Ludruk Budhi Wijaya dan Asam Garam Bentara

Menonton pertunjukan ludruk bagiku secara pribadi adalah sebuah nostalgia. Selama tinggal di Yogyakarta kurang lebih tiga tahun ini, aku belum sekalipun menonton pertunjukan ludruk. Tidak mengherankan tentunya, karena ludruk adalah kesenian khas Jawa Timur.

Meminjam informasi dari Wikipedia, ludruk adalah suatu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

Kalau nonton ketoprak, yang lumayan sering digelar di beberapa acara di Yogyakarta, aku kadang harus berpikir, berbeda dengan nonton ludruk. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa Timur, bahasa ludrukan sudah sangat mendarah daging.

Pertunjukan ludruk, sejauh pengetahuanku, selalu dimulai dengan tari remo tunggal yang kemudian dilanjut dengan kidung jula-juli. Di Jawa Timur, dulu pas aku masih kecil, setidaknya seminggu dalam satu bulan selalu digelar pertunjukan ludruk, kadang bergantian dengan ketoprak. Semakin aku besar, kesenian ludruk semakin jarang tampil. Loh brarti salahku? Kudune aku nggak gede? ~__~

10933160_1026268714055735_1278292818_n

Melihat pertunjukan ludruk Budhi Wijaya dari Jombang yang semalam ditampilkan di Bentara Budaya Yogyakarta kenangan, halah, masa lalu kembali hadir. Duduk beramai-ramai di atas tikar, tepat di depan panggung, sambil menikmati camilan jagung rebus dan kacang rebus. Nikmat glesotan mana lagi yang akan didustakan? Hutang pasti akan langsung hilang, dilupakan.

Camilan teman nonton ludruk.

Camilan teman nonton ludruk.

Ngakak? Jelas. Sebagai perantau, menikmati ludruk di kota orang adalah obat rindu pada kampung halaman. Misuh sepuasnya, mendengar kata-kata yang tak bisa/biasa didengar di Yogyakarta, membuat rahang pegal, capek tertawa. Ah, tapi kesedihan selalu berhasil menemukan celah. Melihat para pemain yang sudah berumur alias sepuh jadi membayangkan sekaligus menyayangkan tidak adanya regenerasi pada kesenian ini.

10933148_1026305177385422_55905774_n

Oh iya, pertunjukan ludruk yang berjudul Topeng Kembar ini bukan satu-satunya yang digelar di BBY tadi malam. Semalam, secara resmi, di tempat yang sama, dibuka pameran lukisan Asam Garam Bentara yang memamerkan lukisan-lukisan karya para kurator Bentara Budaya, yaitu GM Sudarta, Hermanu, Ipong Purnama Sidhi, Hari Budiono, dan Wiediantoro.

Tidak paham dengan lukisan dan segala yang mendetil tentang kesenian. Hanya penikmat pertunjukan, gratisan. Beberapa foto yang aku ambil semalam aku pajang di blog ini. Why worry? All We Need is Love, right? Seperti karya Ipong Purnama Sidhi di bawah ini.

All We Need is Love karya Ipong Purnama Sidhi.

All We Need is Love karya Ipong Purnama Sidhi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s