Karena Cantik Berawal dari Daleman

 

Sebagai seorang perempuan (sesuai KTP), aku suka membicarakan hal-hal perempuan dengan teman perempuanku. Bahasan pembicaraan kami mulai dari hal yang sepele sampai hal yang lebih sepele lagi (aku dan temanku percaya sesuatu yang besar awalnya juga sepele). Dari hal-hal sepele yang kami bicarakan tak jarang akhirnya meluas dan berkembang menjadi pembicaraan tentang bangsa dan negara ini. Tapi lebih sering sih tetap menjadi pembicaraan sepele yang penuh kedalaman pikiran. Halah.

Pembicaraan sepele kami biasanya bermula dari melihat perempuan lain (bosone sok apik, istilah lain dari rasan-rasan). Melihat fenomena di negeri ini, mungkin juga luar negeri, di mana semakin banyak orang cantik. Entah sejak kapan fenomena ini mulai merebak, yang kami lihat semakin sedikit orang-orang jelek. Penglihatan kami salah? Mungkin, mungkin jika kami melihatmu dan teman-temanmu kami akan berubah pikiran. Masih banyak orang jelek di negeri ini, selain kami. Iyes, tidak peduli seberapa cantik kami merasa dan percaya bahwa semua orang cantik dalam persepsinya tapi kalau ada penggolongan jenis manusia kami dengan legowo menerima dimasukkan ke orang-orang tidak cantik itu. Tidak pede? Tidak. Sebaliknya, justru kami sangat percaya diri dengan ketidakcantikan ini.

Ngomong-ngomong masalah cantik (lha iyes, kaet mau yo kate rene malah ngalor-ngidul), aku punya pemikiran sendiri. Orang bilang, beauty is in the eye of beholder. Cantik itu relatif (tapi jelek itu mutlak). Buatku cantik itu berawal dari daleman. Tahu kan daleman? Itu lho, seperangkat atasan dan bawahan bagian dalam. Perempuan akan cantik kalau dalemannya mendukung. Tanpa itu yang ada adalah perempuan ribet dan tidak percaya diri. Cantik? Apalah arti cantik kalau ribet dan tidak percaya diri. Dandan sudah maksimal, tongkrongan sudah oke tapi sebentar-bentar mengeluh dan merasa ada yang tidak benar dengan tampilannya.

Ini bukan sekadar pengamatan kasat mata tanpa penelitian ilmiah. Bersama Cak Lontong, bukan yang KW 15 yang baru nikah itu lho, aku ikut penelitian dan hasilnya adalah di balik perempuan tidak pede terdapat daleman yang kombor. Tidak percaya? Coba mulai perhatikan pasangan masing-masing (buat para laki-laki). Saran saja buat para laki-laki kalau yang-nya yang sudah cantik tapi masik suka umek sama tampilannya dan kemudian ribet dan ngejak gelut silakan ditanyakan daleman seperti apa yang dia pakai. Satu lagi hasil penelitianku bahwa tampilan luar seorang cewek tidak selalu berbanding lurus dengan tampilan daleman-nya. Banyak perempuan cantik yang daleman-nya jauh dari definisi cantik dicek di kamus manapun. Oleh sebab itu para laki-laki silakan mulai memperhatikan jemuran “onderdil dalam” pasangan masing-masing.

Perempuan yang daleman-nya tepak jadi cantik karena tingkat kepercayaan dirinya naik lebih dari 50% dan tingkat keribetannya turun lebih dari 50%. Untuk hasil penelitian ini aku punya contoh. Sebut saja namanya RA (bukan anak tetangga). RA yang punya kebiasaan tidak bisa lepas dari daleman meski sedang tidur (banyak perempuan yang uculan saat tidur) suka mengakali dengan menggunakan daleman atas yang turun grade alias rada longgar. Besok paginya ketika mau jalan-jalan RA tidak ganti daleman karena merasa sudah cukup oke. RA yang susah diam itu sambil jalan menggerak-gerakkan tangannya, olah raga maksudnya. Dan kemudian ups, copot. RA pun kebingungan karena di sedang di jalan. Akhirnya karena tidak menemukan toilet diapun masuk ke kotak ATM. Meski kemudian situasi sudah terkendali tapi tidak begitu dengan pede-nya. Sepanjang perjalanan RA tidak pede dan cemas. Maka berkuranglah cantiknya karena pikirannya terus diganggu dengan bagian dalamnya, yang membuatnya lupa tersenyum.

Tidak masalah luaran yang dipakai (mau dress, kaos atau daster) daleman memegang peran yang sangat penting. Dan jangan pernah berpikir bahwa yang tak terlihat tidak punya arti. Justru pada yang tidak terlihat seperti daleman inilah aktivitas seharianmu bergantung.

Terus kalau pasangan suka pakai daleman kombor gimana? Ya suka-suka dia sih. Tapi kalau mau saran, buat kalian para laki-laki lebih perhatianlah dengan daleman pasangan kalian. Dikandani ngunu lho, es. Sekali-kali kasih kejutan juga boleh, beliin daleman. Kalau malu beliin ya suruh beli sendiri. Anggaran nonton film bioskop bisa diganti dengan anggaran beli daleman. Tepak tidak berarti mahal. Di Pasar Beringharjo harga daleman atas bekisar 20rb sampai 30rb. Daleman bawah mulai dari 10rb dapat tiga sampai 10rb satu juga ada. Dengan begitu bedak mahal, parfum mahal, baju mahal bisa dipinggirkan bahkan disingkirkan. Dengan daleman yang tepak kamu tidak butuh yang mahal-mahal itu untuk cantik.

Pertanyaan?
R : “Pacarku dalemannya sudah tepak tapi kok masih suka ribet?”
A : Coba dipakani dhisik. Luwe be’e.
R : Sudah, entek rong piring malah. Sik ae mecucu.
A : Halah, ngunu ae atek takok. Ambung lak uwes.
R : Uwes yoan, wes ping telu sedino iki. Kalah wes ngombe obat.
A : Jungkrakno X ae lek ngunu.
R : ???
A : Gak ngerti X? Kali, Su. Jungkrakno kali tapi mari ngunu tulungono. Ojo dijarno. Ngunu-ngunu iku anake uwong sing tau nang atimu.

Tidak setuju? Lebih cantik lagi yang tidak ribet dengan daleman? Pakai atau tidak tetap pede dan cantik. Luwih sip maneh sih lek iso koyok ngunu dan ngunu iku bisa terwujud kalau body-mu mendukung. Dan body mendukung bisa diwujudkan dengan olah raga, mangan sing tepak dan lancar BAB.

Sekian dan menerima kiriman daleman.

 

Image

Ilustrasi diperankan oleh Top Model Kutoarjo 2014.

***

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s