Me(P)-Ka-eL

Minggu kemarin aku dan temanku, Pipit, seperti yang sudah direncanakan, membuka lapak kecil di Sunmor, UGM. Sebenarnya rencana dari Minggu sebelumnya, akan tetapi karena jadwal yang padat kami baru bisa mewujudkannya kemarin *macak calon presiden*. Shubuh kami sudah bangun dan siap meluncur tapi berhubung kasur terlalu menggoda kami pun melanjutkan sedikit mimpi kami. Setelah buang hajat dan kesadaran diri mulai kembali, kami memutuskan berangkat. Ya sekitar jam 5.10 WIB lah.

IMG_20140601_054804

Tumbasen, lik, sakno.

 

Jalanan masih sepi tapi tidak di Sunmor. Beberapa pedagang sudah mendirikan tenda-tenda. Kami berdua pun mulai memilih lapak yang kosong. Baru saja kami menurunkan dagangan, se-kresek besar baju ditambah ransel berisi buku dan baju juga, seorang bapak yang entah dari mana dan apa jabatannya mengusir kami. Bla…bla…bla yang intinya kami tidak boleh di situ karena bla..bla..bla (bla yang kedua tidak jelas, bapaknya entah ngomong apa kemu). Sebagai anak baru kami pun manut, pindah ke tempat yang ditunjuk si bapak. Mesti dongkol karena aku sempat tanya ke Mbak yang menempati lapak sebelah yang mau kami pakai juga tidak kenal si bapak dan setahu dia lapak tadi masih kosong.

Bukan hanya kami berdua yang disuruh pindah tapi juga dua orang mbak yang juga mau jualan mengalami nasib sama. Setelah pindah kami pun mulai meletakkan dagangan kami dan menata matras, bersebelahan sama dua mbak tadi. Belum sampai lima menit si bapak muncul lagi dan meminta kami pindah ke tempat yang kami pilih semula. Gusti! Langsung saja bayanganku melayang ke para pedagang kaki lima alias PKL yang biasa diusir petugas Kamtib.

Tak mau ambil pusing, setelah pindah ke tempat semula, kami pun mulai menata dagangan kami lagi. Langit masih gelap, belum ada pembeli tentunya. Tak lama karena sebelum pukul enam orang mulai berdatangan. Baju-baju yang kami tata sesuai harga mulai “obrak-abrik” para calon pembeli yang kebanyakan ibu-ibu. Dua mbak yang aku ceritakan tadi juga jualan baju bekas, sama seperti kami. Bedanya adalah pada baju-baju mereka dan prejengan mereka yang bagus, tak seperti kami yang mirip gembel terusir dari rumah meski tetap keren, halah! Baju-baju mereka juga bagus-bagus. Eh punya kami juga bagus, bagus versi kami tentunya. Baju kami tak banyak warna, gelap, segelap penjualnya. Tapi baju kami bersih, sebersih niat kami mencari uang demi keluarga. Halah kuadrat!

Ibu ini semangat sekali menawar.

Ibu ini semangat sekali menawar.

Sudah pernah belanja sama ibu-ibu? Atau transaksi jual beli sama ibu-ibu? Mungkin buat kamu yang merindukan rayuan silakan coba jualan yang segmen pembelinya ibu-ibu. Maut cenderung sadis. Segala alasan kami utarakan untuk mempertahankan harga tapi seribu cara juga mereka menyerang pertahanan kami. Seorang mbak yang tertarik dengan salah satu baju yang kami jual berargumen baju kami bekas, biasanya lima ribuan saja (alasan yang dipakai hampir semua calon pembeli kami). Kubalas argumen mbaknya dengan bilang kalau baju bekas kami beda, karena jelas asal usulnya.

“Memangnya bekas siapa?” tanya si Mbak.

“Bekas kita (kutunjuk diriku dan Pipit).”

Si mbak langsung memandangku dan memilih pergi. Ketoke de’e langsung gilo ngunu. Aku dan temanku memang membuat tulisan harga untuk dagangan kami dengan coretan yang mungkin sedikit mampu menarik calon pembeli sekaligus menggelitik. Tulisannya seperti foto di bawah ini. Tulisan yang membuat pengunjung Sunmor yang lewat lapak kami berbisik-bisik sambil senyum-senyum ke pasangan masing-masing.

IMG_20140601_060122

Promo kami.

 

Belum sampai pukul 09.00 aku sudah kebelet pipis dan Pipit keluwen. Tapi kami mencoba bertahan. Dagangan kami masih belum habis, plus Sunmor juga masih ramai. Oh iya, di sebelah lapak kami ada mbak dan adik ceweknya yang membuka lapak celana legging motif. Si mbak ini juga baru pertama jualan di Sunmor. Sebagai tetangga yang baik kami pun bercakap-cakap ketika tidak ada pembeli.

“Mbaknya nyari dana KKN?” tanyanya.

Hihihihi…kami pun tertawa.

“Ngge mbayar kos, Mbak, timbang diusir mak kos,” jawabku.

Eh satu lagi, temanku yang sebaiknya tidak disebutkan namanya juga menjual baju mantannya lho di lapak kami. Jadi buat mantan-mantannya kalau ada baju atau barang yang masih tertinggal hati-hati. Eh wes disebut ding jenenge hehe…Tapi tenang mas, klambimu nggak payu kok jadi masih aman *numpak becak, lungo sing adoh selak diburu Pipit*

Jam setengah sepuluh perut kami berdua semakin berontak. Dan aku semakin tak kuat menahan pipis. Kami memutuskan jam 10 tutup lapak. Hasil yang kami peroleh sudah lumayan. Cukup untuk membeli tanah sekilo dua kilo dan menambal perut sehari dua hari.

IMG02432-20140601-1109

Perolehan kami kemarin setelah dikurangi biaya makan, iuran wajib dan sumbangan.

Nilai moralnya adalah jangan pernah menyepelekan emak-emak. Merekalah sebenar-benarnya tulang punggung keluarga. Emak-emak bersatu tak bisa dikalahkan!

 

Advertisements

9 thoughts on “Me(P)-Ka-eL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s