Buku: Atheis

Judul Buku                  : Atheis

Penulis                         : Achdiat K. Mihardja

Tahun Terbit               : 2011, cetakan ke-35

Penerbit                       : Balai Pustaka

Jumlah Halaman         : 250 halaman

20160810_061041

Atheis berkisah tentang seorang bernama Hasan yang dibesarkan dengan didikan Islam di keluarganya. Hasan tumbuh menjadi pemuda alim, mengikuti ajaran yang diterimanya dari kedua orang tuanya. Hasan berteman karib dengan Rusli sejak kecil. Mereka berjumpa kembali saat dewasa. Rusli pula yang mengenalkan Hasan pada Kartini, yang akhirnya menjadi istri Hasan.

Rusli, seorang pemuda yang memiliki pemikiran rasional dan mengetahui banyak tentang matrialisme, begitu juga dengan Kartini. Hasan yang terbiasa menerima ajaran agama sebagai sebuah dogma merasa perlu untuk menyadarkan Rusli dan Kartini yang dianggapnya hidup terlalu bebas itu. Ilmu yang diterima Hasan selama ini tidak didasari argumen-argumen kuat baik dari Al Quran maupun dari As Sunnah membuatnya kewalahan bahkan goyah menghadapi argumen-argumen dari Rusli.

Sampai akhirnya Hasan merasa dia telah menjadi sesat, atheis, dan ingin kembali kepada ajaran agama yang dulu dipegangnya, ayah Hasan meninggal dan tidak ingin ditungguinya. Hasan yang kehilangan pegangan semakin terpuruk dan melakukan kekerasana pada istrinya karena dibakar oleh rasa cemburu. Pada akhirnya Hasan meninggal setelah tidak kuat dianiaya oleh serdadu Jepang dan penyakitnya.

Hasan menggambarkan banyak sosok di negeri ini, bahkan mungkin lebih luas lagi, yaitu di dunia. Sosok Hasan adalah seorang pencari yang masih terombang-ambing oleh kesangsian akan keyakinannya sendiri. Apakah tuhan itu ada atau tidak ada. Berbicara tentang keyakinan, agama, masih banyak yang berpendapat bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tabu. Agama dianggap sebagai sesuatu yang tidak untuk dibicarakan, dipertanyakan apalagi didebat. Dia diterima sebagai hal yang mutlak. Menerima adalah surga, mengesampingkan artinya neraka.

“Atheis” pertama kali terbit pada tahun 1949. Lewat novel ini, Achdiat hendak memotret kondisi kala itu. Tema di novel ini dianggap sebagai sesuatu yang baru, di mana kala itu mulai muncul eksitensialisme dan marxisme. Alurnya tidak linear. Awal cerita dibuka dengan Rusli dan Kartini yang mengunjungi markas polisi Jepang saat mereka menerima kabar kematian Hasan. Baru kemudian ceritanya kembali ke masa awal perkenalan dengan Hasan.

Novel ini bisa menjadi cermin bagaimana kita memandang sebuah keyakinan atau agama. Meskipun merupakan hal yang sakral, hubungan paling personal antara makhluk dengan penciptanya, agama selayaknya bisa dan boleh dipertanyakan oleh penganutnya. Apakah kita beragama karena kita benar-benar menerima kebenarannya? Atau mungkin kita menerima agama karena terpaksa, karena diturunkan oleh orang tua kita misalnya? Novel Balai Pustaka ini juga masih sangat relevan untuk kondisi saat ini, di mana agama masih dianggap sama, tabu untuk dipertanyakan.

*Diposting juga di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s