Menikmati Sejuknya Udara di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah

SONY DSC

Siapa tak kenal Baturraden? Tempat yang menjadi salah satu incaran di permainan Monopoli ini namanya sudah cukup populer di pelosok negeri ini. Pun begitu, saya sendiri baru berkesempatan mengunjungi lokawisata ini beberapa hari lalu. Sebelumnya, mungkin juga seperti kebanyakan anak-anak yang suka permainan Monopoli, saya hanya mengincar Baturraden untuk “dibeli” dan “didirikan” hotel-hotel karena lokasinya yang strategis.

Terletak di lereng Gunung Slamet, Baturraden memiliki hawa yang sejuk. Ini saya rasakan saat mulai meluncur ke lokawisata ini dari Purwokerto kota. Gerimis yang tiba-tiba datang juga langit gelap sempat membuat saya ragu untuk melanjutkan niat saya mengunjungi Baturraden, tapi setelah bertanya kepada penjual sate tempat saya makan siang, saya kembali membulatkan tekad.

“Tidak jauh, kira-kira tiga puluh menit saja dari sini,” begitu kata penjual sate saat saya tanya lokasi Baturraden. Saya pun melihat jam. Jika benar seperti yangsi bapak bilang, saya akan sampai di lokasi sekitar pukul dua siang. Menggunakan kendaraan pribadi dengan GPS yang sudah terpasang, saya tidak mengalami kesulitan menemukan lokasi wisata Baturraden. Kalaupun dengan kendaraan umum pengunjung juga bisa dengan mudah mencapai Baturraden.

Sampai di lokasi hujan sudah berhenti, meskipun begitu payung tetap saya siapkan. Kabut begitu pekat siang itu. Jika tidak melihat jam tentu dikira sudah sore. Belum lagi angin yang berhembus lumayan kencang. Saya bahkan berpikir akan ada badai. Perpaduan mendung, kabut dan angin kembali menyiutkan semangat saya. Belum lagi ketika mulai naik menuju loket, banyak pengunjung yang merupakan anak sekolah dan mahasiswa keluar dari lokasi. Tidak ada yang mau masuk.

 

Di depan loket masuk, sambil melihat tanaman yang dijual di sepanjang tangga menuju loket, saya kembali berpikir. Kabut terlalu tebal dan angin masih berhembus kencang. Saya tidak datang untuk pulang sebelum melihat Baturraden dari dekat, begitu tekad saya. Setelah membayar tiket, empat belas ribu untuk satu orang, saya pun kemudian masuk.

Pohon beringin besar menyambut saat saya mulai menapaki tangga. Juluran akar-akar beringin berpadu kabut tebal dan angin sempat membuat merinding. Setelah membaca papan petunjuk arah yang menunjukkan lokasi-lokasi yang bisa dikunjungi di tempat wisata ini, saya memutuskan untuk melihat jembatan dengan tulisan Baturadden Indah yang cukup besar. Tak ada yang bisa dilihat, jarak pandang begitu terbatas. Sekelompok pengunjung yang sepertinya adalah keluarga tampak sedang duduk di atas tikar sambil menikmati makanan.

Tak lama kemudian hujan turun. Saya dan pengunjung lain pun berlarian mencari tempat berteduh. Beruntung di lokasi wisata ini ada gasebo, pendopo kecil yang bisa digunakan untuk duduk dan berteduh. Hujan tak berlangsung lama, sekian menit saja dan langsung menghapus kabut. Jika tadi begitu gelap, perlahan saya mulai bisa melihat pemandangan asli Baturraden. Kami pun bersorak girang. Hamparan hijau, air terjun dan semua yang ada di bawah kami tampak dengan jelas.

Tak ingin membuang waktu, saya pun mulai berjalan untuk mengekplorasi wisata ini. Tangga demi tangga saya tapaki. Saya ingin ke atas dulu, mendekat ke air terjun dan menikmati pemandangan dari ketinggian. Tidak banyak pengunjung sore itu, saya rasa karena saya datang tidak saat hari libur. Mungkin juga pengunjung yang tadi bergerombol di parkiran atau sekitar gerbang enggan karena kabut dan angin yang lumayan kencang sebelumnya.

Beberapa kolam alami menarik hati saya. Saya pun segera menuruni tangga untuk melihat lebih dekat. Satu dari kolam yang ada saya lihat penuh dengan ikan besar. Air yang mengalir membentuk air terjun kecil dan pepohonan menambah suasana adem bagi pengunjung seperti saya. Di Baturraden ini fasilitasnya cukup lengkap. Ada bumi perkemahan, ada panggung budaya, ada water park untuk bermain air, renang juga tempat menikmati sepeda air.

SONY DSC

Berkunjung ke Baturraden tentu tak bisa dipisahkan dengan Pancuran Pitu dan Pancuran Telu, yaitu pemandian air panas dengan kandungan belerang yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit. Di Baturraden juga terdapat kebun binatang yang menjadi tempat wisata edukasi. Di bagian depan samping, sebelum masuk lokasi wisata, terdapat pesawat terbang yang dijadikan tempat untuk memutar film-film dengan durasi pendek yang bercerita tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Berwisata tanpa mengenal sejarah yang ada tentu kurang lengkap. Konon nama Baturraden berasal dari kata “Batur” yang artinya pembantu dan “Raden” yang merupakan nama panggilan untuk bangsawan. Dari legenda yang menyebar, diceritakan bahwa dahulu kala ada seorang putri yang jatuh cinta dengan pembantunya. Perbedaan status di antara keduanya membuat mereka harus lari dan tinggal di tempat yang kemudian dikenal sebagai Baturraden ini. Banyak versi tentang kisah ini.

Di Baturraden juga terdapat patung seorang perempuan dan seekor kera yang sedang bertarung dengan seorang laki-laki. Patung tersebut bukan tanpa kisah. Patung tersebut mengisahkan tentang cerita Lutung Kasarung yang juga tidak bisa dipisahkan dengan Baturraden.

SONY DSC

Lokasi Baturraden sendiri tepatnya berada di bagian utara kota Purwokerto atau sekitar 15 km dari kota Purwokerto. Posisinya yang berada di kaki Gunung Slamet menjadikan Baturraden tempat wisata yang menawarkan pemandangan indah. Bukan hanya kesejukan hawa, pepohonan yang hijau juga mata air yang segar, dari Baturraden pengunjung bisa melihat kota Purwokerto dari ketinggian. Pulau Nusa Kambangan juga beberapa pantai di Cilacap pun konon bisa dilihat dari Baturraden ini.

Sudah di Purwokerto tentu harus mencicipi makanan khas sini. Gethuk goreng sebagai oleh-oleh khas Purwokerto harus dicoba dan dibawa pulang. Bebek goreng Raja Bebek Abah Ndut menjadi pilihan pertama untuk mengisi perut di perjalanan wisata ini. Saya juga mencoba Sate Kambing Hotplate dan Gule Kambing yang ada di kota Purwokerto. Saat ini bagi saya Baturraden bukan lagi tempat singgah di Monopoli, tapi sudah benar-benar saya singgahi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah.

Advertisements

2 thoughts on “Menikmati Sejuknya Udara di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s