Bike for Your Life

Kata Mbah Einstein, “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” Yang artinya kurang lebih adalah hidup itu seperti naik sepeda, untuk menjaga keseimbangan kamu harus terus bergerak. Banyak cara untuk menjaga keseimbangan hidup, antara macul dan tetap piknik. Antara tumpukan pekerjaan dan tuntutan pemenuhan aktualisasi diri, ngomong uopoh!

Kurang lebih tiga tahun rutin bersepeda, aku sudah punya beberapa sepeda. Sampai saat ini sudah punya beberapa sepeda yang alhamdulillah dibelikan dan sebagian beli sendiri 😐

BikeGogon1

Gogon aka Gonjales

Gogon atau lengkapnya Gonjales adalah sepeda pertamaku. Sepeda ini dibeli dengan tujuan kalau mau pergi-pergi yang tidak jauh, agar tidak perlu capek-capek jalan. Yang terjadi kemudian, Gogon lebih sering parkir daripada digowes. Mulai dibawa macul setelah dipukul copet di bus kota 😦

Karena tempat macul pindah lebih jauh, Gogon yang gowesannya abot ini akhirnya dilempet dadi duwit. Sempat sedih karena Gogon adalah sepeda pertamaku, tapi akhirnya direlakan juga. Dari hasil penjualan Gogon dan tambahan sumbangan maka muncullah Fernando.

Fernando

Fernando

Fernando adalah milik temannya teman kos yang tidak dipakai. Masih sangat mulus dan mantap bodinya. Fernando kemudian menemani macul setiap saat. Karena cakep, banyak yang naksir untuk membelinya.

Gundulnya tidak SNI jadi harus helman.

Gundulnya tidak SNI jadi harus helman.

Fernando juga pernah menemani ikut acara sepeda gitu deh, meskipun belum beruntung dapat undian. Entah kenapa, aku masih tergoda punya sepeda mini, sepeda cewek, mungkin karena dulu tidak pernah punya sepeda sendiri.

Berburu dandang elektrik bersama Fernando

Berburu dandang elektrik bersama Fernando

Pada akhirnya aku tergoda juga dengan sepeda cewek keluaran Phoenix. Warnanya ungu dan putih, manis. Kuberi nama dia Gini, dari Nagagini. Ini sepeda pertama yang kubeli dengan uangku sendiri tanpa sumbangan 🙂

Gini alias Nagagini

Gini alias Nagagini

Naik Gini itu enaknya dipantat nyaman, empuk. Naiknya pun tidak buru-buru, beda kalau naik Fernando, pinginnya mbalap terus kesel. Biar tidak berlebih, Fernando akhirnya dijual ke seorang bapak yang sedang mencari sepeda untuk anak gadisnya yang masuk SMP.  Manusia mancal, maling mbuh yok opo carane njupuk. Pagi-pagi Gini raib tak di tempatnya.

Asura aka Asu

Asura aka Asu

Asu kubeli dengan COD-an. Sepeda bekas tanpa cat, Federal lawas. Mungkin seperti itu jodoh, melihatnya saja langsung sreg dan pingin numpaki. Tapi karena masih tetap ingin menjaga sisi kewanitaan, halah, maksudnya biar sepedaannya bisa tetap santai, mumpung pas ada teman yang jual akhirnya nambah satu, Mercy.

Mercy

Mercy

Demikianlah sekilas dua kilas jajaran sepeda yang sempat dan masih ada di garasi kosku. Mungkin ke depan akan segera membuka toko jual beli sepeda bekas karena nafsu pada sepeda ternyata tidak surut meskipun sudah punya dua sepeda ganteng dan manis (yang minat bisa PM).

“Kenapa nggak naik motor saja?”

Pertanyaan begitu hampir selalu ditanyakan meskipun setiap hari yang tanya tahu aku naik sepeda dan bahagia. Macul dari Senin sampai Sabtu, kerjaanku duduk dan makan. Olahraga selain berlarian di pikiranmu hampir tak pernah kulakukan. Bersepeda adalah salah satu cara yang menurutku efektif untuk tetap menjaga kebugaran tubuh yang kebetulan mudah dan murah.

11281756_1114222798593659_989001939_n

Selain itu, bersepeda itu juga piknik. Di jalanan yang kian semrawut, orang-orang terburu-buru, kita tetap bisa santai menikmati orang-orang tadi. Ya paling sekali dua kali misuh kalau diklaksoni, disuruh cepat-cepat atau disuruh minggir, mbuh minggir nang ndi maneh wong embonge wis entek 😐

Yang pasti dengan bersepeda, kamu akan lebih nafsu makan. Nggak ada lagi acara milih-milih makan, kesel mancal membuatmu lapar dan mau menerima makanan yang ada secepatnya, sebanyak-banyaknya. Dari sekian quote tentang sepeda yang kucek di Internet untuk postingan ini, quote ini cukup menggelitik.

“Aku patah hati lalu minggat naik sepeda rongsok. Aku terdengar begitu menyedihkan ya, Pak?”

Desi Puspitasari, On a Journey

Nggak, Mbak, kamu nggak menyedihkan. Sebaliknya, kamu owesome, paling rodok gede ae kempole. Mari mancal!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s