berkata “tidak” atas apa (pun) yang kumau.

            Satu lagi katanya kalo suka ngedot bibirnya bakal dower, setidaknya agak offside posisinya tapi aku nggak tuh. Bibirku masih manis-manis aja sampai sekarang, tipis juga hahaha…(sakjane iki kate nulis opo?). Bukan itu saja, susu juga membantu mengurangi beban emakku. Kalau biasanya anak kecil nangis emak-emak akan langsung repot mendiamkan anaknya, bingung nggak karuan sampai akhirnya malah tengkar sendiri dengan suami atau mertua mereka gara-gara anaknya nggak bisa diem, emakku nggak. Tiap kali aku nangis emak langsung ke dapur, bikin susu trus tinggal dikasih deh trus diem deh. Nggak pake ngrayu, nggak pake nyuruh diem. Gampang dan praktis (tibak’e anake sing gampangan -___-).

            Tapi cerita tinggal cerita, kecintaanku pada susu menemui ajalnya juga. Sebuah akhir yang tak diramalkan sebelumnya, tak terpikirkan juga. Waktu itu emak yang suka banget nonton film siap-siap mau berangkat ke bioskop. Jangan dibayangin bioskopnya kayak bioskop-bioskop sekarang ya. Bioskop di kampungku berupa tembok tanpa atap. Film diproyeksikan ke tembok dan penonton bebas duduk beralas tikar atau koran, suka-suka. Bangunannya permanen bersebelahan dengan gedung pertunjukan yang biasa buat manggung ketoprak atau ludruk. Lanjut, seperti biasa emak sudah menyiapkan botol susuku. Semua sudah dicuci bersih, ada dua, dan sedang dikeringkan. Nah, nggak tahu gimana ceritanya pas mau dibikinin susu eh ternyata botol-botolku bocor. Karena terlanjur sayang dan bibirku ini terlanjur pas sama dotku aku menolak botol lain. Tak ada tangisan waktu itu, emakku juga biasa aja meski sedikit kaget kok bisa botolku bocor barengan. Akhirnya tak ada susu malam itu, aku menolak susuku dimasukkan gelas meski gelas hidung babi. Sejak malam itu aku tak lagi minum susu. Dan entah kebetulan atau apa esoknya barengan sama masuknya aku ke sekolah taman kanak-kanak.

            Begitulah sejak peristiwa itu aku tak lagi berhubungan dengan susu. Tak lagi suka. Rasanya cintaku yang dulu begitu dalam pada susu hilang begitu saja dengan bocornya botol-botol susuku. Kalau disuruh minum susu (nggak ada yang nyuruh juga) aku ogah. Rasanya eneg, muak, sebel, pokoknya enggak! Semacam aku, susu…end gitu lah. Tapi lagi, itu dulu karena sekarang, setelah aku dewasa (lebih tepate tuwek ) aku semacam sadar kalau susu penting untuk badan jadi sedikit demi sedikit mulai mencoba minum susu lagi. Bukan ASI, bukan susu sapi tapi susu kedele karena cuma itu yang nggak eneg di mulutku. Belum banyak juga paling banter seminggu sekali, masih jauh dari cukup.

            Jadi mak inilah cerita kecilku tentang susu yang dulu kucinta dan sedang berusaha kucintai lagi. Mak, ane ikutan giveaway-nya ye mak! Kasih ane hadiah yang satu paket kecantikan dari Oriflame. Ane mau macak asyu pas lebaran nanti mak dengan hadiah dari emak. Ane doain mak masuk surge deh, jarang-jarang lho ane doain orang hahahaha…(rayuan mawut).

Menangin tulisan kakak guweh, kalo nggak guweh cakot loe!

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Aku dan Cucu!

  1. wuakakakakakakkk, itu fotonya yg terakhir bikin mau nangis ketakutan….
    btw, roamin tuh paragraf pertama apaan artinyeee????
    makasih ya rin, udah ikutan #GABlogEmakGaoel…
    tunggu pengumumannya tgl 4 agustus yes… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s