Manusia dan Drama

Menurut KBBI online, manusia/ma·nu·sia/ n makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; …

Sedang kalau menurut Wikipedia, manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi yang, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.

pemain-lonceng-cinta

Bagaimana dengan drama?

KBBI online mendefinisikan drama sebagai berikut:

/dra·ma/ n Sas 1 komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan: dia gemar menonton –; 2 cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater; 3 cak kejadian yang menyedihkan;…

Wikipedia mengatakan drama merupakan genre (jenis) karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak.[1][2] [3] Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan.[1] Kisah dan cerita dalam drama memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditujukan untuk pementasan teater.

Kalau pertanyaan selanjutnya mana yang lebih dulu muncul, manusia atau drama pastinya bisa dijawab manusia lahir lebih dulu dari drama, drama diciptakan oleh manusia. Tapi umurnya? Mungkin sama. Sejak manusia mulai muncul dia mungkin mulai dramak. Halah. Drama mulai mengalami penyempitan arti, sesuatu yang kemudian mempunyai kecenderungan kurang positif, terutama jika diucapkan untuk menunjuk ke kelakuan manusia.

sinopsis-lonceng-cinta-episode-35-antv-minggu-9-oktober-2016-1

Berbicara tentang drama, salah satu yang mudah diakses oleh sebagian besar manusia aku rasa adalah sinetron dan teman-teman sejenisnya, drama yang ditampilkan di televisi kita. Sinetron adalah salah satu jenis drama yang ditayangkan di media elektronik. Isinya? Drama, mulai dari drama percintaan, kehidupan, gabungan keduanya. Silakan dikoreksi kalau aku salah.

Pecinta drama televisi atau sinetron jangan ditanya lagi. Banyak, meskipun kalau menurutku lebih sering diasosiasikan ke ibu-ibu dan anak-anak. Ibu-ibu yang kesehariannya sibuk dengan rumah tangga sering dituduh sebagai pecinta sinetron. Anak-anak ikut menonton karena hanya mengikuti yang disetel ibu-ibu mereka. Apa benar seperti itu? Bapak-bapak, mas-mas dan mbak-mbak bagaimana? Yang sering dilihat dan didengar mereka aman dari tuduhan itu. Kenyataannya? Tidak sedikit juga yang menggemari sinetron televisi baik yang dari dalam maupun luar negeri.

Kenapa suka sinetron yang banyak dan hampir selalu menampilkan dramak, tidak jarang atau sebut saja sering menampilkan sesuatu secara berlebihan, tidak masuk akal? Berlebihan, tidak masuk akal? Sepertinya bisa kembali dikaji ulang. Coba buka saja akun media sosial kita, seberapa banyak status, berita, postingan, komentar yang membuat kita geleng-geleng kepala karena kita rasa berlebihan dan tidak masuk akal. Sedikit atau banyak? Bukan suka tapi mungkin karena kita sudah menjadi bagiannya, sesuatu yang tidak asing akan lebih mudah masuk dan diterima.

shabir-ahluwalia-as-abhishek-or-abhi-in-kumkum-bhagya

Mas Abhi

Ada yang bilang, kita adalah apa yang kita pikirkan. Ada yang bilang, kita adalah apa yang kita makan, konsumsi. Kalau kemudian kita jadi manusia-manusia penuh dramak, bukankah cukup masuk akal, tidak berlebihan? Serius ya? Niatnya tadi tidak, wong aku mau mengenalkan Mas Abhi, salah satu tokoh utama di sinetron impor yang hampir setiap sore membuatku malas beranjak. Suka? Iya. Bahagia? Tidak, lebih sering misuhnya. Tapi, dia membuatku geregetan alias gemas. Bukan karena ceritanya yang bagus atau beda. Hampir semua kisah sinetron seperti ini modelnya sama. Karena terbiasa. Terlanjur lihat, kemudian ingin tahu, akhirnya mengikuti. Kalau brewokan itu kan hanya bonus saja. Halah!

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kamu merasakan gemas yang sama?

Advertisements

One thought on “Manusia dan Drama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s