Hari Ibu dan Selfie bersama Ibu

Pagi ini pegang handphone, buka-buka akun sosial media,  dan mendapati beberapa teman mengunggah foto selfie bersama ibu mereka. Iya, hari ini adalah Hari Ibu. Sebagai ibu dari Gendut dan beberapa anak asyu yang sudah duluan jadi ibu serta nenek dari Sulindri dan sebentar lagi akan tambah cucu lagi, maka biarkan nenek-nenek ini ikut eksis dengan selfie menulis sedikit tentang ibu.

Berbeda dari kebanyakan ibu-ibu, emak tidak pernah mengajariku membaca atau menulis. Setiap hari, sebelum anak-anaknya bangun, emak sudah sibuk dengan peralatan dapur dan sapu. Ya, semua dikerjakan sendiri. Kami tinggal mandi, terkadang sarapan, lalu berangkat sekolah. Pulang sekolah mau main atau keluyuran pun tidak masalah. Tak pernah dimintanya kami mengerjakan PR atau belajar. Maka sampai kelas 3 SD aku belum lancar membaca, a…u…a…u. Tidak ada yang tahu, karena muka sok tahu plus premanku mampu menjauhkanku dari bully-an. Btw, kalau aku sekolah sekarang pasti emak bakalan repot karena aku akan ditolak sekolah-sekolah yang mengharuskan anak lulusan TK sudah bisa baca tulis sebagai tes masuk SD. Bedebah!

sebagian dari sebagian

sebagian dari sebagian

kadiroen

sebagian dari sebagian

Tidak mengajariku baca tulis bukan berarti emak buta huruf. Sebaliknya, emak sangat suka membaca. Biasanya yang dibaca adalah novel atau roman, atau serial macam Wiro Sableng. Kalau sudah membaca, emak seperti tak peduli. Sesuatu yang menyengkelkanku. Kalau pas sekolah aku mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia seputar novel-novel karena menghafal jawaban dari soal-soal tahun sebelumnya yang kudapat dari kakak kelas, emak tidak perlu menghafal. Dia tahu karena dia sudah pernah membaca bukunya. Dan biasanya dia akan cerita dengan berapi-api tentang kisah Zainuddin dan Hayati di  novel karya HAMKA, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Lain waktu dia akan cerita tentang kisah tragis Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Cerita yang entah kakak-kakakku pernah dengan tidak dari emak. Ya, kurasa sebagai anak bungsu aku menghabiskan waktu bersama emak lebih lama dari mereka.

10850428_1009781969037743_816033978_n

sebagian dari sebagian

sebagian dari sebagian

10859521_1009781942371079_494244774_n

sebagian dari sebagian

Meski suka buku, khususnya karya fiksi, emak tidak mendapatkannya dengan membeli. Emak biasa menyewa di persewaan buku atau dari hasil pinjam ke teman-temannya yang juga suka novel. Novel-novel Mira W, Marga T dan sebangsa itu emak juga sangat menggemari. Kisah-kisahnya seputar percintaan dan drama keluarga. Terharu bahkan sampai menangis sendiri, dan berbagi cerita membahas novel-novel itu dengan temannya yang sama-sama bernama Siti.

Entah karena sudah turunan atau karena biasa melihat ibuku membaca, aku juga suka novel-novel lama. Untuk novel Mira W, Marga T atau kisah drama cinta dan keluarga aku belum suka sampai saat ini, tapi untuk novel semacam Salah Asuhan, Salah Pilih, Katak Hendak Menjadi Lembu dan sejenis itu aku suka sekali. Sudah beberapa buku semacam itu aku baca dan koleksi. Kisah tentang manusia dengan segala sifat-sifatnya, dengan bahasa yang sederhana, tanpa menggurui tapi menggena.

