0

Until We Meet Again, Jogja

Kemarin, setelah hampir satu dekade tinggal di kota ini, aku resmi meninggalkan Jogja. Usung-usung barang yang masih ada di kosan setelah resign dari kantor akhir September tahun lalu. Tidak butuh waktu lama, asal angkut saja. Tadinya berpikir masih akan tinggal di kota ini, entah sebagai apa, bagaimana, tapi sepertinya juga bukan pilihan yang tepat saat ini karena selama pandemi hanya bisa sesekali menjenguk kamar di Jogja.

Aku masih ingat ketika datang ke kota ini, berbekal tas ransel dan uang seadanya. Tidur juga nunut di kosan teman yang belum lama dikenal, hampir seminggu lamanya sampai akhirnya dapat kosan sendiri. Waktu itu enteng saja meninggalkan Surabaya yang kutinggali selama sebelas tahun. Tidak ada masalah dengan Surabaya yang meskipun panas, tapi makanannya kusuka. Yang meskipun suara orang bicara seperti ngajak gelut, semuanya kucinta, kota dan seisinya. Begitu juga dengan Jogja. Meskipun kosan semakin sepi karena sejak pandemi ditinggal penghuninya, meskipun teman-teman di kantor pergi satu persatu, teman-teman main juga semakin sulit ditemui. Aku cinta kota ini, bukan tentang romantisasinya yang bertebaran di dunia maya, tapi peyok pada kenyataannya. Di sini ada teman yang sudah seperti keluarga, di sini banyak pengalaman hidup yang hanya bantal di kamar kosan yang tahu apa saja. Pengalaman yang membawaku sampai di titik ini, membuatku tetap berdiri meski kadang babak belur. Terima kasih untuk semua itu.

Sekali lagi aku diingatkan, mungkin disadarkan, bahwa pergi tidak selalu tentang menang atau kalah. Pergi, meninggalkan tidak juga lebih tidak sakit. Aku hanya pergi, saat ini, meninggalkan kota yang telah memberi banyak cerita. Tak perlu berandai tentang nanti, karena hidup selalu penuh dengan kejutan yang meskipun diusahakan, dipersiapkan, seringnya hanya membuat misuh-misuh dan kemudian menertawakan diri sendiri. Sebaiknya begitu, ketika hidup terlalu lucu lebih baik pisuhi saja lalu tertawakan. Tuhan saja suka bercanda, kenapa kita mau-maunya spaneng. Ikuti saja, lakukan apa yang hati inginkan. Jatuh ya bangun. Sakit ya ndang diobati. Luwe ya ndang mangan, kesel yo leren, begitu seterusnya sampai nanti waktumu habis.

Saat ini waktuku habis di kota ini. Saat ini pergi. Dan jika suatu saat datang lagi, aku akan datang dengan hati riang, dengan senang hati karena di kota ini aku yakin masih akan terus ada senyum-senyum hangat yang selalu kurindukan, senyum-senyum mereka yang selama hampir satu dekate ini mengisi hari-hariku. Saat ini biarkan aku pergi. Di hati ini akan selalu ada ruang untuk kalian dan Jogja. Until we meet again. Love Jogja and you, all of you!

Asyu dan Babi sudah mendarat manis di kamar, terima kasih.