CA…Ng…

“Semua akan munafik pada waktunya.”

Sebuah tweet melintas di timeline akun Twitterku. Beberapa hari terakhir sedang ramai seorang seniman yang konon tersohor di-bully di Twitter. Tweet tadi adalah salah satu sindiran untuk seniman tersebut. Masalahnya? Silakan cek sendiri, ojo males-males. Seniman tadi bukan satu-satunya, sebelumnya juga ada yang mengalami hal serupa. Banyak seniman atau “seniman” atau orang yang kita anggap kritis, peduli dan biasa menyuarakan kepentingan rakyat ternyata banting setir, berbalik arah.

Aku sudah lama berhenti percaya pada mereka yang biasa kita sebut aktivis. Kurasa aku bukan satu-satunya. Pesimis? Iya. Terlalu sering kecewa pada akhirnya memang membuat orang jadi pesimis. Bukan hanya pada orang, tapi pada keadaan. Berhenti mengidolakan seseorang juga kemudian jadi hal lumrah. Sama halnya dengan berhenti berharap seseorang bisa mengubah keadaan.

canting

susur pantai

Selama masih ada sego padang, harapan itu nyata! Hanya menurutku kita perlu berhenti berharap pada satu orang, atau beberapa orang. Yang dibutuhkan adalah mulai melakukan apa yang ingin kita lakukan, kita ubah. Ada peribahasa bilang, “Jadilah perubahan yang ingin kamu lihat.” Iya, jika ingin sesuatu berubah ya mulai lakukan, jangan hanya berharap.

canting15

rai-rai mupeng nontok bokep?hmmm…

canting16

Pariyem dengan helm nyuluh kodoknya

Pada akhirnya waktu akan memperlihatkan kualitas seseorang, kualitas kita. Seringnya sih saat menerima “ujian.” Ada yang bilang seperti ini, kualitas seseorang bisa dilihat bukan saat dia bahagia, kaya dan sehat, tapi saat dia sedih, atau marah, miskin dan sakit. Kalau menurutku itu juga tidak berlaku mutlak, karena saat orang bahagia, kaya dan sehat pun sebenarnya kita bisa melihat kualitas mereka. Lagipula apa ukuran kaya? Banyak yang punya harta melimpah tak juga merasa kaya, bahkan bertingkah seolah orang paling miskin. Yang bahagia pun tidak jauh berbeda, masih suka “pamer” kebahagiaan. Aku percaya seseorang yang benar-benar bahagia pasti merasa damai di dalam hatinya, tanpa perlu menunjukkan kebahagiaannya kepada orang lain.

canting5

gojek kere

“Semua akan munafik pada waktunya.”

Waktu dan kita sendiri yang bisa menjawab, apakah kita akan menjadi bagian dari orang yang disebutkan kalimat di atas. Pura-pura waras itu melelahkan. Pura-pura bahagia tidak membuat kita bahagia. Pura-pura kritis? Mungkin kita akan kritis betulan, di rumah sakit.

Buat teman-teman Canting yang pura-pura tidak kangen atau malas kangen karena takut kecewa, mari berpartisipasi untuk acara memperingati mati surinya Canting tanggal 14 Februari 2016 nanti. Silakan rekam suara dan rupamu dalam sebuah video berdurasi sekitar 1 menit. Isinya boleh apa saja yang berhubungan dengan Canting. Ya semacam testimoni boleh, pendapat tentang Canting, kisah tentang Canting atau kenangan dan harapan untuk Canting. Video bisa dikirim ke Mas Gugun atau ke emailku juga boleh di rina.trilestari@yahoo.com ditunggu paling lambat 9 Februari 2016.

canting4

Mari berhenti pura-pura tidak peduli pada Canting. Mari berhenti munafik kalau kalian tidak kangen pada Canting. CAnda itu penTING, CANtik itu nggak penTING, CipokAN jauh lebih penTING! Halah.

Advertisements

2 thoughts on “CA…Ng…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s