Wocus

Ini kisah tentang seorang gadis kecil, sebut saja namanya Tomang. Tomang adalah gadis kecil berambut jagung. Bule, begitu orang kadang memanggilnya. Tentu karena kulitnya yang putih bersih dan rambut pirang yang hanya beberapa helai saja, seperti rambut jagung muda.

IMG-20160427-WA0001

Tomang adalah gadis kecil yang menggemaskan. Badannya montok, bergelang-gelang dan imut. Tomang juga adalah gadis kecil yang cerdas, meskipun juga penakut. Dia, entah kenapa, suka sekali dan sering sekali menangis atau kalau orang Jawa bilang gembeng. Umur setahun dia belum bisa berjalan, berdiri pun dia malas karena takut jatuh, tapi dia sudah pandai berbicara.

Tomang ini paling senang diajak naik sepeda. Dia punya boncengan khusus yang ditaruh di bagian depan sepeda. Kadang bersama bulik kecilnya yang asyu, kadang sama paklik sepupu ibunya yang metal. Bersama pakliknya yang metal, Tomang diajari sesuatu. Tiap melewati jalan tidak rata alias gronjalan Tomang diminta memegang kepala gundulnya sambil teriak kencang, sesuatu yang dianggap lucu dan menggemaskan. Memang. Maka suatu kali saat Tomang bersepeda bersama bulik kecilnya dan melewati rel kereta api yang sedang ramai, Tomang kecil langsung memegang gundulnya dan berteriak, “Ndasku putung!” (baca: ndasku puthul aka copot). Teriakannya membuat orang-orang di jalan langsung menoleh. Kaget tapi kemudian tertawa, lucu.

IMG-20160427-WA0003

Pernah juga suatu kali si Tomang diajak buliknya mengirimkan surat, memasukkan surat ke kotak pos tepatnya. Kotak pos itu ada di sebuah toko besar di pasar tak jauh dari rumahnya. Karena merasa terlalu berat untuk mengangkat Tomang, buliknya mencoba memasang standar sepeda atau jagang. Tak lupa dipesaninya agar Tomang tidak bergerak. Baru si bulik menoleh sebentar, terdengar suara cukup keras. Sepeda ambruk bersama dengan Tomang yang ada di boncengan depan, menghujam tanah. Tomang pun menangis kencang, membuat orang-orang di pasar sore itu ramai menoleh. Tapi Tomang anak yang manis, dengan ciuman dan sedikit rayuan, dia akhirnya diam.

29371_286049428183317_287212558_n

Umur dua tahun, Tomang sudah berani ngaji. Ya meskipun harus ditunggui di dalam “kelas” sampai selesai. Dia tidak mau bermain dengan teman-temannya. Dia akan memilih dipangku atau dijagai siapapun yang dapat giliran menjaganya. Kalau namanya dipanggil saat giliran membaca, dia akan maju dan mengikuti guru ngajinya. Tomang bukan tipe gadis kecil yang bisa dipaksa. Kalau sedang tak ingin, maka dia hanya akan maju tanpa mau membaca atau menirukan ucapan gurunya. Maka bukan hanya guru yang gemas yang “njaga” pun ikut gemas mesti tahu tidak bisa berbuat apa-apa.

10155967_530249513763306_997824934_n

Pernah suatu kali Tomang baru pulang dari luar kota, dari rumah kakek dan nenek dari almarhum ayahnya. Tomang kecil yang tidak mau absen ngaji minta tetap diantarkan. Kebetulan kakeknya yang mengantar, dan kebetulan juga hari itu Tomang tidak ditunggui, untuk pertama kalinya. Tentu membanggakan, gadis yang terkenal penakut itu berani ngaji sendiri. Lebih menggemaskan lagi ketika ternyata Bu Yai bercerita kalau Tomang kecil ngompol pas maju di depan. Maka Tomang pun “dibersihkan” dan dipinjami celana. Tertawa, tentu saja orang rumah yang mendengarnya ingin tertawa tapi ditahan. Tomang kecil tak bisa ditertawai, diejek apalagi dimarahi. Yang mengharukan, si Tomang ternyata tidak menangis. Dia ngompol, di depan kelas, di depan guru dan teman-temannya dan dia tidak menangis!

