19th YGF 2014

10603446_931870123495595_6257316479507065429_n

Setelah ban kempes-bocor-kempes yang nggak jelas, akhirnya kemarin sore berhasil juga masuk ke Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta untuk menyaksikan Yogyakarta Gamelan Festival 2014. Bersama puluhan alay terstruktur, masif dan sistemis lainnya, aku dan teman-temanku sempat kecelek setelah mendengar “komando”, mari menyaksikan, tapi ternyata gerbang belum bisa dibuka.

Festival gamelan yang digelar kesembilanbelas kalinya ini masih seperti biasa, tidak memberlakukan tiket masuk alias gratis. Tema yang dipakai YGF tahun ini adalah Belongs to Everyone. Dibuka dengan cukup menarik oleh Pradapa Loka Bhakti dari Pacitan, Jawa Timur, kami yang dapat lesehan di belakang dengan ikhlas bertepuk tangan. Keikhlasan yang kemudian berubah menjadi kengantukan setelah penampil pertama turun.

Penonton yang tadi berebutan mencari tempat duduk mulai bergulir, keluar, diganti penonton yang belum dapat tempat duduk dan penonton yang baru masuk. Aku dan teman-temanku yang sedang macak kemping di Seruni mulai berandai-andai dan mengenang kisah lama. Emak-emak lek kumpul akhire ngunu-ngunu ae, boyoken dan ngeling-eling sing biyen-biyen.

Biyasa. YGF tadi malam tak terasa istimewa buatku, tak terasa “baru”. Kalau mau diandaikan, penampilan semalam seperti Jangan Lombok Lawuh Swiwi yang kupesan di salah satu stan makanan di Pasar Kangen kemarin sore. Jangan Lombok yang enak sih tapi tidak pedas sama sekali. Bicara makanan, menggok sithik, kalau di daerahku yang namanya Jangan Lombok itu sayur lombok dalam arti yang sebenarnya, isinya cawe rabit dan sangat pedas. Trimo mencret wes lek sing gak biasa mangan.

Nggak bisa main aja sok-sokan ngritik!

~ Tulisan ini terlalu apalah untuk disebut sebagai kritik. Tulisan ini cuma sebatas “meludah.”

Blajar gitar gak apal-apal kunci ae, nggaya!

~ Yo santi. Ini kan pendapat pribadi, bukan untuk mengecilkan festival ini, apalagi buat panitia, peserta dan semua yang terlibat di dalamnya, yang sudah bekerja keras memberi tontonan gratis dan bertujuan mulia melestarikan budaya bangsa.

Yang kutonton tadi malam baru sekian dari sekian yang akan ditampilkan di YGF 2014. Hari ini dan besok masih ada penampil-penampil lain yang mungkin akan lebih “pedas.” Sembilan belas tahun kalau anak sekarang mungkin sudah jadi alay, koyok aku, tapi semoga tidak begitu dengan Yogyakarta Gamelan Festival. Jangan hanya sekadar “fashion”. Aku yakin mereka yang bekerja di belakang acara ini punya kecintaan dan kepedulian luar biasa tentang gamelan, khususnya.

Akhirul kalam, mari sudahi tulisan ini dengan foto alay-ku bersama teman-teman dan Cak Lontong cabang Kaliurang.

10407234_931870303495577_346370157068894928_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s