Indonesia (yang) Lebih Lemu

Jangan tanya kenapa perutkumu njemblung, tanyakan apa saja yang sudah kamu emplok dari pagi.

Setiap hari, tidak, setiap saat, saat melintas di depan kaca maupun tidak selalu perut menjadi bagian yang tak luput dari pengamatan. Bukan hanya oleh diri sendiri, tak jarang orang lain yang jadi “pengamat” kemudian berkomentar.

Ya, masalah klasik. Perut njemblung ini bukan tanpa sebab hadir di sana. Saat mengaku tak lapar saja isi piring bisa ludes apalagi saat lapar. Saat tak lami mood makan, konon katanya, nambah porsi sudah biasa.

Ada baiknya tidak menyalahkan cuaca dingin, hujan, stres, biar sehat, biar kuat menghadapi kenyataan dan sebagainya untuk “membersihkan” diri dari nafsu makan yang memang di atas rata-rata. Mari menilik beberapa makanan yang oke punya versi blog ini. Cukup tiga saja untuk sementara. Tapi sebelumnya baiknya dipahami bersama, tiga makanan yang akan dibagikan ini bukan dipilih berdasarkan tingkat keenakan atau kefavoritan. Sama sekali bukan karena aku masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa “Semua makanan adalah favorit (bagi masing-masing kaum)!”

  • Nasi Padang

Tidak semua mungkin suka Nasi Padang. Seperti tidak semua orang suka kamu. Tapi melihat Nasi Padang lauk kikil begini iman siapa yang tidak rontok. Kalau aku sih nggak cuma rontok lagi, mbuh dadi opo sing jenenge iman iki. Minumnya es jeruk. Utang tidak akan serta merta hilang, tapi ingatan tentang utang sangat bisa dipastikan hilang saat sepiring Nasi Padang lauk kikil tersaji sempurna di depan mata. Masyaallah!

 

kikil

Gambar dari sini

  • Lele Kemangi

Bagi sebagian orang mungkin lele menggelikan atau menjijikkan. Tapi menggelikan bagi satu orang kadang menggiurkan bagi yang lainnya. Apalagi kalau lelenya digoreng, dibumbui bawang merah, bawang putih dengan cabai sebanyak-banyaknya, diguyur santan dan ditaburi kemangi. Allahuakbar!

lele

Lele Kemangi hasil masak sendiri

 

  • Jangan Lombok

Jangan Lombok di tempat asalku diartikan secara harfiah, sayur cabai. Ya memang karena isinya cabai utuh yang kemampul di atas wajan saat dimasak. Meskipun utuh jangan dikira tidak pedas, karena selain cabai disajikan utuh bumbunya juga terdiri dari cabai yang dihaluskan, salah satunya. Jangan lombok akan semakin sedap dengan tambahan belimbing wuluh, perpaduan pedas dan kecut-kecut kayak bau keringatmu. Gusti Allah mboten sare!

lombok

Jangan Lombok kreasi sendiri

Demit gak ndulit, setan gak doyan. Ada yang bilang, dulu, kalau orang yang suka makan pedas itu brangasan. Bukan mengamini, tapi setidaknya benar dalam paling tidak satu hal, saat makan akan clangapan karena kepedasan.

Lain piring, lain pula lauknya. Beda kepala pasti beda juga seleranya. Makanan seperti juga nasib adalah kesunyian masing-masing. Apapun pilihan makananmu lanjutkan, jangan berhenti. Jangan biarkan perut jemblung-mu menghalangi. Mari memperjuangkan isi piring kita, juga perut kita, demi Indonesia yang lebih lemu!

Advertisements

5 thoughts on “Indonesia (yang) Lebih Lemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s