Tomang suka sekali dengan Tom&Jerry. Di rumahnya tak terhitung VCD dan DVD bajakan Tom&Jerry yang diputarnya bergantian setiap hari. Dia akan tertawa-tawa sendiri menyaksikan kartun kegemarannya itu. Dia akan merayap, memanjat lemari tempat TV berada dan menyalakannya sendiri, memilih acara TV atau VCD kesukaannya. Pernah suatu kali Tomang menonton film di TV tentang simpanse kecil yang akan pulang kampung. Karena ketiduran, simpanse kecil itu kebablasan. Dia turun di stasiun yang tak dikenalnya dalam kondisi malam yang gelap. Melihat wajah sedih dan polos simpanse kecil, Tomang pun langsung menangis sesenggukan. Hatinya luka 😦

Tomang ini juga suka melihat ubin mulus. Kalau diajak jalan-jalan ke mal atau supermarket maka sandal atau sepatunya akan langsung dicopot. Selanjutnya tentu berseluncur, glesotan. Yang pasti kaki kecilnya itu suka sekali merasakan dinginnya ubin, tak seperti yang biasa dirasakan di rumahnya. Ho oh, ndeso 😐

376913_373458459442413_655110071_n

Pas Tomang agak besar, dia dibelikan sepeda kecil berwarna merah muda. Setiap pagi, bangun tidur, dia akan bersepeda keliling rumah atau rumah tetangga. Tidak perlu khawatir karena semua tetangga mengenalnya. Emaknya tidak perlu takut kalau Tomang mainan sepeda, tetangga di kampung akan ikut “mengawasinya.” Suatu kali, bangun tidur Tomang langsung meraih sepedanya, Emak yang masak pun membiarkannya. Tidak lama terdengar suara tangisan Tomang. Dia pulang diantar tetangga. Tetangga itu bilang Tomang kecebur peceren alias got. Baju dan sepedanya basah juga kotor. Tomang tidak luka, hanya mungkin hatinya yang tergores eaaa. Mungkin dia masih ngantuk. Yang jelas dia tidak mabuk atau kebut-kebutan, wong sepedanya juga roda tiga.

06122010(017)

Sampai TK Tomang masih penakut. Di sekolah dia harus selalu ditunggui, bahkan saat baris. Makan harus disuapi, main pun harus ditemani. Di kelas, “penjaganya” pun harus ikut duduk manis di sampingnya. Nyanyi? Senam? Maju ke depan? Jangan harap dia mau. Maka ketika suatu hari Tomang kecil tiba-tiba mengangkat tangan saat Bu Guru bertanya tentang pahlawan wanita Kartini, Tomang dengan lantang menjawab, “Megawati!” Ora popo, bebas! Sing penting ora diguyu, cek ora nangis.

522301_282843125170614_203654012_n

Semakin besar, sifat penakutnya tidak juga hilang. Malas geraknya juga masih saja nempel. Kalau mau pelajaran olahraga, malamnya dia pasti ribut minta dibelikan jajan dan minuman yang banyak sebagai alasan biar bisa olahraga. Kenyataannya, jajannya memang banyak tapi olahraga nihil. Dengan wajahnya yang polos, Tomang selalu “berhasil” merayu gurunya agar dibebaskan dari olahraga, dengan alasan dia mau belajar. Kalau pun misalnya dia harus olahraga seperti lari, dia akan lari dengan santai saja, mburi dhewe ora masalah sing penting sampek finish.

IMG-20150723-WA0111

Maka ketika SMP dan dia tampil menari untuk perpisahan kakak kelasnya, rasanya pingin nangis. Tomang yang penakut, pemalu dan pemalas gerak itu akhirnya berani juga. Sejak itu, Tomang semakin sering menari dan tampil di depan umum. Dari sekian perubahan besarnya, sampai saat ini ada yang keluarganya tak pernah tahu. Tomang kecil suka sekali bilang “Wocus” sesuatu yang sampai saat ini masih misteri tentang apa sebenarnya artinya.

Hari ini Tomang kecil sudah besar. Rambutnya tak lagi jarang-jarang, sebaliknya berlebih. Jika dulu dia suka “pinjam” rambut bulik kecilnya untuk dipasang di kepalanya saat tidur, saat ini tidak lagi. Sepertinya dia sudah bisa menerima rambut kribonya yang dulu sempat direbonding saking pinginnya punya rambut lurus.

470790_226072630847664_2085363609_o

 

12295284_856011817853739_6489634707629499217_n

 

12080265_828881007233487_1407193078193305590_o

Selamat ulang tahun, dear Tomang. Meskipun Tuhan tidak memberimu kesempatan melihat ayah, kamu masih punya bapak. Meskipun tak banyak waktu yang diberi-Nya untukmu bersama Emak, kamu masih punya ibu, Acha dan Na. Kami mungkin tidak bisa memberi lebih, tapi kami akan mengusahakan memberimu cukup kasih sayang dan perhatian. Kamu adalah “tuyul” yang akan selalu kami cintai. Kamu adalah Tomang, bocah siamang, yang selalu kami rindukan. Jadilah apa yang kamu mau dan berbahagialah!

10351831_924371577684429_3967351650910033628_n

Advertisements

2 thoughts on “Wocus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s