0

Cerpen: Andhira

 

 

Kubaca sekali lagi pesan singkat di telepon genggamku. Sejak mengirimkannya kemarin sore, entah sudah berapa kali kubaca pesan itu. Tidak ada yang berubah tentu saja, tidak susunan kata atau rasanya. Kalimat singkat yang hanya terdiri dari tiga kata itu benar-benar mengusikku. Kalimat yang kususun sendiri, kubaca berulang sebelum kukirimkan, kalimat yang kemudian sempat aku sesali setelah menekan tombol kirim di layar telepon genggamku.

Dan di sinilah aku siang ini, masih mengusik sebaris kalimat di telepon genggamku. Pesan singkat yang dibalas setelah tiga jam aku kirimkan, membuatku mengutuk diri sendiri. Respon jawaban yang terlalu lama, menurutku, membuatku bukan hanya kecewa, marah tapi sekali lagi menyesal. Membuatku mempertanyakan kembali tindakanku mengirimkan pesan singkat itu. Tepatkah tindakanku, pertanyaan yang berulang di kepalaku selama tiga jam menunggu. Apakah pesanku dibaca pada frekuensi yang sama? Apakah dia membacanya berulang kali sambil mencoba menyusun kalimat untuk menjawab pesanku? Pertanyaan-pertanyaan yang belum kutahu jawabnya, yang mungkin akan kucari tahu jawabnya segera, tapi mungkin juga tidak.

Pesanku sudah dijawab. Tidak kalah singkat. Tak bisa kutebak perasaannya saat menuliskan pesan balasan itu. Tidak ada tanda baca, tidak ada emoticon. Datar saja, sedatar pesan yang kukirim kepadanya. Apakah kami sedang berperang? Apakah kami sedang adu kekuatan? Atau kami sama-sama berusaha menutupi perasaan kami? Aku tidak tahu. Aku belum tahu. Aku mungkin akan mencari tahu, mungkin juga tidak.

Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya, persis seperti permintaanku di pesan yang kukirimkan kemarin. Iya, dia membiarkanku menunggu seperti kemarin aku menunggu balasan pesan darinya. Dia ingin mempermainkanku? Membuatku terlihat seperti orang yang kalah? Coba saja kalau dia berani. Aku akan segera menjumpainya dan akan kulihat sekuat apa dirinya.

“Maaf menunggu lama.”

Deg. Rasanya sia-sia saja usahaku dari semalam mengatur perasaan. Mendengar suaranya yang entah sudah berapa lama tak kudengar, hatiku sudah tak karuan. Kupaksa bibirku tersenyum, tipis, sebagai balasan. Tak kutatap matanya, hanya wajahku mendongak sedikit. Kumainkan telepon genggamku, mencoba mencari pengalihan. Sebuah tangan, dengan otot yang jelas menonjol, berkelebat tertangkap mataku. Tangan itu meletakkan sebuah mangkuk dengan isi yang belum bisa kutebak.

“Dimakan, Andhira.”

Dia masih sama. Menyebutku dengan nama penuh, tidak sepotong seperti kebanyakan keluarga atau teman-temanku. Aku mengangguk, meski belum ada niat menyentuh sendok di samping mangkuk itu. Suara kursi berderit, menandakan sedang ditarik. Selanjutnya bisa ditebak meskipun tak kulihat langsung, dia duduk tepat di hadapanku.

“Kamu sehat?”

Entah kenapa aku mengiyakan ajakannya bertemu di rumah ini. Aku bisa saja menolak dan memilih tempat lain yang lebih netral. Tempat lain yang lebih nyaman untukku, mungkin juga untuknya. Tempat lain yang lebih bebas. Tempat lain yang tidak membuatku terlihat kalah, menyerah. Aku tidak sedang menyerah, aku belum kalah. Bahkan aku berpikir dengan menerima ajakannya bertemu di rumah ini aku sudah menunjukkan aku lebih kuat darinya, lebih berani.

