0

Rara Beruk, Sebuah Novel

WhatsApp Image 2020-07-01 at 09.57.16

Alkisah di sebuah desa tinggal suami istri miskin yang rajin bekerja dan berdoa. Setelah menikah cukup lama, mereka akhirnya dianugerahi momongan, seorang anak perempuan cantik. Sebelum si jabang bayi lahir, kedua orang tuanya bermimpi di waktu yang bersamaan, mimpi yang sama pula, tentang matahari. Menurut kepercayaan, mimpi tersebut berarti baik, artinya sang anak akan membawa anugerah, keberkahan. Si ayah memberi nama panggilan Rara Beruk, bukan beruk yang berarti sejenis kera, tapi beruk seperti dalam bruk-brukan alias rejekinya akan banyak seperti ditumpahkan.

Mengambil latar kehidupan di zaman keraton-keratonan dan pendudukan Belanda, bahasa yang digunakan penulis cukup moderen. Kalau dilihat dari yang mengeluarkan dan tata bahasanya, buku ini diperuntukkan para pelajar dan disebar ke perpustakaan-perpustakaan. Bahasanya lugas dengan alur maju dan datar. Tidak banyak konflik, cerita seputar siapa yang bekerja keras, baik dan rajin berdoa pasti akan mendapat berkah.

Buku ini kemudian menjadi “mengganggu” bagi saya, pembaca. Buku dengan nilai moral seperti ini memang banyak kubaca, dari mulai karya sastra lama yang dikenalkan di bangku sekolah dulu. Yang kemudian menjadikannya berbeda, buku ini cukup membuat emosi. Entah apa yang ada di benak penulis, tapi di benak pembaca model saya yang telehe gampang lara ini mengganggu. Tokoh utama yang kemudian tumbuh menjadi sangat cantik menarik perhatian seorang penguasa. Si penguasa yang terpesona sampai melalaikan tugas utamanya dan memilih menyendiri demi bisa melamunkan dan kemudian bercinta dengan pujaan hati.

Cinta tidak pernah salah, kurang lebih begitu. Laki-laki, apalagi penguasa, sangat wajar jika memiliki lebih dari satu pendamping. Sang istri yang merasa dikhianati sakit hati dan kemudian menggerogoti fisiknya sampai sekarat. Keluarga yang diharapkannya mampu menjadi pendamping, bersandar, ternyata memiliki “nilai” yang sama. Bahwa tindakan sang suami adalah wajar dan sepatutnya diterima. Lebih mengganggu lagi karena sang istri ini bahkan sampai dibohongi oleh orang-orang kepercayaannya yang ingin membantu sang suami bersama kekasih barunya. Lebih edan lagi, istri yang sekarat ini kemudian malah meminta maaf karena pernah protes dan tidak terima diduakan. Iki karepe yok opo? Sebuah nilai dan akhir cerita yang sangat luar biasa, luar biasa membuat emosi.

Tidak akan bercerita lebih banyak tentang buku ini karena nanti spoiler. Hanya mengeluarkan uneg-uneg karena yang seperti ini masih banyak terjadi dan tersebar. Bukan untuk memprotes buku apalagi melarang dibaca. Justru sebaliknya, yang seperti ini perlu dibaca untuk menambah wawasan bahwa nilai seperti ini banyak dianut dan diamini orang. Setuju tidak setuju ya diungkapkan saja, seperti tulisan ini. Yang setuju dengan nilai bahwa perempuan harus nrimo dan tidak boleh protes apalagi menentang cinta lain suami ya monggo. Yang telehe lara dan menentang nilai seperti ini ya boleh juga tho. Bebas. Hanya menyayangkan yang seperti ini menurut saya pribadi tidak cocok untuk target usia pelajar.