Selamat Jalan, Suparto Brata!

Pagi ini saat lagi nongkrong di tempat favorit, seperti biasa buka-buka Twitter. Sebuah cuitan berada di TL paling atas dari akun @radiobuku :

| Suparto Brata, sastrawan lejen Surabaya. Tak saja produktif berkarya hinga usia sepuh, tapi respek pd acara anak muda

Kakek itu, boleh kusebut begitu, karena beliau memang seumuran kakekku kalau kakekku masih hidup. Sebagai anak mantan guru zaman orde baru, aku terbiasa dengan majalah Jaya Baya (kalau tidak salah, aku lupa) dan Panjebar Semangat. Apa hubungannya majalah dengan guru? Hubungannya mungkin semacam majalah wajib bagi para PNS waktu itu, seperti kewajiban PNS harus masuk Golkar. Seingatku, Om Djon cuma bawa dua majalah itu sebulan sekali, saat gajian. Gratis katanya, entahlah, mungkin dipotong dari gaji. Tak penting buatku, karena waktu itu pun aku belum bisa membaca. Yang pasti kalau Om Djon pulang dengan dua majalah itu, aku orang pertama yang akan membuka, melihat-lihat gambarnya.

Karena belum bisa membaca, aku tak ingat apa isi dua majalah itu. Yang aku ingat betul sampai sekarang adalah salah satu edisi di Panyebar Semangat, majalah berbahasa Jawa kesukaan ibuku itu, ada sebuah ilustrasi yang menurutku seram. Imajinasi kecilku mengatakan, ilustrasi itu adalah foto keluarga di alam baka. Entah benar tidak sampai saat ini aku tak tahu, tapi gambar itu masih jelas di ingatanku.

Kembali ke Suparto Brata. Meskipun juga suka menulis dalam bahasa Jawa, aku tidak mengenal karya beliau yang berbahasa Jawa. Aku pertama kali mengenal karya beliau yang berbahasa Indonesia, Saksi Mata dan Republik Jungkir Balik. Dua novel yang langsung membuatku menyukai tulisan beliau. Sebagai anak Jawa Timur aku gagal mengenali beliau. Aku baru tahu kalau beliau adalah sastrawan yang produktif menulis fiksi berbahasa Jawa. Aku juga belum lama tahu kalau beliau juga aktif menulis untuk Panyebar Semangat, sesuatu yang begitu dekat denganku sejak kecil. Ngene iki lek kakean mangan, dadinya malah nggomblohi 😐

SAM_3860

Gambar pinjam, ambil dari Google

Membaca Saksi Mata karya Suparto Brata bagiku rasanya hampir sama dengan membaca karya Pram. Penuturan yang mengalir, tak menggurui, tidak berlebihan tapi bisa terasa begitu dekat, seolah kita benar-benar berada dalam cerita, merasakan situasi dan suasana yang sedang dihadapi si tokoh dalam cerita. Hidup tidak sekadar hitam dan putih. Alur yang wajar, tidak asal-asalan, dan ditulis dengan hati.

Sepertinya aku baru saja menggugurkan satu tulisan. Tulisan yang ditulis karena “permintaan”, dibaca sendiri pun tak enak. Tidak perlu ikut-ikutan, hidup adalah kesunyian masing-masing. Tidak perlu jadi pengendali angin untuk menciptakan badai. Tidak perlu menjadi pengendali hujan untuk bisa menyejukkan. Cukup menjadi diri sendiri, melakukan sesuatu yang dicintai dengan hati. Karena apa yang dilakukan dengan hati akan sampai juga pada hati. Selamat jalan, Suparto Brata, menulis sampai mati!

suparto-brata-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s