Bulletproof

Pernah kutulis sebelumnya di blog ini kalau aku lagi suka mencari keringat. Yups, mulai dari bersepeda, lari, jalan sampai joget-joget geje macak mbak-mbak sexy dancer kulakukan demi bisa membasahi tubuh ini dengan keringat. Kenapa?  Karena aku suka ketika berkeringat. Badan jadi segar, utek penceng lurus sejenak tapi tetap yang utama karena aku suka melihat kulitku ketika berkeringat.

Bersepeda, lari atau jalan setiap hari bisa kulakukan, tanpa ada masalah tapi untuk joget ini yang kadang susah. Handphone sing kabehe onok limolas kae tak satupun ada yang berisi lagu yang mendukung aktivitasku ini. Di komputerku pun demikian. Jadi kalau ada menteri yang bertanya Internet kenceng buat apa, sampeyan mesti kurang joget. Selain dipakai Gendut untuk streaming bokep nang Youtube, Internet kenceng kubutuhkan untuk streamingan lagu-lagu dugem dalam aktivitas menciptakan keringat.

Biasanya aku butuh sekitar setengah jam sampai satu jam untuk joget ini. Durasi segitu sudah cukup untuk membangkitkan nafsu makan. Seger awake, kuat mangane, lancar nang mburine. Untuk pendinginan aku tidak langsung mandi tentunya. Leyeh-leyeh sambil membuka link-link Youtube yang muncul, nontok sing adem-adem.

“Kenapa aku berbeda?”

“Kenapa harus sama?”

Sebuah percakapan antara ayah dan anaknya yang bisu di video yang kutonton tadi pagi. Sebagai anak blesteran dari seorang bapak berdarah China dan ibu berdarah Arab (wes ojo dibahas, ngko diomong durhaka), pertanyaan seperti ini muncul bukan hanya dari dalam tapi juga dari luar, aku mempertanyakan diriku juga dipertanyakan orang lain.

“Kenapa kamu tidak bisa normal seperti orang lain?”

Tau krungu?

Tapi apa benar kita tidak normal jika kita punya pilihan kita sendiri, apapun itu. Anyway, apa itu normal? Pentingkah normal itu? Haruskah? Jawaben dhewe.

Hidup tidak sekadar menggugurkan kewajiban. Bukan (itu) sama sekali malahan. Hidup berlangsung, berjalan, terjadi padamu, tak peduli kamu suka atau tidak. Tak ada, ”Dia punya segalanya, mudah saja baginya.” Yang ada, kita tak cukup usaha. Tak ada, ”Kamu tak tahu apa yang kualami, kurasakan.” Yang ada, kita terlalu sering meremehkan kekuatan kita sendiri. Iyes, ingat-ingat saja hal buruk, menurutmu, yang pernah terjadi padamu. Lihat kamu sekarang. Masih bernafas, masih berdiri dengan atau tanpa kaki, jika kamu tahu maksudku.

Lambeku kiwir-kiwir koyok Maria. Benernya itu dari hasil nonton video di Youtube, Pak! Coba sampeyan cari lagunya, dengarkan liriknya, lepaskan dirimu, Pak. Losno, thokno!

I’m bulletproof, nothing to lose

Fire away, fire away

Shoot me down, but I won’t fall

I am titanium!

Advertisements

2 thoughts on “Bulletproof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s