Art Jog 14, Ajang Foto-Foto

150 dolls karya Samsul Arifin.

150 dolls karya Samsul Arifin.

Hampir tiga tahun tinggal di Yogyakarta, tiga kali sudah aku melihat Art Jog digelar di kota ini. Tahun ini, Art Jog mengambil tema Legacies of Power. Menurut yang aku baca tema ini merujuk pada momen penting bangsa kita yang akan menggelar hajatan besar, yaitu Pemilu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Art Jog 2014 akan memperlakukan sistem tiket bagi pengunjungnya. Menurut yang aku baca lagi, penyelenggara (Hery Pemad Art Management, HPAM) mendapat masukan bahwa kalau acara ini digratiskan tidak akan mendidik pengunjung untuk menghargai karya seni.

Masalah kurang menghargai karya seni aku sangat setuju sekali, bukan masalah tiketnya karena menghargai bagiku bukan melulu harga atau uang. Ajang seperti ini, dari sekian yang pernah kulihat, hanya jadi ajang foto-foto. Datang–> foto-foto –> unggah ke media sosial aka pamer–>banyak yang like–> (merasa) keren. Apakah salah? Apakah nggak boleh? Yo sak karep. Aku sendiri tidak mengerti seni. Tak lebih baik dari itu. Cuma kemarin sempat gemes di lokasi pas lihat patungnya dipegang-pegang, disenggol-senggol pengunjung yang bingung mengambil spot foto. Tidak sepenuhnya salah pengunjung menurutku, karena tidak ada tanda peringatan. Misalnya, untuk karya seni, yang kalau tidak salah judulnya 150 dolls karya Samsul Arifin, yang dipajang di halaman depan, tanda peringatan ditulis dalam bahasa Inggris dan sangat kecil plus letaknya yang di bawah semata kaki nyaris membuatnya hilang.

Untitled karya Leonardiansyah Allenda

Untitled karya Leonardiansyah Allenda

Pengunjung yang tidak ingin membayar tiket, lebih banyak yang memilih foto-foto dengan boneka-boneka karung goni di depan. Bahkan banyak juga yang duduk di panggung, juga naik beberapa tangga dan bisa dibayangkan apa yang terjadi kemudian. Musim liburan seperti saat ini, Yogyakarta diserbu wisatawan. Letak Taman Budaya Yogyakarta yang menjadi tempat Art Jog 2014 diselenggarakan sangat strategis karena dekat dengan Pasar Beringharjo, Shopping dan Taman Pintar yang menjadi tujuan wisatawan. Boneka-boneka goni itupun kemarin kulihat jadi “bancakan”.

Play With Me karya M.A Roziq

Play With Me karya M.A Roziq

Mendidik masyarakat menghargai karya seni adalah jalan yang sangat panjang. Di negara ini, seni belum mendapat banyak tempat juga belum dianggap sesuatu yang penting. Seniman banyak, pengunjung pagelaran atau event kesenian juga mbludak-mbludak tapi ya itu tadi, masih sebatas siklus tadi. Lalu di mana peran pemerintah untuk mendidik masyarakat? Halah, mending turu timbang mikirno pemerintah. Pendidikan dan urusan perut rakyat saja tidak dianggap apalagi masalah seni. Paling banter ya, dan monyetpun tahu, ajang seperti ini hanya dipedulikan “pemerintah” yang sedang caper. Ikut mejeng seolah peduli seni padahal hanya peduli “suara”. Maka, “Mari berkarya, lupakan negara!”

*Macak kalkulator, eh kurator*

***

Hery Pemad Art Management (HPAM)
Hery Pemad Art Management (HPAM)
Hery Pemad Art Management (HPAM)mendapat masukan yang bilang kalau digratiskan tidak akan mendidik mereka (pengunjung) untuk menghargai karya seni.
Advertisements

2 thoughts on “Art Jog 14, Ajang Foto-Foto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s