0

Buku: Membaca Nyanyi Sunyi Seorang Pram

Judul                           : Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1)

Penulis                         : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit                       : Hasta Mitra

Tahun Terbit               : 2000, cetakan ketiga (Edisi Pembebasan)

Jumlah Halaman         : 426 halaman

nyanyi-sunyi

 

Ditangkap untuk kemudian dibuang dan ditahan di Pulau Buru tentu bukan sebuah impian apalagi cita-cita semua orang. Begitu pula dengan seorang Pramoedya Ananta Toer. Dipisahkan dengan paksa dari istri dan anak ke sebuah pulau yang dikenal sebagai pulau “angker”, tempat para tahanan politik pemerintah yang berkuasa pada masa itu. Mereka yang dibawa ke Pulau Buru tidak lebih dari orang mati, dipisahkan dari kehidupan.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu adalah catatan Pram yang ditulisnya selama berada di Buru. Bukan fiksi seperti mahakaryanya yang lahir selama di Pulau Buru, tapi curahan hatinya yang ingin dikeluarkan. Yang mati tidak harus bisu, begitu tekadnya. Tanpa tahu kesalahan juga kepastian kapan akan dihadapkan pada pengadilan, bagi Pram juga tapol lainnya, berada di Pulau Buru artinya siap dikenang sebagai nama saja. Pram menulis bukan hanya tentang keadaan di Buru, tentang mereka yang bernasib sama dengannya tapi juga menulis untuk anak-anaknya.

Membaca catatan Pram setebal 426 halaman ini akan sangat sulit menahan air mata. Bukan karena bahasanya menye tentu saja. Yang biasa membaca karya Pram pasti tahu gaya tulisannya. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu merangkul semuanya, sebuah buku harian, catatan peristiwa juga sekaligus surat, meskipun tak terkirim. Bagi seorang anak tulisan Pram ini mengaduk bukan hanya nurani tapi juga hati. Kita akan menyumpah karena kesalnya, mengutuk keras perlakuan tidak adil juga tidak manusia sekaligus tergugu karena haru.

Buku yang dikumpulkan dari coretan-coretan Pram ini, seperti juga karya-karyanya yang lain menunjukkan ketajaman pikirannya. Dengan keadaannya sebagai seorang tahanan politik, terbuang, Pram mampu menghasilkan karya yang sangat layak dibaca bahkan patut dibaca oleh semua genarasi bangsa ini. Bagaimana bangsa ini telah dan masih melewati masa-masa hitam sebagai sebuah bangsa yang sudah merdeka, katanya.

Seperti orang bisu, nyanyian Pram disenandungkan tanpa harapan lebih akan didengar, terdengar. Haknya sebagai manusia telah dilanggar. Menulis adalah pekerjaan untuk menjaga api tetap menyala, menjaga kewarasan. Tapi seperti juga yang dia tulis di buku ini, “Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong” kumpulan catatan ini adalah harapannya, salah satu bentuk perlawanannya.

*Diposting juga di sini