0

Buku: Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan

Judul Buku                  : Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan

Penulis                         : Soe Hok Gie

Penerbit                       : Bentang

Tahun Terbit                : 2005 (cetakan kedua)

Jumlah Halaman         : v + 321 halaman

175206_b3c1a2d8-1103-11e5-835e-f80687772fba

“Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” adalah tulisan Soe Hok Gie yang berasal dari skripsinya untuk mendapatkan gelar sarjana dari Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Dalam tulisannya ini Gie berbicara tentang kisah pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948, pemberontakan kedua setelah yang mereka lakukan pada tahun 1926. Gie melakukan rangkaian penelitian untuk mencari tahu penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

Ada enam bab dalam buku ini yang dibuka dengan bab pertama yang berisi tentang tokoh dan panggung di mana Gie menjabarkan mengenai kaum komunis revolusioner, tokoh-tokoh komunis dari mahasiswa baik yang di dalam maupun di luar negeri juga tentang grup dan kader-kader PKI. Pada bab selanjutnya Gie membahas tentang grup Amir, Mr. Amir Sjarifudin, seorang pegawai Departemen Ekonomi di Batavia yang juga Ketua Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang merupakan sebuah partai kiri yang antifasis. Di bab kedua juga dibahas kelompok-kelompok lain di komunis, pemuda-pemuda komunis sampai partai komunis sesudah proklamasi.

Pandangan-pandangan tokoh besar seperti Soetan Sjahrir, Tan Malaka tentang revolusi Indonesia juga menjadi bahasan Gie di buku ini. Tentu saja tokoh PKI seperti Musso dan DN Aidit juga mempunyai bagian di buku ini. Aidit, salah satu tokoh PKI yang menulis kekecewaannya di sebuah koran pada tahun 1947. Ia menyebut kaum buruh dan kaum tani adalah pihak yang paling menderita. Mereka tidak mampu berpakaian sederhana, tidak cukup makan dan tidak mendapat kesenangan sekadarnya sedangkan para pemimpin yang memegang jabatan tinggi justru hidup senang dan mewah. Pemimpin yang disebut tidak mau diajak bertempur dulu, kini menjadi wakil dari rakyat yang tidak pernah mereka kenal.

Kondisi masyarakat, kondisi sosial sebelum pemberontakan ini terjadi juga coba dijabarkan oleh Soe Hok Gie di buku ini. Kondisi masyarakat bawah yang tertekan, frustasi itulah yang dilihat oleh tokoh-tokoh PKI yang kemudian mencoba merebut pemerintahan republik di Madiun. Tokoh komunis kemudian menamai pemerintahan Madiun dengan Fron Nasional atas ide dari Musso, yaitu pemerintahan dari bawah, pemerintahan yang berakar dalam masyarakat.

Tidak cukup mendapat dukungan, untuk lebih menarik massa pembela pemerintahan Fron Nasional, pajak upah dihapuskan. Tokoh-tokoh komunis berpidato dan mengobarkan sikap anti kepada Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta. Pun begitu karena kurang dukungan dan bahkan gerakan tersebut tidak diketahui oleh PKI dari daerah lain, pemerintahan Fron Nasional dapat cepat dilumpuhkan. Tokoh-tokoh PKI pun kemudian ditangkap di Yogyakarta.

Lewat “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” kita bisa melihat kembali sejarah, terutama gerakan partai komunis, khususnya di sekitar tahun 1948. Sebuah peristiwa besar yang sering ditulis juga dibahas tentang pemberontakan komunis di Indonesia dijabarkan oleh Soe Hok Gie dengan menampilkan banyak sisi. Bahwa apa yang terjadi pada masa itu bukan hanya persoalan ideologi semata tapi lebih dari itu bisa kembali kita kaji salah satunya dari buku ini.