Putri Odong-Odong 2014

Selama hidupku yang menggemaskan ini, baru tiga kali aku mengikuti karnaval. Karnaval pertama yang kuikuti adalah saat aku masih imut-imutnya, belum sekolah. Karnaval Tujuhbelasan yang setiap tahun dilakukan untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Waktu itu, bapak bersama para tetangga membuat replika Gunung Kelud dari bahan koran dan kertas semen bekas. “Gunung Kelud” buatan tadi dinaikkan di atas gerobak dan didorong beramai-ramai. Sekali-kali saat jalan ramai penonton para pendorong ini membakar mercon, seolah-olah gunung meletus. Aku? Sesekali jalan dan sesekali nggandol di gerobak, masuk ke dalam “gunung”. Agar semakin menggemaskan, mukaku dicoreng pakai arang. Hah!

Karnaval kedua saat aku SMP, kelas dua kalau tidak salah. Aku mendapat jatah jadi pelajar alias nggak perlu dandan, cukup seperti kalau mau berangkat sekolah. Tahun-tahun yang lain aku bebas dari kewajiban jalan kaki di bawah terik matahari dengan jalur sekitar lima kilometer berkat tubuh kecil kurusku.

Beberapa hari lalu Mesha, salah satu personil Kempol Super, mengirim pesan singkat,”Jon, tgl 28 gelem ikutan pawai dari dinas pariwisata gak?” dan jawabannya, “Ho oh, gelem. Budal!” Maka Minggu kemarin, Duo Kempol Super aka Duo Pesek yang punya moto Pesek Bersatu Tak Bisa Dimancungkan bergerak menuju Parkiran Abu Bakar Ali bersama para peserta karnaval lainnya. Oh iya karnaval ini diadakan oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Sedunia dan dinamakan Karnaval Andong, Becak dan Sepeda Wisata.

Ngomong karnaval tentu harus membahas kostum. Tadinya aku mau pakai baju seperti ini…

Black-Bridesmaid-Dresses copy

Mesha dengan kostum ini…

jon

Tapi karena tidak ingin Mbak dan Mas Dimas Diajeng merasa tersaingi, kami pun sepakat memakai kostum yang bisa menonjolkan kelebihan kami yaitu kulit eksotik, hidung seadanya dan kempol sebesar-besarnya. Baju tidak perlu menyewa atau membeli lagi, kami sudah punya kebaya embah-embah bekas yang dulu kami beli di Pasar Beringharjo. Make up? Well, mesti tak pintar tapi kalau cuma dandan ala gadis desa saja kami bisa.

BymcUNrCUAEaH9c

Oh iya, dalam karnaval ini kami adalah salah satu wakil dari Paguyuban Sepeda Wisata Alun-Alun Kidul, Yogyakarta yang sedianya bergabung dengan kelompok Jemparingan alias para pemanah. Kami mulai mengayuh Odong-Odong dari kawasan Alkid dengan diiringi lagu-lagu dari JHF.

10418945_10203935196572993_2835178827271283858_n

Foto punya Om Daniel Suharta

 

Aku dan Mesha nggak banyak motret peserta-peserta yang lain karena jarik kami ambyar dibuat ngayuh, jadi memilih duduk manis di Odong-Odong.

10712696_957322487617025_1533490421459298961_n

10639560_957322454283695_3335088690626097613_n

Video persiapan karnaval bisa dilihat di sini Putri Odong-Odong.

Sekian dan mari mancal!
***
Advertisements

8 thoughts on “Putri Odong-Odong 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s