Always

Alan Rickman?

1…

2…

3…

Nggak tahu? Sama. Tapi Profesor Severus Snape? Aha! Di antara sliweran tweet tentang Bom Sarinah, pagi ini mataku menangkap satu tweet tentang meninggalnya tokoh pemeran Snape di film Harry Potter. Sedih, iya. He’s one of my favorite movie characters. Tidak sedih dengan bom? Sedih tapi aku tidak akan membahas apa yang aku tidak tahu. Kejadian seperti ini sangat-sangat menyedihkan, karena atas nama apapun menghilangkan nyawa orang lain tidak akan pernah benar, for me. Menghilangkan nyawa sendiri? Terserah. If you’re really that desperate dan mau bunuh diri monggo, tapi jangan pernah “mengajak’ orang lain. Tak peduli seberapa benci kamu pada seseorang, killing never be the answer nor a solution.

Balik ke Snape. Jika ada cinta pada pandangan pertama, karakter Snape bisa menjadi contohnya untukku. Sejak melihat film Harry Potter yang pertama, aku tidak membaca bukunya, aku langsung suka dengan Snape. Dia yang (terlihat) jahat, tidak peduli dan dark adalah my kind of guy. Karakter seperti ini selalu berhasil menyentuhku, menarik lebih dari karakter utama. Dia yang selalu menjadi nomer dua, tiga atau bahkan tak pernah diperhitungkan.

7ae53ed28b6173e8280dfe4f5f0b82e8

Dia yang selalu disalahpahami, ditakuti bahkan dijauhi. Dia yang lebih suka memendam apa yang dia rasakan, dalam. Dia yang tak pernah banyak berkata-kata, tapi selalu mean it ketika berbicara. Dia yang terlihat tak punya cinta, tak pernah mencinta. Dia mencintai lebih dalam.

Karakter seperti ini punya banyak sekali cinta dalam dirinya, hanya tak terlihat. Dia lebih suka melukai diri sendiri, memendam cinta juga sakitnya, tanpa ada orang yang perlu tahu. Bagi karakter seperti ini membuat orang yang dicintai sakit, cemburu, menangis tak pernah ada dalam kamusnya. Luka yang paling dalam bukan ketika dia sakit, tak terbalas cintanya, tapi ketika yang dicintainya terluka. Dia selalu menyintai, meskipun kadang hanya dalam hati.

“I don’t love often, but when I do it’s forever.”

Kata-kata seperti itu mendeskripsikan dengan sangat jelas karakter seperti Snape. Tak akan bermain-main dengan hati. Ambyar ambyar dhewe, sing penting koen bahagia. Bukan tak ingin atau tak bisa bahagia, tapi lebih memilih bertahan dengan keyakinan hatinya. Sesuatu yang mungkin terdengar masokis. Sounds stupid? Atau mungkin sounds familiar? Karakter seperti ini eksis, ada. Coba saja bercermin, mungkin salah satunya sedang kamu lihat.

Apakah tidak kuat? Sendiri bahkan lebih baik untuk karakter seperti ini. When you can’t make it alone, you can’t make it two. Jika sendiri saja tak mampu, jangan berharap berdua lebih baik.  Prinsipnya kuat. Orang yang tak mengerti akan menganggap orang-orang model begini idealis atau sok idealis. Dan membuat mengerti orang lain bukan sifat mereka. Words will never be their choice to show their love. “Love” (dan turunannya) will be the last word they say when their in love. Romantic? Nope. Kebanyakan akan pergi karena tak tahan, mungkin tak mengerti.

So long, Professor Snape. Harry Potter sudah berakhir, saat ini pun kamu sudah berlalu. Terima kasih untuk pelajarannya. Mencintai tak terburu-buru, pergi pun tak tergesa. Pada apa yang kamu yakini, someday it will lead the way. Always.

Advertisements

2 thoughts on “Always

  1. love it . . . pas seperti yg saya rasakan . . . pas utk mengeskpresikan yg saya rasa ttg Prof Snape . . . we love him like that . . . dan sedih karena kehilangan seorang aktor karismatik, tak hanya berakting dgn tubuhnya tapi juga dalam suaranya . . .
    dan karakter favorit kita juga sama dengan personality yg seperti dideskripsikan di atas . . .
    suwun . . .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s