(Nasib) Anak Kos

34448_141478635868085_728128_n

Teman-teman di Surabaya

Menjadi anak kos sejak SMA sampai sekarang sudah banyak tahun dilalui juga hidup dijalani di ruangan dengan ukuran yang kurang lebih sama dari tahun ke tahun, 3×3 meter. Tadi pagi, di antara rutinitas yang kurang lebih sama tiba-tiba saja terbersit sebuah, sebut saja pikiran, tentang beda rasa jadi anak kos dulu dan sekarang. Status yang masih sama sebagai anak rantau, menjalani hidup jauh dari keluarga, tapi ada rasa yang selalu berbeda tiap tahunnya.

Bertemu teman baru, ditinggal teman lama, sudah biasa. Dijuteki anak kos senior, disegani anak kos junior, biasa juga. Dapat ibu kos yang baik, pelit atau tidak peduli, sudah pernah dirasakan. Dapat teman sekamar yang suka ribut, suka bokep, suka telepon-teleponan mesum sama pacarnya atau tak punya teman sekamar juga sudah pernah dilalui. Banyak cerita tentang anak kos. Mereka yang pernah kos pasti tahu betul rasanya ketika berhadapan dengan apa yang kusebutkan di atas.

Kali ini mau mencoba membagi pengalaman sebagai anak kos senior alias kelamaan antara kehidupan kos dulu dan sekarang dari beberapa hal berikut:

  1. Kamar

    Dulu jarang sekali satu kamar kos dipakai oleh satu orang. Kalau pun ada hampir bisa dipastikan penghuninya adalah anak orang berada. Satu kamar kos dengan ukuran bervariasi mulai 2,5 x 3 meter sampai yang agak lapang 3 x 4 meter biasa diisi dua atau tiga anak. Ada yang satu kasur dipakai berdua, sampingan. Ada yang pakai kasur bertingkat. Kasur sudah disediakan oleh ibu kos.

    Kamar mandi luar, dipakai keroyokan dengan penghuni kos lain. Jadi kalau cuma masalah antri mandi atau ke belakang sudah biasa. Kamar mandi mulai ramai sejak subuh. Biasanya masing-masing anak suka naruh gayung untuk “menandai” penggunaan kamar mandi alias antrian. Tidak ada AC, cukup kipas bawaan masing-masing yang dipakai bersamaan. Hiasan kamar bisa di dinding dari sisi masing-masing, misal masang foto diri sendiri, artis atau gebetan.

    Sekarang jarang menemukan kamar kos yang dipakai keroyokan. Kebanyakan satu kamar untuk satu anak. Beberapa kos juga memang menerapkan hal itu, satu kamar tidak boleh diisi dua anak. Kasurnya model spring bed atau kasur busa yang lumayan bagus kualitasnya. Beberapa masih ada juga yang pakai kasur kapuk atau busa tipis. Ada yang dari ibu kos, ada yang harus bawa sendiri.

    Kamar mandi kebanyakan di dalam dengan tambahan AC. Tidak perlu ngantri mandi, nyuci atau pusing kalau kebelet ke belakang. Bebas, kapan saja. Kalau pun tidak pakai AC, kipas bisa bawa sendiri dan tidak perlu rebutan terutama jika kipasnya yang tidak bisa geleng-geleng. Semua isi kamar dikuasai sendiri dan bisa dikreasi sendiri termasuk diberantakin sendiri.

    Sudah pernah merasakan sekamar bertiga dua kali. Sekamar berdua sekian tahun dan baru tiga tahun terakhir sekamar sendiri. Rebutan kipas karena panasnya cuaca sampai malam pun sudah biasa. Gara-gara kipas yang tidak bisa geleng-geleng alias hanya bisa searah. Semalaman aku dan teman sekamar gantian bangun hanya untuk mengarahkan kipas ke badan masing-masing.

    kos-rame

    Mendapat kejutan saat ulang tahun, Yogyakarta

  2. Privasi

    Dulu karena kamarnya pun dipakai ramai-ramai agak susah mendapat privasi. Punya makanan ya ditaruh di kamar, jadi teman lain pun tahu dan “punya hak” mengambil. Sedang sedih, nangis, ya pasti ketahuan. Meskipun sembunyi di bawah bantal atau selimut, yang seperti ini sulit sekali disembunyikan. Ratapan anak kos yang biasa seputar sekolah, pacar atau keluarga akan menjadi masalah bersama.

    Bagi yang sekamar sendiri pun, punya privasi lebih, masalah anak kos cepat atau lambat jadi masalah seluruh anak kos. Gampang sekali ketahuan. Mulai dari curhat ke satu orang, biasanya akan merembet ke teman yang lain. Baik dari sisi positif maupun negatif, seperti dibantu memecahkan masalah atau hanya di batas “dirasani.