“Andhira.”

Hampir aku tergagap. Pertanyaannya belum lagi kujawab, dia kembali menyebut namaku. Kuletakkan telepon genggamku ke atas meja kayu bundar di depanku. Bukan jati, meja itu meskipun tidak bisa dibilang kotor tapi tampak rapuh. Taplak di atasnya juga sekadarnya saja.

“Iya, sehat.”

Kuangkat kepalaku sedikit. Aku ingin melihat wajahnya. Masihkah wajah itu sama seperti yang selama ini ada dalam bayangan kecilku. Dia tersenyum padaku, tidak kalah tipis. Bibirnya terlihat kering. Wajahnya lebih hitam, dengan beberapa keriput.

“Bagaimana pekerjaanmu. Menyenangkan?”

Tidak ada pekerjaan yang menyenangkan selama itu bekerja untuk orang lain, bagiku. Mungkin bukan menyenangkan, tapi mencoba menerima dan menjalani saja. Selebihnya untuk kesenangan harus mencari di tempat lain. Di tempat yang tidak ada tuntutan, deadline, dan gosip-gosip beterbangan. Iya, tempat seperti itu tak pernah menyenangkan untukku. Aku hanya bertahan karena aku butuh uang, aku butuh pekerjaan yang membuatku tidak disepelekan, tidak dianggap sia-sia.

Aku tersenyum, kali ini lebih lebar. Tidak perlu kujawab pertanyaan basa-basi semacam itu. Kurasa dia pun tak akan menuntut jawaban. Dia toh tak pernah tahu apa pekerjaanku.

“Kamu semakin cantik.”

Untung aku tidak sedang minum atau mengunyah apapun. Dia bilang aku cantik, sebuah kata yang terdengar sangat basi buatku. Orang bilang wanita suka dibilang cantik, aku tidak. Aku tidak pernah melihat manfaat dari sebuah kecantikan. Oh iya, aku wanita, aku bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa menangis diam-diam.

Tentang cantik, kecantikan, orang bilang aku mendapatkannya dari ibuku. Rambut hitamku, kulit kuningku, hidung mancungku, semua dari ibuku. Kecantikan yang tidak bisa menyelamatkan ibuku. Kecantikan yang meskipun tak pudar, tak bisa membuatnya mempertahankan cintanya.

“Kamu masih marah? Ah, tentu saja.”

Dia bertanya dan dia menjawab sendiri pertanyaannya. Kubiarkan saja. Aku sendiri belum benar-benar mampu mengendalikan perasaanku. Rasanya ingin kukeluarkan bungkus rokok dari tasku, tapi kutahan keras keinginanku itu. Dia masih dengan posisinya, kedua tangannya menjulur pada pegangan kursi. Dia tidak lebih kurus, tak juga gemuk. Dia hanya terlihat lebih tua dari umurnya.

Percakapan satu arah itu kemudian berhenti. Kami hanya duduk, diam, dengan pikiran masing-masing. Sesekali suara tangis bocah terdengar. Tidak keras, semacam rengekan saja. Dari suaranya kutebak umurnya belum lebih dari lima tahun. Entah anak yang keberapa. Suara wanita, pelan, juga terdengar, merayu si bocah agar tidak terus merengek.

“Kamu seperti ibumu, cantik.”

Dia mengulang kata yang sama, kali ini dengan membawa ibuku.

“Kurasa tidak.”

Kali ini kujawab meskipun itu bukan pertanyaan.

“Iya, mungkin tidak. Hanya rupamu.”

Aku tersenyum, bukan karena senang tentu saja. Kurasa dia bisa menangkap maksud senyumku.

“Waktu tidak bisa berbalik, dia terus berjalan, maju.”

“Bukan berarti tidak ada kesempatan untuk memperbaiki,” kataku.

“Iya, tentu saja. Aku yang tidak mampu.”

