Negeri di Bawah Kabut (The Land Beneath The Fog), Film yang Membuat Adem Panas

Aku nonton film ini sekitar setahun yang lalu, lebih, tapi sampai saat ini masih bisa merasakan “adem”-nya. Kalau tidak salah, waktu itu film ini diputar saat Festival Film Dokumenter di Taman Budaya Yogyakarta. Film karya Shalahuddin Siregar ini bercerita tentang kehidupan para petani yang tinggal di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah.

Seperti judulnya, di film ini penonton akan banyak melihat kabut. Sebuah desa yang elok, di bawah lereng gunung, dengan hamparan lahan pertanian bernama Genikan. Adem. Menonton film ini aku merasa adem dan kademen. Adem karena indahnya pemandangan  yang disuguhkan adalah dambaan orang-orang kota yang biasa tinggal di kota besar dengan ribuan kendaraan lalu-lalang, yang bukan hanya bising tapi juga menyebar polusi, sepertiku. Kademen karena kabut yang ditangkap kamera dan disuguhkan di layar seolah keluar dan menyelimutiku. Tak bisa kubayangkan jika setiap hari aku harus bangun pagi-pagi sekali, bahkan tengah malam, untuk menengok ladang. Sedang sekali-kali saja perutku sudah mulas dan tak bisa menahan pipis.

Untuk sebuah film dokumenter, film ini cukup panjang. Durasi film ini 105 menit. Semakin ke belakang adem yang awalnya sangat terasa akan berubah “memanas.” Bukan karena ada adegan panas di film ini tapi karena film ini menyuguhkan realita kehidupan petani Indonesia dengan segala permasalahannya. “Musuh” petani adalah alam, seperti bencana alam, perubahan musim yang tidak pasti atau serangan hama. Yang seperti ini masih bisa dihadapi dengan “adem”, seperti yang juga kulihat di film ini. Tapi, “musuh” petani sebenarnya bukanlah alam, menurutku. “Musuh” sebenarnya inilah yang membuat panas. Bagaimana petani yang tidak setiap hari atau bulan bisa mendapatkan hasil kerjanya itu harus memutar otak dengan keras menghadapi mahalnya pupuk dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Dua keluarga yang menjadi fokus di film ini adalah potret nyata sebagian besar penduduk di negeri ini. Kemiskinan yang mengakar dan melingkari kehidupan mereka seolah kabut. Sekolah yang tidak terjangkau di negara yang katanya menjamin pendidikan warga negaranya ini. Miris juga gemas, bahwa kenyataan (masalah) seperti ini sangat dekat dengan kita dan bukan hal baru tetapi sepertinya tidak pernah mendapatkan solusi. Pupuk murah? Sekolah gratis? You tell me!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s