Memasak Sebagai Upaya Menyelamatkan Kantong dan Selera Anak Kos

Hai!

Pasti sudah pada nunggu updatan blog ini kan? Baiklah, demi sekian ribu pembaca setia blog ini yang kebanyakan khayalan, aku mau cerita tentang sesuatu yang ringan-ringan saja #seolaholahtahunulisingabotdanpenting

Pagi yang gerimis ini aku mau cerita tentang perkenalanku dengan alat-alat juga bumbu dapur. Yes, sebagai seorang putri yang sepedanya pernah tertukar dengan sepeda yang lebih bagus (antara rabun karo niat kate nyolong) aku tidak terbiasa bergelut dengan hal-hal tadi. Lagian dapur beserta isinya bukan untuk dijak gelut tapi disyukuri hasil karyanya dengan makan sewareg-wareg-nya, menyenangkan hati yang telah susah payah memasak kan?

Baru sekitar dua tahun lalu aku mulai menggunakan peralatan dapur dan mencoba mengenali fungsi bumbu-bumbu dapur. Kata orang tua, guduk sing seneng mendem kae, “Di balik kesusahan pasti ada hikmah.” Aku yang waktu itu adalah seorang pengangguran, mbambung di kota orang, tak berani minta kiriman uang (meski tetap dikirimi) dan mencoba menggantungkan nasib pada tulisan yang dikirim ke media cetak, harus berhemat agar bisa melangsungkan hidup di perantauan. Deng deng! (untuk soundtrack tolong putar lagu Slowly We Rot biar syahdu). Makan di rumah tetangga nggak mungkin, sama-sama anak kos tahu dong isi kantong kurang lebih sama. Makan di warung jelas adalah pilihan yang paling tepat untuk dikurangi.

Awal belajar masak bahan utama yang aku pilih antara tahu dan tempe, tempe dan tahu dengan sedikit bumbu. Menggoreng adalah kegiatan memasak yang paling sering dihindari. Ya, minyak panas di wajan itu menakutkan bagi mereka yang tidak terbiasa. Sup tahu, sambel tempe, pindang sambal terasi atau sambal bawang jadi favorit waktu itu. Mudah, cepat dan murah. Tapi masak itu-itu saja tentu tidak menyenangkan dan membosankan. Hemat tapi selera tetap harus dijaga, maka bahan-bahan utama juga bumbu-bumbu yang kugunakan pun semakin merambah, terutama saat aku mulai dapat kerjaan.

Masakan enak tidak itu kata orang hanya masalah selera. Ada yang senangnya gurih, manis atau pedas. Well, mungkin. Tapi masakan enak dan tidak enak itu tetap ada standarnya, ada “aturan” yang harus dipenuhi untuk sebuah masakan bisa disebut enak. Seperti kata Emak, masak itu tidak boleh pelit bumbu. Bahan utama boleh dikurangi tapi bumbu tidak!

Sedikit cerita tentang pengalamanku mencicipi masakan orang. Waktu itu aku masih kecil, lucu dan imut, suasananya sedang hujan deras. Aku yang sedang main ke rumah Om Djon disuguhi Kolak Pisang. Selama aku makan kolak itu air mataku tak henti-hentinya menetes. Dia terus mengalir seiring sendok yang terus saja kujejalkan ke mulutku. Aku terharu. Di rumah aku belum pernah makan makanan seperti ini. Santannya pecah, penampilannya sangat tidak bagus, rasanya pun jauh dari yang biasa dimasak Emak. Tapi makannya habis? Iya. Bapakku mengajarkan kalau disuguhi orang harus diterima/mau dan dihabiskan. Lagian aku juga lapar.

Selain menghina seorang jomblo, masak tidak enak adalah sebuah kejahatan, besar. Negeri kita ini begitu kaya dengan rempah-rempah, mesti rakyatnya banyak yang bermental tidak kaya. Lagian kaya atau miskin bukan alasan. Sedang kere atau baru gajian pun, masakan Emak tidak pernah kehilangan cita rasanya. Semua terletak pada cara mengolah dan bumbunya. Di kampung-kampung pun, kalau kalian pernah coba, yang dimasak bukan daging, ayam atau ikan, kebanyakan daun-daun yang diambil dari kebun sendiri tapi rasanya jos, jos sampai tetesan kuah terakhir. Satu yang dulu aku tak berani coba tapi jadi favorit para tetangga, Jangan Lombok. Sesuai namanya, isinya adalah cabe rawit dimasak dengan santan. Yang makan akan keringetan, nangis-nangis tapi bahagia.

Aku lahir dan besar di Jawa Timur. Selera makananku adalah gurih dan pedas. Di Yogyakarta selera ini sulit ditemui. Maka hanya dengan memasak sendiri, mengingat juga bertanya resep masakan yang biasa aku makan, seleraku ini bisa terpenuhi. Oh iya dari belajar memasak ini aku jadi suka sayur-sayuran seperti brokoli dan teman-temannya. Jika tidak bisa itu seringnya karena tidak mau, kurasa tidak suka bisa jadi karena belum merasakan saja.

Langkah penghematan dan menjaga selera makanan ini juga sangat terasa sekali bagiku. Jika masak, dalam sehari aku cukup mengeluarkan uang sekitar 5-10rb dengan menu mulai dari tempe sampai ayam. Bandingkan jika harus makan di warung, sekali makan setidaknya harus mengeluarkan uang 5rb dengan porsi nasi dan lauk yang teriris-iris. Kalau makannya sehari sekali dan mau menu yang itu-itu saja. Untuk orang sepertiku yang punya prinsip, selain sholat lima waktu, makan tiga kali sehari adalah wajib hukumnya, tentu berat (mlebu sarung sak gurunge dibakar massa).

Sudah masak, berhemat-hemat kok sik kere?

Lha mbok pikir urip ki mung mangan thok. Mbayar SPP, tuku buku, dll iku gak atek duit? Hah? Lagian hidup cuma sekali kok (cuma jadi) kaya. Kere akan membuat kita lebih dekat dengan masyarakat banyak, dengan bangsa dan negara. Lebih lanjut, kere akan membuat kita lebih kreatif dan pintar karena kita harus sering-sering mutar otak, berpikir makan apa kita esok hari! Lagian apa enaknya sih bisa makan nasi padang setiap hari? Apa??? Paling-paling juga stroke liat kantong yang jebol, kembang kempis di tengah bulan. Terutama kalau beli nasi padangnya di…di…boleh sebut merek nggak ya…di warung nasi padang yang itu, di sebelah gang kosan itu…ho oh di pinggir Jalan Kaliurang itu. Bye!

maem

 ***

Advertisements

4 thoughts on “Memasak Sebagai Upaya Menyelamatkan Kantong dan Selera Anak Kos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s