Burung-burung Kecil di Bukit Gersang

Ada yang bilang rumah adalah tempat di mana hati berada, tempat di mana kita tidak pernah bosan untuk datang, kembali lagi dan lagi. Satu orang bisa punya satu rumah, ada yang punya lebih dari satu. Adakah yang tidak punya? Aku tidak membicarakan rumah sebagai sebuah bangunan fisik di mana keluarga tinggal yang dibangun di atas tanah dengan sertifikat hak milik. Aku berbicara tentang rumah hati. Eaaaa…

SONY DSC

Pengalaman pertama datang ke tempat ini, aku sudah sering menceritakannya, masih lekat di ingatan. Selalu satu hal yang sama, kehangatan warganya. Studio Biru, sebuah “rumah” di sebuah bukit yang kemarin tampak gersang karena kemarau. Rumah anak-anak Ripungan belajar, bermain, berbagi, bersama.

SONY DSC

SONY DSC

Bercerita tentang tempat ini selalu membuat sentimentil, tentang kenangan bersama teman-teman Canting yang sudah ambyar. Memulai sesuatu mesti kadang sulit tapi lebih sulit lagi mempertahankannya. Mungkin bosan, kesibukan masing-masing, umur yang memaksa beberapa orang mengubah prioritas, banyak alasan yang sangat bisa dimaklumi. Kami bukan lagi sekumpulan anak-anak kurang kerjaan, anak-anak yang ora mutu, yo mutu ning rendah. Kami berubah, seperti juga adik-adik Studio Biru yang bertumbuh.

SONY DSC

Ini bukan laporan atau postingan untuk membuat iri teman Canting yang tidak datang kemarin (dulu kami sering sekali membuat postingan di blog hanya untuk membuat panas anak Canting yang tidak bisa ikut kumpul atau datang di acara Canting). Anggap saja ini untuk meninggalkan jejak untuk masa depan bahwa burung-burung (kertas) kecil di bukit gersang itu tak pernah bosan mengepakkan sayap mereka.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Makan pepaya dan semangka bersama setelah lomba

 

SONY DSC

Senja di atas bukit gersang

SONY DSC

Burung-burung kecil di bukit gersang

Lalu bagaimana dengan kemerdekaan? Embuh ya. Yang pasti otak ini sulit sekali diajak berpikir kalau lapar. Badan ini menjerit-jerit kalau terlambat makan. Masalah semakin terasa berat ketika tak ada makanan. Mari selesaikan dulu masalah kita di dapur, mungkin setelah itu kita baru bisa (membicarakan) kemerdekaan.

11880280_921215891302707_1388445950_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s