Kenapa emak dan temannya bisa menangis, jengkel dan tersenyum sendiri kala membaca novel-novel itu? Emak-emak zaman dulu mungkin tak seeksplisit ibu-ibu zaman sekarang yang kalau galau bisa langsung nulis status di media sosial, hang out bersama teman-temannya atau minggat dari rumah. Kisah di novel itu mereka amini karena memang seperti itu yang mereka hadapi. Menikah karena dijodohkan orang tua, harus melayani suami yang tidak mereka kenal sebelumnya, juga mengurus anak dan rumah tangga tanpa mereka menuntut lebih. Yang penting anak cukup makan, rumah rapi, suami tidak kekurangan. Btw, emak satu dari sekian perempuan yang menikah karena dijodohkan.

Membaca buku, apapun itu, kurasa sangat penting terutama bagi para ibu. Di era yang serba naik dan lombok mahal ini, seorang ibu harus mampu jadi guru untuk anak-anaknya. Bukan tidak mungkin akan semakin banyak keluarga yang tidak mampu menyekolahkan anaknya. Di sini, peran ibu tentu sangat besar. Dengan membaca, seorang ibu akan lebih tahu banyak hal. Bukan hanya mengasuh tapi dia bisa memberikan ilmunya kepada anak-anaknya. Lagian sekolah zaman sekarang ajur, kalau ibunya tidak “pintar” kasihan anaknya.

Mengoleksi buku selain untuk dibaca sendiri juga bisa untuk investasi. Buku-buku lama yang dulu banyak di perpustakaan dan sebagian saat ini banyak diperjualbelikan bisa sebagai warisan untuk anak cucu. Mereka perlu tahu sejarah bangsa ini, bukan lewat buku sejarah atau apa yang diajarkan di sekolah, tapi lewat buku-buku karya imam-imam besar yang pernah ada di negeri tercinta ini.

Saat ini aku sedang gandrung-gandrungnya memburu buku lama yang dulu dilarang. Selalu heran setelah membaca karya-karya Pram, Tan Malaka, Aidit dll. Buku sehebat itu dulu dilarang. Negara yang aneh. Ah, tidak ada yang tidak aneh di negeri ini. Hanya bisa berandai, ya seandainya mereka yang banyak bicara itu mau meluangkan waktu itu membaca buku-buku itu, masihkah mereka mencaci saudara sebangsa sendiri, mendebatkan boleh tidak boleh mengucapkan selamat natal kepada teman yang nasrani. Selo.

Saat ini aku sedang membaca Arus Balik karya Pram. Sebenarnya sudah lama beli buku ini, tapi baru kali ini mampu menekuni lembar demi lembar. Kemarin-kemarin satu dua lembar dan balik lagi. Tebalnya yang mencapai 760 halaman adalah tantangan tersendiri, hampir sama dengan dulu saat membaca buku Di Bawah Bendera Revolusi yang tidak kalah tebal. Tidak pernah menyesal  membaca tulisan-tulisan Pram. Justru sebaliknya semakin kagum, orang sehebat itu pernah ada di negeri ini.

Oh iya, aku baru saja mendapat kabar bahwa ada yang punya buku Student Hidjo. Hah! Berita bagus untuk mengawali macul dengan suasana liburan yang semakin tebal ini. Mungkin nanti yang baca blog bakal ada yang tanya, bolehkah bukuku dipinjam. Dengan tanpa mengurangi hormat, tidak boleh. Aku sudah pernah meminjamkan buku dan tidak balik. Belum lagi balik dengan kondisi yang tidak seperti semula. Jadi buat yang mau pinjam, mohon maaf. Dulu aku juga biasa minjam sih, tapi selalu bertanggung jawab. Sekarang sudah bisa cari uang sendiri, waktunya membeli sendiri. Lagipula kalau memang cinta ya usaha. Nabung atau silakan datangi perpus-perpus berdebu dan berayap itu. Gratis kok.

sebagian dari sebagian

sebagian dari sebagian

sebagian dari sebagian

sebagian dari sebagian

Pingin sih selfie sama emak merayakan Hari Ibu ini, tapi emak meninggal sebelum selfie populer seperti sekarang. So, selfie-nya ganti sama buku saja, emakku saat ini. Selamat hari ibu, emak :*

sebagian dari sebagian

sebagian dari sebagian

10665681_988857161130224_286648139426034327_n

Note: menerima sumbangan buku juga informasi seputar buku-buku lama 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Hari Ibu dan Selfie bersama Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s