Belanja Bareng Bu-ibu

Daster, kadang jaket, sandal jepit, dompet bekas toko emas, dan kresek. Biasa lihat perempuan dengan aksesoris seperti itu? Kamu beruntung kalau iya, setidaknya pagimu dapat pemandangan yang lumayan segar untuk bekal semangat macul seharian. Pemandangan seperti itu biasa tiap pagi kulihat, dan kemudian secara otomatis kutiru. Menggerombol di tukang sayur, hahahihi. Kalau kamu punya cukup waktu, kamu bisa tinggal lebih lama untuk update info seputar kampung aka gosip.

Sudah biasa belanja bareng ibu-ibu dan selalu bisa senyum. Senyum sapaan dan senyum-senyum sendiri melihat “polah” mereka. Tidak butuh televisi, ibu-ibu itu akan berbagi informasi kenaikan harga bahan baku, jajan anak, gosip artis juga gosip tetangga. Lengkap. Sabar adalah syarat utama belanja bareng ibu-ibu. Tidak ada antrian. Siapa cepat, dia dapat. Siapa tanggap, dia kenyang. Ya!

Aku pernah ngantri telur ayam kampung di pedagang yang juga menjual ikan wader dan kawan-kawannya. Berdiri di samping pedagangnya, menunggu antrian untuk dilayani.

“Seprapat pinten, Pak?” tanya seorang ibu yang mau membeli wader goreng.

“18.”

Si ibu diam. Tangannya mencomot ikan wader dan mulai mengunyah.

“Ora oleh kurang, Pak?”

Ibu satunya bertanya, mencoba menawar.

“Enak sing iki.”

Satu lagi ibu yang mau beli mengomentari ikan dagangan si bapak. Tentu sambil mencomot ikan di depannya.

Seperempat jam kemudian.

“17 yo, Pak.”

*Berubah jadi kodok* Si bapak sudah menimbang dan membungkus karena sebelumnya mereka sudah sepakat harga 18ribu untuk seperempat kilo ikan wader goreng. Dua ibu yang lain entah sudah makan berapa perempat kilo. 

Malu? Berjanji dalam hati tidak ingin jadi ibu-ibu yang seperti itu? Biasa dibelikan jajan sama ibu nggak di rumah? Biasa lihat ibumu makan jajan yang dia bawa sebagai oleh-oleh dari bepergian? Jajan yang dibawa pulang ibu adalah untuk anak-anaknya. Tak pernah disentuhnya, termasuk jajan atau nasi dari pengajian, selamatan tetangga, berkat tahlilan. Ibu-ibu itu nyemil saat beli jajanan agar jatahmu di rumah utuh. Ibu-ibumu tak malu, menawar sekuat tenaga agar bisa menambah uang sakumu. Lagipula ibumu tahu kok, penjual kadang memang menaikkan harga jauh dari harga sebenarnya. 

“Wes pinter saiki, Mbak.”

Ibu penjual sayur memuji pelanggannya yang selesai belanja dan hendak pulang dengan sepeda motornya.

“Diwanek-wanekne.”

Jawab si ibu yang ternyata baru belajar nyetir sepeda motor.

“Aku yo pingin tapi wedi.”

“Lek wedi terus yo ora iso-iso. Mosok arep nang ndi-ndi kon ngeterne anake.”

Lek wes ngene sing dibahas mending sisiran terus mangan ~___~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s