Mbanci Nang Salon

Setelah hampir dua minggu berkutat dengan pacul dan mengalami kelelahan secara fisik dan psikis yang kemudian menyebabkan aura kemanusiaan semakin memudar, akhirnya kemarin aku memutuskan menyambangi salon. Berhari-hari kurang tidur meski tetap enak makan membuat badan ini kaku semua. Kebetulan dekat kos ada salon khusus cewek yang menyediakan paket massage alias pijat plus plus plus, maka ke salon inilah aku kemarin mengademkan diri.

Jam kerja, salon masih sepi. Langsung daftar di resepsionis.
“Paketnya bisa diganti, Mbak? Yang facial nggak usah,” tanyaku.
“Bisa. Mau diganti apa, Mbak? Pedicure, manicure, totok wajah, ratus…”
“Ratus diapain, Mbak?”
“Vaginanya diuap…”
“Oh, totok wajah saja.”

Duduk sebentar tidak sampai lima menit, namaku sudah dipanggil. Seorang Mbak yang akan “ngramut” sudah siap. Masuk ke ruangan remang-remang dengan kasur ukuran single dan AC yang sepoi-sepoi, Si Mbak menyerahkan beberapa barang ke aku.

“Ini panty-nya, ini selimutnya. Nanti barang Mbak masukin semua ke loker. Gantinya di sini saja, saya tunggu di luar,” begitu kata Si Mbak.
Tidak kaget sih, cuma isin sithik. Panty-nya ini sempak dari kertas itu lho ~__~. Maka pagi itu kupasrahkan tubuh ini pada Si Mbak salon. Acara pertama adalah dipijat. Si Mbak memijat dengan melumuri semacam minyak, kalau menurutku sih minyak zaitun. Lumayan lah, bukan minyak tanah atau minyak tawon, iso muntah-muntah aku. Si Mbak mijat kurang lebih 30 menit dan aku langsung kayak orang teler, ngantuk.

“Dadanya iya nggak, Mbak?”
“Nggak usah,” kataku isin-isin.
Mbak’e ki takoke lho, kan aku isin, Mbak!
“Permisi Mbak Rina, saya naik ya,” ijin Si Mbak.
Duh, Mbak, ngko tibo sampeyan. Kate mijet kok malah penekan. Hanya di kepalaku saja, yang terjadi sebenarnya aku hanya mengangguk pelan, wes teler.

Pijat memijat sudah selesai, waktunya sesi berikutnya yaitu luluran. Pas sesi ini badanku sebentar-bentar begidik, kedinginan. Selimut yang dimaksud Si Mbak tadi cuma selembar kain jarik tipis yang sebentar-sebentar diingirno.

“Mbaknya rutin olahraga?” tanyanya.
“Kadang sih, Mbak. Yang rutin ya sepedaan,” jawabku.
“Pantes badannya siset, atos.”
Ngok! Mesti Mbak’e kate ngomong awakku koyok kuli tapi dialusno. Iya kan? Jujur saja kamu, Mbak, nggak usah boong sama aku!

Selesai kademen dan luluran aku dimasukkan ke mesin uap, halah. Itu lho kotakan yang dalamnya ada kompornya, cuma kepala kita yang mecungul selebihnya di dalam. Anget! 15 menit di mesin uap rasa kantukku tak tertahankan lagi, tidur lagi. Selesai diuap balik lagi ke kasur. Si Mbak entah mengeluarkan apa, yang pasti kemudian kurasakan seluruh badanku dilabur karo Si Mbak. Ternyata Si Mbak lagi ngasih masker.

Saat sesi maskeran ini aku kembali menggigil, kedinginan. Pingin kentut, pingin pipis tapi tak bisa karena aku harus nunggu maskernya kering. Akhirnya pasrah dan lagi-lagi tertidur. Sesi selanjutnya adalah totok wajah, untuk mengembalikan aura keasyuan.

“Mau sekalian pakai baju atau kemben, Mbak?” tanya Si Mbak setelah sesi totok wajah selesai.
“Ganti baju langsung saja,” jawabku.
“Ya udah, nanti kalau selesai berendam tombol di bawah ditekan saja. Airnya akan masuk ke dalam. Handuknya di atas dan bilasnya di samping.”

Baiklah. Maka aku yang kademen kemudian slulup di bathtup yang sudah diisi air hangat dan sepertinya susu Indom*&^ satu sachet. Enak! 15 menit waktu yang diberikan Si Mbak untukku slulup dan mandi. 15 menit yang kumanfaatkan untuk macak lumba-lumba. Keluar dari sesi berendam, Si Mbak sudah menunggu untuk memberikan perawatan terakhir yaitu Hair Spa. Pilihanku jatuh pada rasa coklat, lumayan iso didilati lek luwe.

Hah! Pantes ae wedokan kae lek nang salon seneng eram, enak. Maka siang itu aku memutuskan satu hal penting dalam hidupku. Aku akan mengurangi makan nasi padang dan mengalihkan dana nasi padang untuk pijet di salon saja! Lumayan, awak seger ati seneng dan aura asyu pun tetap terjaga bahkan cemlorot.

Selesai membayar, 125ribu untuk paket yang dinamakan paket mini ini, aku membuka pintu salon dengan tingkat kepedean naik lebih dari 100%. Dan…..hujan sodara-sodara! Wes ayu-ayu diudani, rek! Maka tidak ada pilihan karena mobil sedang dipinjam yang punya, aku pun mlayu nang kosan.

Postingan ini, satu untuk pamer pernah merasakan Body Spa, dua untuk sedikit petunjuk bagi perempuan di luar sana yang belum pernah merasakan Body Spa agar punya gambaran dan tidak terlalu memalukan pas di salon nanti. Akhir kata, seasyu apapun kamu, tetep koen kudu macul lek pingin iso mangan!

Bandingkan perbedaannya.

Bandingkan perbedaannya.

***

Advertisements

10 thoughts on “Mbanci Nang Salon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s