3 Doa 3 Cinta, Bukan Review

Basi, filmnya sudah lama tayang! Iya, kalau bukan karena Mas Rangga yang beberapa hari ini suka mampir di malam-malam heningku, tulisan ini tidak akan pernah ada. Tapi bukankah segala sesuatu itu punya “waktu” masing-masing? Jadi tidak ada salahnya aku kira memberi kesempatan kata-kata ini meluncur di blog ini, biarpun basi.

mp-3doa

Aku berbicara tentang film 3 Doa 3 Cinta, sebuah film karya Nurman Hakim yang pemeran utamanya Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Jadi ceritanya kemarin baru nemu film ini dan langsung ditonton. Film yang berkisah tentang kehidupan tiga santri, Huda, Rian dan Syahid ini sukses membuatku tersenyum, bernostalgia. Bukan, aku bukan anak pondok seperti mereka, tapi kehidupan santri dan pondok seperti di film ini tidak bisa dibilang asing. Om Djon adalah anak pondok juga sepupuku. Di dekat rumah di kampung juga ada pondok. Teman-temanku tidak sedikit yang lulusan pondok.

Huda yang diperankan oleh Nicholas berteman dengan Rian (Yoga Saputra) dan Syahid (Yoga Bagus). Mereka bertiga punya impian yang biasa mereka tuliskan di dinding, di tempat “rahasia” mereka di mana mereka biasa berkumpul, ngobrol sambil berbagi rokok. Huda yang semenjak 6 tahun lalu dititipkan ibunya di pondok ingin sekali mencari ibunya yang menurut surat terakhir berada di Jakarta. Rian, yang ayahnya baru meninggal, bercita-cita meneruskan usaha studio ayahnya. Sedangkan Syahid yang ayahnya sedang sakit ingin sekali bisa berbuat sesuatu yang besar, yang berguna.

3Doa3Cinta-1

Suatu hari Huda bertemu Dona (Dian Sastro) seorang biduan dangdut yang sedang manggung di pasar malam, di kampung di mana pondok mereka berada. Huda yang tahu Dona pernah tinggal di Jakarta ingin meminta tolong untuk mencarikan alamat ibunya. Syahid secara sembunyi-sembunyi ikut pengajian di kyai yang lain, seorang kyai yang kalau di masa sekarang biasa disebut radikal, aliran jihad garis keras. Sedangkan Rian yang ulang tahun baru saja mendapat kado sebuah handycam dari ibunya, begitu tertarik dengan layar tancap yang diputar di pasar malam dan berkenalan dengan Pak Toha.

gallery_34

Bicara cerita secara sok tahu aku bilang sederhana. Lebih baik ditonton sendiri saja, daripada spoiler. Film ini bagus karena penggambaran santri dan pondok yang menurutku alami, apa adanya. Kyai yang mengenali santrinya lewat baju yang dipakai, meskipun ternyata salah, dan menghukum santrinya dengan meminta mengisi penuh bak wudhu dan menimba sebanyak 100 ember terasa pas gambarannya.

Untuk pondok yang masih tradisional, mengenali santri lewat baju tentu sangat mudah karena santri tidak banyak juga baju-baju mereka sudah jadi “template.” Kemeja kotak merah milik si A, kaos biru milik si B, semacam itu. Tidur berdesakan, cara berpakaian santri dan interaksinya dengan apik digambarkan juga cara menyimpan uang atau barang berharga seperti di film ini pernah kulihat saat menjenguk adik seorang kawan di pondok.

Bagiku, dan mungkin bagi sebagian anak di masa kecil dulu, pondok adalah “tempat menakutkan.” Pondok menjadi momok bagi anak yang nakal, dijadikan ancaman sekaligus “tempat buangan” untuk anak-anak yang dianggap nakal. Yang pasti selama menonton film ini jadi bisa bernostalgia. Tentang kehidupan kampung, tentang anak-anak kampung (santri) dan kelucuan juga keluguan mereka.

Ya tentu Mas Rangga, eh Mas Nico, menjadi daya tarik tersendiri, tapi memang bagus sih mainnya. Malu-malunya khas santri yang tidak biasa bergaul bebas dengan perempuan. Wajahnya yang biasa putih bersih dibuat coklat mbladus, meskipun tak menghilangkan kegantengannya. Dian yang biasanya anggun di sini dibuat norak dan seksi, khas biduan dangdut kampung. Jadi ingat Om Djon kalau lihat Huda pas nikah, sarung dengan paduan jas hitam dan kopyah. Keren! Halah, iki malah mbahas opo? Intinya mau berbagi saja film ini menurutku bagus, sebuah “kesederhanaan” yang apik. Oh iya, dapat salam dari santri Hongkong.

image2

Advertisements

2 thoughts on “3 Doa 3 Cinta, Bukan Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s