Membaca Ahmad Tohari

Berbicara tentang Ahmad Tohari, bagiku mengingat kembali buku pertama penulis ini yang aku baca, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk. Bukan karena rekomendasi atau pernah membaca ulasan orang sebelumnya atau bahkan alasan sentimental ketika memilih buku ini. Saat itu aku memang sedang “mengumpulkan” buku dari berbagai macam penulis, dan ulasan singkat di belakang sampul buku ini yang membuatku memilihnya.

20160402_062059

Membaca karya Ahmad Tohari selalu menimbulkan perasaan nostalgia, mungkin dejavu. Entahlah, yang pasti rasanya seperti masuk ke dalam situasi, masa, di mana cerita berkisah, dengan suka rela. Detil pejabaran latar selalu membuatku terkesan. Seolah melihat sebuah lukisan pemandangan, imajinasi ikut masuk, mereka-reka, mencari padanan. Kadang terbentur, kadang teraba, selalu terpesona.

Masuk ke dalam cerita, semakin dalam, perasaan mulai diaduk. Marah, sangat marah tapi kemudian juga tenang. Buruk, tapi wajar. Masuk akal dan bisa mengalami, sangat biasa terjadi di negeri ini. Maka ketika lembar terakhir diselesaikan, kembali melongok ke dalam, ke luar, ke lemari buku. Ronggeng Dukuh Paruk, Orang-Orang Proyek, Bekisar Merah, Di Kaki Bukit Cibalak dan entah apalagi, semuanya selalu membekas. Aku suka penulis ini.

Sedikit tentang Ahmad Tohari, lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (19671970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (19741975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).

Kalau zaman sekolah setiap mengulas buku selalu ditanya nilai moral, membaca karya Ahmad Tohari kita akan dapat banyak pelajaran. Seperti di bawah ini:

“Tentang sinoman ini ini terdapat kepercayaan yang aneh. Apabila ternyata lukisan sinoman itu meleleh pada saat pengantin bersanding di pelaminan, sungguh menjadi pertanda yang buruk. Berarti pengantin perempuan sudah pernah merasakan nikmatnya sesuatu yang meleleh. Ia telah kehilangan kegadisannya. Yang demikian dapat dimengerti karena dalam hal ini pengantin perempuan menahan rasa cemas selagi duduk bersanding. Jangan-jangan mata orang jeli dan memperhatikan perutnya yang mulai membesar. Karena menahan rasa cemas itu, keringat akan membasahi seluruh tubuhnya, juga kening. Sehingga sinoman itu leleh.” (Hal. 86, Di Kaki Bukit Cibalak).

“Hidup ini seperti anggapan kita. Bila kita anggap sulit, sulitlah hidup ini. Bila kita anggap menyenangkan, senanglah hidup ini.”

trilogi_ronggeng_dukuh_paruk

Pinjam Google

Bukan review, tak pandai mengulas buku. Mungkin hanya saran saja, jika suka membaca jangan lewatkan buku-buku beliau. Satu lagi, jangan percaya review buku dari siapapun, termasuk tulisan “testimoni” ini sebelum membaca sendiri. Membaca (dan memilih) buku adalah kesunyian masing-masing. Selamat membaca!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s