    Sekarang privasi lebih terjamin. Seharian nangis pun akan jarang yang tahu selama bisa keluar dengan muka yang bersih dari bengkak, aman. Kalau pun tidak gampang sekali mengakali dengan make up, sudah pada pintar dandan. Masalah jarang dicurhatkan ke sesama penghuni, lebih memilih ke teman yang tidak tinggal di kos yang sama. Datang dan langsung masuk kamar tanpa basa-basi atau saling menyapa dengan penghuni lain juga sudah banyak ditemukan di kehidupan anak kos sekarang ini. Jadi tidak heran jika ada kasus yang hamil dan melahirkan di kamar kos tanpa ada anak kos lain yang tahu. Atau seperti kasus dimana seorang anak kos ditemukan meninggal di dalam kamar setelah beberapa hari, bukan hal yang tidak wajar sekarang, karena bagi sebagian anak kos sekarang, kamarmu adalah istanamu yang tak bisa, tak boleh, ditembus orang lain.

    Pertama kos dan nangis bombay semalaman gara-gara tidak biasa pernah dirasakan. Teman kos pun hanya bisa membatin dan menanyakan esok paginya. Mungkin dia sebal juga karena tangisanku yang mengganggu. Pernah juga punya teman sekamar yang suka sekali telpon-telpon sama pacarnya malam-malam dengan volume suara yang tidak pelan. Perbedaan antara suka tidur gelap dan terang dengan teman sekamar juga biasa dan bisa diatasi. Memasang foto gebetan di dinding yang menjadi bagian dari sisi kasur pun pernah dilakukan dan tentu saja diketahui teman sekamar. Malu? Sudah biasa.

  3. Uang Saku

    Dulu karena harga yang jika dibanding sekarang lebih murah ya otomatis uang saku tidak bisa dibandingkan secara nominal, tapi kalau secara gaya hidup dan apa-apa yang mampu dibeli anak kos masih bisa. Uang saku dari orang tua dipergunakan sehemat-hematnya untuk kebutuhan utama, makan dan biaya sekolah. Jarang sekali terlibat utang-utangan karena uang saku dari ortu masing-masing hanya cukup untuk diri sendiri, kadang kurang.

    Jika ingin beli sesuatu atau pergi ke suatu acara, nonton misalnya, harus menabung atau biasanya cari beasiswa. Yang seperti itu biasa dimanfaatkan untuk membiayai hiburan, selain untuk tambahan beli keperluan sekolah.

    Sekarang kebutuhan pokok semakin bertambah, meluas. Baju dan pulsa adalah kebutuhan pokok yang menjadi standar minimal yang harus dipenuhi per bulan, terutama pulsa. Bagi yang sudah bekerja, utang-utangan juga biasa. Uang yang bukan lagi dari orang tua lebih “gampang” dikeluarkan baik untuk kebutuhan sendiri atau kebutuhan teman. Makan ke tempat yang lagi hits menjadi agenda baru yang setidaknya dicoba sekali sebulan untuk menambah foto di akun media sosial. Seperti juga kunjungan ke tempat wisata baru, menjadikan uang saku lebih menggembung jika dibanding dulu.

    Dulu kalau mau jajan nunggu beasiswa keluar dulu, kalau pun tidak milih tanggal muda setelah ortu gajian. Baju dan segala keperluan biasa dibelikan dari rumah, tinggal bawa. Setiap pulang baliknya pasti bawaan berlebih, diisi segala macam makanan dari rumah. Sekarang lebih bisa mengatur sendiri. Puasa bukan karena demi meningkatkan keimanan, halah, tapi karena menghemat juga bukan hal istimewa. Yang seperti ini sampai sekarang pun masih sering mendengar dilakukan oleh anak-anak kos.

Masih banyak hal-hal lain yang dirasakan berbeda antara anak kos dulu dan sekarang, secara pribadi. Tapi sementara ini saja dulu, kapan-kapan mungkin disambung lagi. Nulis segini saja sudah kangen, apalagi kalau diteruskan. Yang pasti, seperti juga disebutkan di atas, pengalaman seperti ini masing-masing orang pastinya punya perbedaan. Meskipun sama-sama menjalani hidup sebagai anak kos, pengalaman satu orang dengan yang lain pasti akan menemukan keunikan tersendiri.

Kalau pun ada yang tak pernah berubah adalah mie instan. Makanan kemasan ini adalah teman anak kos dari dulu sampai sekarang. Saat tanggal semakin tua, uang saku semakin menipis, mie instan adalah pilihan untuk mengisi perut. Mie instan yang sering berpindah tangan, dibeli A dan dipakai B, dimasak oleh C dan dihabiskan oleh D, anak kos mana yang tak pernah merasakan? Kalau aku sih, sudah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s