Bukan Mimpi yang Jadi Kenyataan, a Selfie Story

Dari kecil aku dan kakak-kakakku suka sekali membaca. Bukan hanya dari buku atau majalah, koran bekas nasi bungkus pun sering membuat kami ribut, karena rebutan ingin membaca. Kami juga suka sekali mendengarkan cerita atau dongeng dari kaset yang biasa dibelikan bapak atau hasil minjam ke tetangga. Semakin besar, kami bertiga tumbuh dengan minat masing-masing. Kakak pertama suka sekali menulis, pintar berbahasa. Kakak kedua suka ilmu pasti, hitung-hitungan. Aku? Tidak suka keduanya.

Masuk sekolah menengah pertama dan menengah atas, hobi membaca sedikit berkurang karena aktivitas lain yang kuikuti. Tapi pada masa-masa ini aku mulai suka menulis. Kalau teman-teman sebayaku suka menulis surat atau catatan harian alias diary, aku suka menulis puisi. Kalau biasanya puisi ditulis lalu disimpan, bahkan dikirimkan ke majalah, aku lebih suka membakar puisi-puisiku itu. Entah sudah berapa buku harian berisi puluhan puisi yang sudah kubakar, karena malu. Iya, aku malu kalau puisi-puisi curahan hati khas anak remaja itu sampai dibaca orang lain. Wong membaca ulang saja pipiku langsung memerah, malu *macak seolah-olah berpipi putih montok*.

Masuk bangku kuliah, anu nggak masuk bangku juga kali ya, aku semakin suka menulis. Buku catatan, kertas sobekan atau apa saja yang kupegang saat itu akan menjadi sasaran coretanku. Tenang, tidak sembarangan kok nyoretnya, kan aku pemalu dan menjunjung tinggi kebersihan serta sopan santun. Maksudnya, di barang bawaanku yang sekiranya bisa dijadikan kertas curahan aku menulis. Ketika bosan, mengantuk serta hal-hal lain yang sering terjadi saat proses belajar mendengarkan dosen di kelas, aku akan mulai mencorat-coret, nulis.

Ketika Internet semakin nge-hits, berkat informasi dari seorang teman yang tahu aku suka menulis, diperkenalkannya aku pada sebuah blog keroyokan. Dari situ jemari lentikku mulai mendapatkan “wadahnya”. Dari situ pula aku mulai berubah dari gadis yang polos dan pemalu menjadi gadis yang semakin jelita berani. Aku bahkan mulai menulis cerita dewasa, halah, maksudnya cerita tentang kehidupan orang dewasa seperti percintaan dan rumah tangga. Sayang, meski ingin sekali, sampai sekarang belum kesampaian menulis dan mempublikasikan cerita DEWASA yang menggambarkan adegan ranjang dan hal-hal yang bisa terjadi di atasnya. Eh, tapi pernah sih, cuma masih yang tahap lulus sensor.

Meskipun suka menulis, juga membaca, dan hobi menyambangi toko buku serta memelototi jejeran rak penuh buku, aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang penulis. Mimpiku sampai saat ini adalah ingin menjadi perempuan sholehah, yang bermartabat dan menjunjung tinggi adat ketimuran, terutama sekali di area perut. Wajah sudah mulai bisa manis, sedikit. Pakai rok sudah lumayan sering. Bicara juga bisa pelan dan santun. Tapi perut masih embongan. Ya, mimpiku selain ingin jadi Spiderman adalah ingin mempunyai perut yang tidak selalu lapar dan tahan godaan nasi padang serta kawan-kawannya. Perut yang rata dan tidak berubah seperti orang hamil empat bulan manakala habis makan. Mohon doanya ya.

Kata orang, aku lupa siapa, kalau ingin jadi penulis ya nulis, terus menulis. Aku tidak ingin jadi penulis, tapi ingin punya buku yang bisa dibaca-baca dan ditertawakan ketika membacanya kelak. Dari blog keroyokan, blog pribadi, semakin banyak tulisan juga teman yang kudapat. Komentar negatif ada, tapi lebih banyak teman yang mendorong sampai aku “terjatuh dan tak bisa bangkit lagi”, aye! maksudnya mendukung, sehingga akhirnya sesuatu yang tak pernah kuimpikan itu berubah menjadi kenyataan. Dari hobi menulis, saat ini aku sudah mengumpulkan tujuh buku yang kuterbitkan secara indie.

11022865_1059118314104108_1142101193_n

Latar belakang foto selfie ini adalah beberapa koleksi buku yang sudah kubaca. Buku-buku yang membuat kepalaku penuh sehingga hampir tiap hari tak bisa memejamkan mata sebelum aku mencurahkan satu atau dua coretan di laptop atau buku harian. Bagian belakang atas adalah poster sampul-sampul buku yang sudah kuterbitkan. Tulisan-tulisan yang dulunya berserakan di buku catatan, laptop juga blog saat ini sudah tersusun rapi dalam jilidan buku. Oh iya, tulisan-tulisan di buku itu hampir semuanya berbahasa Jawa. Ya, aku sudah menemukan “jalan” agar tidak malu lagi menumpahkan uneg-uneg di kepala. Aku sudah menemukan sesuatu yang cocok untuk mewujudkan keinginanku menulis cerita dewasa. Menulis cerita berbahasa Jawa Timuran seperti yang biasa ku-posting di salah satu blogku adalah passion juga path-ku.

Bukan mimpi saja jika diperjuangkan bisa menjadi kenyataan, apalagi kalau mimpi dan cita-cita yang memang diingini. Menulis postingan ini dan bermimpi semoga bisa dapat windows phone keren dari Smartfren biar tidak perlu bangun malam-malam untuk menghidupkan laptop ketika kepala penuh ide. Berani bermimpi? Kenapa tidak!

Advertisements

9 thoughts on “Bukan Mimpi yang Jadi Kenyataan, a Selfie Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s