Berwisata Sejarah di Benteng Van der Wijck, Gombong

SONY DSC

Siang itu cuaca cukup bersahabat saat saya dan seorang teman saya memasuki wilayah Kebumen. Hujan yang mengguyur malam sebelumnya dan menyisakan gerimis di pagi hari telah berhenti. Langit sedikit mendung, sehingga matahari yang bersinar siang itu tidak menyengat. Meskipun sebelumnya sudah melihat papan petunjuk menuju tempat yang akan kami tuju, kami sempat bingung dan bertanya pada penjual makanan di pinggir jalan. Tujuan kami adalah Benteng Van der Wijck.

Benteng Van der Wijck terletak di jalan Sapta Marga Gombong, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Nama benteng ini kami baca secara tidak sengaja di sebuah papan petunjuk arah saat dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Purwokerto. Maka saat urusan saya dan teman saya selesai, kami pun memutuskan untuk berwisata ke tempat ini.

Menuju lokasi benteng tidaklah sulit. Benteng Van der Wijck tidak jauh dari jalan utama, hanya masuk sekitar 2 km saja. Parkir yang cukup luas berada di bagian depan samping pintu masuk lokasi wisata benteng. Pengunjung yang ingin berwisata ke benteng dikenakan tiket sebesar Rp25.000,- per orang.

SONY DSC

Begitu masuk dari pintu gerbang pengunjung tidak bisa langsung masuk ke benteng. Pengunjung akan melewati beberapa bangunan di kawasan wisata ini, seperti Kampoeng Kuliner yang merupakan kantin, hotel wisata dengan balai pertemuan yang cukup luas juga bangunan yang mirip perkantoran. Di depan pintu gerbang lokasi wisata ini tampak dua buah kereta mini terparkir rapi juga sebuah kereta kencana yang sudah dimodifikasi, tidak menggunakan kuda sungguhan.

Siang itu tak banyak pengunjung di Benteng Van der Wijck. Dua orang gadis cilik tampak bermain ayunan dan bergantian mencoba permainan lain yang banyak terdapat di lokasi wisata benteng ini. Beberapa pengunjung kami lihat tampak sedang asyik mengambil foto diri mereka. Benteng ini kemarin memang tampak lengang. Beberapa petugas tampak duduk menunggu pengunjung di pos masing-masing.

img-20160928-wa00191

Ada sebuah patung dinosaurus besar menyambut begitu masuk ke kawasan wisata benteng. Beberapa patung tokoh kartun juga tampak. Ada yang sebagai pajangan, ada yang dijadikan papan petunjuk atau nama lokasi. Di kawasan wisata benteng ini juga terdapat tempat bermain air atau water park mini dan kolam tempat main sepeda air.

Tak ingin berlama-lama di luar, saya dan teman saya memutuskan segera masuk ke benteng. Tulisan yang cukup besar dengan cat berwarna putih menjadi petunjuk tentang sejarah benteng ini. “Aku Dibangun Tahun 1818.” Benteng yang merupakan benteng pertahanan peninggalan zaman kolonial Belanda ini konon dulunya bernama Fort Cochius. Dinamai demikian karena Fort Cochius adalah komandan perang Hindia Belanda yang memimpin Belanda di Gombong pada masa perang Diponegoro tahun 1825 sampai 1830.

SONY DSC

Benteng berbentuk segi delapan ini sudah mengalami pemugaran. Cat luarnya berwarna merah bata, sedang untuk bagian dalam ruangan-ruangannya berwarna putih dengan kombinasi hijau. Konon luas benteng ini mencapai 3606,625 m2 dengan tinggi benteng sekitar 9,67 m. Benteng ini terdiri dari 16 barak dengan ukuran yang cukup besar. Melihat banyaknya pintu dan jendela terbuka mungkin bagi sebagian pengunjung akan mengingatkan pada Lawang Sewu yang ada di Semarang.

Pada sisi kiri dan kanan gerbang benteng terdapat ruangan yang memajang foto-foto. Ada foto benteng sebelum dipugar, saat dilakukan pemugaran dan kegiatan atau acara yang pernah dilakukan di tempat ini. Mungkin karena keunikan dan klasiknya, benteng ini pernah dijadikan tempat pembuatan video klip band ternama di Indonesia juga untuk syuting film laga.

SONY DSC

Di bagian atas benteng ini terdapat wahana kereta mini yang berputar mengelilingi benteng. Untuk naik kereta ini pengunjung tidak dikenakan biaya lagi. Cukup dengan menunjukkan tiket masuk maka pengunjung bisa menikmati pemandangan di sekitar benteng dari lantai tiga. Sambil berkeliling saya dan teman saya tak lupa mengambil beberapa foto. Setelah cukup puas kami pun melanjutkan perjalanan.

Daerah Kebumen, khususnya di Gombong banyak terdapat warung yang menjajakan sate bebek. Maka untuk melengkapi wisata kami, saya dan teman saya pun mencoba sajian sate bebek dan gule bebek. Tidak mengecewakan, kuliner ini patut dicoba untuk wisatawan yang berkunjung ke sini.

SONY DSC

SONY DSC

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s