ART|JOG dan Cucur Meduro yang Tak Mlecor Sempurna

Sebagai penikmat seni abal-abal (penikmate sing abal-abal, senine mbuh) a.k.a penikmat pertunjukan juga pameran gratisan, pagi ini agak syok mendengar tiket masuk ART|JOG untuk gadis bukan janda sepertiku adalah sebesar 50rb.

“50rb untuk pertunjukan seni sekeren ini masak mahal?”

“Beli BH yang harganya separuh lebih dari tiket aja mau, masak buat tiket eman?”

“Beli buku lawas yang harganya lebih dari itu aja dibelain, masak ngeluh. Cih!”

Dan mungkin masih banyak lagi pernyataan atau pertanyaan imajiner yang akan muncul atas kesyokan tadi. Tapi kalau boleh membela diri (sakjane yo sak karepku sih), aku sudah puasa beli BH dan masih berpendapat juga inginnya ART|JOG bisa gratis, setidaknya kalau ada tiket nggak mahal-mahal.

Nggak mahal ki ukurane opo? Anu, yo mang-mang ewu ngunu lho. Masalah beli buku lawas jelas tidak bisa disamakan. Ini investasi, mungkin warisan yang bisa setidaknya kutinggalkan untuk mbuh sopo ngko.

Fenomena, halah, maksudnya yang lumayan sering terlihat dan teramati adalah acara-acara semacam ini sekarang kesannya eksklusif, buat nak-nak gaul yang ya ngunu lah. Kurasa bagi yang biasa datang ke acara begini akan tahu apa yang kumaksud. Nggak ngerti? Hmmm…mangan ae yuk.

Lha mbok pikir gawe acara ngene iki gratis, gak mbayari uwong? Seni harus diangkat sedemikian rupa sehingga “mahal”! Oh ya? Baiklah. Wong ini juga cuma pendapat. Yang pasti kangen glesotan saat nonton acara-acara seperti ini. Nongkrong bareng sambil sok penting dengan membahas berbagai hal seolah yang paling ngerti, bukan hanya sekadar datang, ambil foto dan pamer. Ancen pantese nontok tandak bedes kok 😐

“Pembukaannya gratis kok, datang aja kalau nggak mau keluar uang. Ribet amat.”

Iya, nggak mau datang pas pembukaan karena bakal sesak, sesak nafas dan sesak pikiran, mumet nontok sing nontok.

Oh iya, kabarnya di acara yang akan dibuka nanti malam dan berlangsung sampai 28 Juni 2015 ini bakal ada Yoko Ono. Tema ART|JOG|8 adalah Infinity In Flux. Golek kamus kono sing gak ngerti artine. Buat pelajar tiketnya 25rb dan buat anak-anak 6-12 tahun 10rb. Nah, buat yang mau gratisan macak balita ae, gratis!

Biar tidak mumet, karena tanggal tua datang lebih cepat di tanggal yang masih satu digit seperti ini gara-gara tergoda beli buku lagi, ada baiknya berbagi resep saja.

Selain Onde-onde, Cucur adalah jajanan yang kusukai. Kalau di Surabaya, di Pasar Karangmenjangan banyak penjual Cucur (Meduro), di pasar lain juga hampir selalu ada sih. Kue manis dengan tampilan mlecor sempurna dan berminyak ini rasanya jos lah pokoke. Untuk membuat kue ini bahannya tepung beras, tepung terigu, air, gula jawa, gula pasir dan garam. Cara membuatnya, tepung beras dan tepung terigu dicampur dalam satu wadah dengan garam. Rebus air dan larutkan gula jawa dan gula pasir. Setelah larutan gula agak dingin masukkan ke adonan campuran tepung tadi. Aduk sampai rata dan biarkan adonan.

 11116033_1122923931056879_1698144124_n 11356100_1122923877723551_1025478697_n

11421504_1122923797723559_169000216_n

Dari beberapa sumber yang kubaca, adonan dibiarkan cukup lama. Ada yang 3-4 jam, tapi ada juga yang minimal 1 jam. Aku ambil tengah-tengah, sekitar 2 jam saja. Setelah digoreng, ini yang agak sulit, jadinya seperti ini.

11429948_1122923657723573_23264932_n

Secara rasa sudah oke, tidak ada masalah, tapi secara penampilan masih belum sempurna. Ya, mlecor-nya tidak seperti Cucur Madura itu, yang cantik itu. Oh iya, warnanya ini coklat bukan karena gosong tapi menyesuaikan dengan kulit yang buat :*

Advertisements

4 thoughts on “ART|JOG dan Cucur Meduro yang Tak Mlecor Sempurna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s