Someday

someday

Gambarnya Sapi.

 

“Sial!” maki Arda begitu melihat jam di telepon genggamnya.

Pagi selalu datang terlalu cepat bagi cowok itu. Entah pukul berapa dia tidur semalam, tertidur lebih tepatnya. Malam? Bukan juga, dini hari karena telinganya sempat mendengar adzan shubuh dari masjid dekat kosnya. Bergegas dia bangun. Tak mungkin sempat mandi. Dibasuh muka sekenanya.

“Sial!” makinya sekali lagi.

Dilarikan sepeda motor bututnya memecah jalanan yang sudah ramai.

“Bangun pagi itu menyegarkan lho. Nggak buru-buru dan pastinya kamu bisa liat indahnya saat matahari mulai terbit, sunrise.”

“Tiap hari juga liat matahari,” kata Arda.

“Beda dong. Sunrise itu seperti bayi yang baru lahir. Dia membawa kehangatan juga keceriaan.”

Arda diam. Pandangannya lurus ke depan. Pandangan yang tak membentur apapun karena gelap. Tubuhnya menggigil pelan.

“Kenapa kamu membencinya?”

“Siapa?” Arda balik bertanya.

Sunrise.

Arda belum sempat membuka bibirnya ketika cewek di sampingnya berteriak kegirangan.

“Liat, dia sudah muncul! Itu…liat! Cantik.”

“Buta ya?” teriak seorang laki-laki setengah baya.

Hampir saja Arda menabrak seorang pejalan kaki. Ah, bukan salahnya. Tak seharusnya laki-laki itu berjalan di badan jalan seperti tadi apalagi saat jalanan sedang ramai seperti ini. Arda lupa kalau pejalan seperti laki-laki tadi pun tak punya pilihan. Trotoar sudah habis dimakan pedagang kaki lima.

***

“Jadi berangkatkan?” tanya Danu.

“Nggak tau, lagi bokek.”

“Sejak kapan nggak punya duit menghalangimu? Pokoknya kutunggu di tempat biasa, bosen aku. Cuaca sedang bagus, kita pasti dapat sunrise di sana nanti.”

Arda diam. Dipandangi paper hasil kerjanya semalaman yang masih bersih. Dosennya tak mau menerima karena Arda telat.

“Hai, aku Sophie.”

Arda yang kedinginan diam.

“Suka naik gunung kok masih kedinginan?” tanya si cewek sambil tersenyum.

Tanpa diminta, cewek bernama Sophie itu langsung mengambil duduk di samping Arda.

“Sering ke sini?” tanyanya lagi.

“Nggak juga, kalo diajak aja,” kali ini Arda menjawab.

“Sebentar lagi matahari muncul, pasti nanti berkurang dinginnya.”

Cewek berisik, batin Arda. Bagi Arda jam-jam seperti ini adalah saat yang tepat untuk tidur. Dingin, lelah setelah mendaki dan begadang akan membuatnya cepat tidur, tanpa pikiran. Arda menguap, memberi tanda kalau dia ingin memejamkan mata.

“Aneh. Biasa kalo di tempat seperti ini, high place, yang dicari sunrise, lha ini malah mau tidur,” kata si cewek sambil terus tersenyum.

“Sudah, ke ruangannya aja. Sapa tau masih mau menerima. Kalo di kelas kan takut nanti yang lain pada ikut-ikutan telat,” kata Danu membuyarkan lamunan Arda.

Arda bergeming. Sebaliknya, dikeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya.

High place, apa yang kucari di sana?” kata batin yang dihembuskannya lewat kepulan asap dari mulutnya.

***

“Coffee?”

“Trimakasih,” kata Arda sambil menerima cangkir aluminium kecil yang disodorkan padanya.

Dalam hitungan detik Arda mulai menikmati aliran candu yang memenuhi sistem pencernaannya. Sangat pas, tidak manis tak juga pahit. Tak terasa bibir Arda menyunggingkan senyum.

“Hahaha kamu manis juga kalo lagi senyum.”

Hampir saja Arda tersedak. Kepalang basah, dilebarkan senyumnya sebagai ungkapan terimakasih.

“Sering ke sini?” kali ini Arda yang bertanya.

“Lumayan sering. Tidak jauh dan tidak terlalu tinggi,” jawabnya dengan bibir penuh senyum.

“Cewek sepertimu apa masih peduli dengan ketinggian?”

Kali ini cewek itu terdiam. Senyumnya yang tadi lebar menipis. Pandangannya lurus ke depan.

“Menikmati apa yang masih bisa dinikmati,” katanya kemudian.

Arda tak mengerti. Bisa juga cewek berisik itu serius, batinnya.

“Hidup itu seperti secangkir kopi. Ada yang pahit, ada yang manis,” katanya lagi.

“Kita berhenti dulu, kabut terlalu tebal!”

Danu meletakkan carrier-nya. Dalam hati dia memaki. Bisa-bisanya cuaca berubah sedrastis ini. Rencananya untuk mencapai puncak dan melihat sunrise bisa buyar.

“Sudah, nggak usah maksa. Berhenti dulu sekalian istirahat,” kata Arda.

Danu masih menggerutu. Arda yang kemarin ogah-ogahan ketika diajak terlihat lebih tenang. Yang seperti ini sudah sering terjadi. Puncak bukan segalanya, keselamatanlah yang harus diutamakan.

“Kita istirahat sambil bikin kopi dulu,” kata salah seorang dari rombongan.

***

“Ahay….” teriak Danu puas.

“Dasar gila,” kata Arda.

Sebentar lagi matahari akan terbit dan mereka sudah berada di puncak.

“Kopimu masih ada?” tanya Danu.

“Masih, ambil saja.”

Arda meletakkan pantatnya perlahan. Dingin yang masih menusuk tersamar oleh rasa, sebuah kedekatan entah pada apa. Langit di hadapannya mulai membiaskan warna. Sunrise, akhirnya dia tiba. Pada suatu ketinggian ada beragam rasa berkecamuk, tentang matahari terbit, kopi, puncak juga seorang gadis, kamu.

You are the reason I am here today. Kamulah yang kucari pada ketinggian ini. Kamu yang tak pernah kusentuh, entah tak tersentuh. Di tempat seperti ini, pada suatu ketinggian, kuharap bisa menemukan sosokmu.”

Hanya bisikan, bisikan hati. Tak terucap oleh bibir, bibir yang beku menahan dingin.

“Apa aku mengenalmu? Apa kita pernah benar-benar bertemu? Atau jangan-jangan kamu hanya sosok yang muncul dari candu yang kuteguk pagi itu.”

Lagi-lagi hanya kata yang bisu.

“Aku tidak membenci sunrise. Aku hanya sering melewatkannya.”

Sunrise…

High place…

Coffee

You…

adalah candu yang membawaku kembali dan terus kembali ke puncak ini. Someday, ya suatu saat nanti mungkin akan kutemukan sosokmu bukan pada matahari terbit, ketinggian atau kopi tapi benar-benar kamu, di hadapanku.

***

* ilustrasi dan inspirasi diambil dari blognya si Sapi, miss you.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s