Senyumku semakin lebar, semakin sinis kurasa karena aku merasakan pahitnya sampai di lidahku.

“Di sini aku bisa memulai dari awal. Tidak ada yang mencemoohku, setidaknya tidak di depanku.”

“Tentu saja.”

“Tidak pernah mudah, Andhira, andai kamu berpikir demikian. Semua malamku hanya untuk menyesali apa yang telah terjadi…”

“Tanpa sedikit pun niat atau keberanian untuk menghadapi.”

“Bukan seperti itu. Aku selalu mengingatmu, ibumu.”

“Seolah-olah yang diingat itu sudah terkubur, tidak bisa lagi ditemui, hanya tinggal nama yang tidak lagi merasakan apapun termasuk sakit? Seperti itu?”

“Tidak.  Bukan seperti itu…”

Dia tak melanjutkan kata-katanya. Aku yang tadinya kesulitan menggerakkan bibir untuk mengeluarkan kata-kata tiba-tiba saja begitu menggebu. Iya, aku marah.

“Kamu bahkan tidak mirip denganku, kamu lebih kuat, lebih berani, seperti namamu.”
“Mungkin ada gunanya memberiku nama ini, setidaknya ada hal baik yang ditinggalkan.”

Dia menghela nafas cukup panjang. Aku lihat dadanya naik cukup lama. Dada yang dibungkus kaos yang kurasa warna aslinya putih itu.

“Kamu adalah kebaikan yang dianugerahkan pada kami…”

“Kebaikan yang hampir tidak ada gunanya.”

“Kamu begitu sinis.”

“Begitukah?”

Lagi-lagi aku tersenyum. Ibuku tidak akan pernah membiarkanku berbicara seperti ini, tidak pada laki-laki di hadapanku. Ibuku tidak akan membiarkan kaos putih yang membungkus laki-laki di depanku ini kehilangkan warna aslinya. Ibuku tak akan membiarkan laki-laki di depanku ini terlihat lemah, buruk dan hina, seperti yang sedang terlihat di mataku.

“Bukan salahmu. Kamu punya hak untuk itu. Tak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semuanya, membuatmu kembali menjadi Andhira kecilku. Kamu sudah dewasa dan terlalu banyak yang kulewatkan.”

Apakah ini pernyataan kekalahan atau hanya alasan, hanya dia yang tahu. Aku masih belum puas. Dada ini rasanya sesak meskipun masih mampu kukendalikan.

“Seharusnya aku datang, seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu, ibumu. Aku memang pengecut.”

Berbuat kesalahan sudah kodratnya manusia, semua orang juga begitu. Tapi berbuat kesalahan kemudian meninggalkan dan menghilang seolah-olah orang yang ditinggalkan ikut hilang, tak pernah ada, mau disebut apa. Bertahun-tahun aku harus hidup dengan perasaan seperti itu, perasaan sebagai orang yang tak pernah diinginkan, tidak oleh orang di hadapanku, mungkin juga orang lain, tapi bukan oleh ibuku.

Tidak salah dia menamaiku Andhira. Kuat dan berani, begitu cerita ibuku tentang arti namaku ini. Mungkin dia sudah tahu kalau gadis kecil itu hanya akan ditinggalkannya saat dia masih begitu belia. Mungkin dia juga tahu kalau gadis kecil itu harus kuat dan berani hidup hanya bersama ibunya saat dia memutuskan pergi begitu saja.

Tak akan kutanyakan salahku, salah ibuku, karena aku tahu pasti jawabnya, tidak ada. Dia yang pergi, bukan kami. Dia yang tidak kembali, kami tidak pernah pergi kemana-mana. Kami masih menunggu dan berharap bahwa laki-laki yang sedang goyah itu akan kembali bersama kami. Hanya mimpiku dan ibuku karena laki-laki itu tidak pernah kembali.

