Buku: Menuju Kamar Durhaka

Judul Buku                  : Menuju Kamar Durhaka

Penulis                         : Utuy Tatang Sontani

Penerbit                       : Pustaka Jaya

Tahun Terbit               : 2002

Jumlah Halaman         : 217 halaman

menuju-kamar-durhaka

Menuju Kamar Durhaka berisi tujuh belas cerita pendek. Sebagian besar cerita di buku ini berlatar tahun 1950-an, di mana bangsa ini sedang dalam masa perubahan. Rakyat kecil menjadi bidikan penulis untuk dijadikan tokoh utama di cerpen-cerpennya di buku ini. Hanya satu cerpen yang berjudul “Lukisan” di buku ini yang mengambil seorang pejabat sebagai tokoh utamanya.

Kisah kehidupan rakyat kecil ditangkap muram oleh penulis. Tahun-tahun yang sulit bagi negeri ini disajikan dalam cerita tokoh-tokohnya, tentang kehidupan yang sulit juga kesialan, seperti yang tertuang di cerpen-cerpen yang berjudul “Palu dan Paku”, “Jaga Malam”, “Usaha Samad” juga “Doger”. Cerita tentang rumah tangga juga disajikan penulis di buku ini, seperti “Kamar Durhaka,” “Berita dari Parlemen,” juga “Suami-Isteri.”

Dalam cerpen berjudul “Palu dan Paku” tokoh utamanya, Atma, adalah seorang tukang sepatu. Dia berkeliling tiap hari untuk menawarkan jasa memperbaiki sepatu rusak. Bukan pekerjaan yang menghasilkan apalagi di tahun 1947 di mana negeri ini baru saja memperoleh kedaulatan dan masih berjuang melawan agresi Belanda. Jangankan memperbaiki sepatu rusak, yang punya sepatu pun tak banyak di masa itu. Kegetiran kehidupan keluarga Atma menjadi inti utama cerpen ini.

“Lukisan” adalah satu-satunya cerpen yang menggunakan tokoh utama seorang pejabat. Yang Mulia, begitu tokoh utama disebut di cerita ini adalah seorang pejabat. Cerpen ini mengambil latar saat toko Yang Mulia mengajak istri dan sahabatnya, seorang haji pedagang emas, melihat pameran lukisan. Yang Mulia dan istrinya berharap akan mendapat kado untuk ulang tahun pernikahan mereka dari sang sahabat, Haji Ahmad. Haji Ahmad sendiri adalah tipe seorang penjilat, yang suka menyogok demi bisa dekat dengan pejabat. Sesuatu yang dimanfaatkan oleh Yang Mulia dan istrinya. Cerita menjadi sangat menarik ketika Yang Mulia dan istrinya kecewa setelah tahu mendapat hadiah berupa lukisan yang dilihatnya di pameran. Si istri yang ingin sekali mendapatkan hadiah subang kecewa dan menyalahkan suaminya yang terlalu memuji lukisan. Lukisan yang ternyata tak dipahami oleh Yang Mulia sendiri dan hanya diaku-akunya sebagai karya yang bagus, tanpa dia sendiri mengerti.

Cerpen “Lukisan” adalah kritik penulis terhadap pejabat pada masa itu. Yang Mulia adalah perwakilan gambaran pejabat, seorang snobis yang memuji lukisan surrealis yang sebenarnya tak dimengertinya, hanya karena dia tak ingin dianggap tidak mengerti seni. Sedang tokoh lain yang ikut memuji adalah gambaran orang-orang yang biasa ada di sekitar pejabat yang mengikuti apa saja yang dikatakan pejabat, tak peduli bahwa mereka sendiri juga tidak mengerti, Asal Bapak Senang, begitu kita biasa mengenal orang seperti ini.

Tujuh belas cerita pendek karya Utuy ini menarik. Utuy memaparkan realitas negeri ini dalam gambaran kehidupan rakyat kecil sebagai tokoh yang mengalami langsung dampak perubahan, tokoh yang menjadi korban zaman. Buku ini menunjukkan keprihatinan sekaligus kepedulian seorang Utuy, eksil yang terbuang dari negerinya sendiri dan harus menghabiskan masa hidup sampai akhir hayatnya di negeri orang.

*Sebelumnya juga diposting di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s