Sekian tahun aku tidak pernah bertanya, menanyakan. Aku sadar pertanyaanku hanya akan menyakiti ibuku, satu-satunya wanita yang membuatku kuat terus berdiri tanpa kehadiran seorang ayah. Jika saat ini aku menemuinya, ibuku tak perlu tahu, tak akan pernah tahu. Aku hanya tak ingin terus hidup dengan bayangan. Aku tak ingin sepertinya, lari. Dia masalahku, kurasa juga akan segera menjadi masa lalu, dan aku di sini untuk menghadapinya.

Tidak ada orang yang bisa hidup dengan rasa benci, tidak dengan tenang. Aku hanya ingin melepaskannya. Ada bagian yang akan terus ada di diriku, tak akan bisa hilang atau dihilangkan. Dia mengalir di diriku dan aku tak ingin dia selamanya menjadi racun pun sebagai hantu. Aku hanya ingin menemuinya dan melihat reaksi apa yang bisa dilakukan oleh diriku padanya, saat kami berhadapan.

“Kamu tak mau makan kolak itu?”

Entah berapa menit aku bicara dengan diriku sendiri sebelum suaranya kembali terdengar. Aku mengangguk kemudian. Rupanya mangkuk itu berisi kolak. Ibuku, sekali lagi, tak akan membuat masakan yang bahkan tidak jelas rupanya seperti itu. Entah rasanya, tapi melihat penampilannya saja orang tidak akan tertarik. Santannya pecah dengan isi yang tak terlihat jelas, entah singkong, entah pisang, atau mungkin memang hanya kuah saja.

Aku mengambil sendok. Aku sudah bilang pada diriku sendiri, jauh sebelum kukirimkan pesan singkat itu, bahwa aku tidak akan seperti dirinya. Aku kuat dan aku berani. Aku tak akan membuat sedih wanita yang telah melahirkanku dengan menghina laki-laki yang dia cintai.

Satu sendok penuh kumasukkan ke mulutku. Sendokku tak menyentuh isian, hanya kuah, tapi aku tak peduli. Tak kulihat wajahnya, aku fokus pada rasa di lidahku. Tak akan kubandingkan dengan buatan ibuku, itu akan sangat menghina. Ibuku adalah koki terbaik di dunia. Sendokan pertama dan aku merasa sedikit lega. Kurasa laki-laki di hadapanku tersenyum.

“Tidak seperti buatan ibumu.”

Dia tahu betul isi kepalaku. Tentu saja, darah kami sama. Ikatan seperti ini tak akan terhapus hanya karena lama tak bertemu. Kuangkat sendok kedua, masih dengan rasa yang sama di lidah, tapi tidak di tenggorokan. Ada yang sakit di sana. Bukan, aku tidak tersedak, aku hanya kesulitan menelan.

Sendokan ketiga aku sudah tak bisa menerjemahkan. Tanganku bergerak bagai mesin saja, dari mangkuk ke mulut juga sebaliknya. Gerakan tangan yang berbanding terbalik dengan gerakan di dalam dadaku yang kian berat, sesak. Aku tak ingat pada sendokan keberapa air mataku tak lagi terbendung. Kolak yang harusnya manis itu bercampur tetesan air mataku.

“Maafkan ayah.”

Sayup kudengar kata-katanya. Aku masih sibuk menyendok dengan air mata yang tak henti mengalir. Wajah mungil muncul di balik pintu, takut-takut, sempat terlihat dari ujung mataku yang basah. Wajah kecil yang kemudian menghilang seiring wanita muda mengangkatnya, membawanya menjauh. Tak kuingat lagi sendokan-sendokan lain, yang kurasakan kemudian sebuah dekapan yang dulu kurasakan di setiap malam sebelum tidurku.

“Kamu Andhira, kamu kuat dan berani.”

Sebaris kalimat yang kudengar lembut di telinga kecilku. Sebelum sebuah kecupan mendarat di kening dan pelukan hangat sampai terpejamnya mataku.

Advertisements