Para Pemburu Dandang Elektrik

Para Pemburu Dandang Elektrik

Para Pemburu Dandang Elektrik

Ketika diberitahu bahwa akan ada acara Glow Run di Yogyakarta, aku langsung angkat tangan minta didaftarkan. Bukan hanya karena akhir-akhir ini aku semakin rajin mencari keringat tapi juga karena di acara ini akan ada pengundian. Alasan yang lebih utama juga karena sudah bosan lari dari kenyataan *nggragoti tiang listrik* maka kapan lagi bisa lari beneran, ramai-ramai sama teman, di jalan raya dan berkesempatan dapat hadiah sepeda motor. Lumayan kan kalau nyantol bisa buat beli tanah sekresek dua kresek untuk memperluas kebun cabeku.

 Camera 360

Camera 360

Setelah pendaftaran yang rada amburadul info dan prosesnya akhirnya Sabtu malam kemarin aku bersama Mesha dan Maria dari TK Sukar Waras siap lahir batin untuk berlari dan merebut hadiah yang disiapkan panitia. Cewek-cewek kece nan jelita wira-wiri penuh pesona bersama para cowok yang juga tidak kalah jelitanya, memenuhi Alun-alun Utara Yogyakarta. Kami bertiga yang mungkin tak jelita di matamu tapi bisa menentramkan hatimu, yakin wes,  sempat dideketi dua calon cowok. Ndredeg? Nggak, biyasa.

“Mbak, lampunya buat aku ya?” tanyanya.

“Nanti, habis lari,” jawabku.

“Tak tunggu sini ya.”

“Iya.”

“Beneran?” tanya calon cowok itu masih tidak percaya.

“Iya. Nanti kalau sudah lari aku ke sini lagi.”

Dan wajah cowok-cowok itu pun sumringah. Calon cowok itu akhirnya berlalu dan mendekati gerombolan “pelari” yang lain. Iya, calon cowok itu mengincar lampu-lampu punya mbak-mbak juga mas-mas yang lain. Di acara ini kami memang diberi “lampu” warna-warni yang menyala terang di kegelapan. Lampu yang menarik cowok-cowok kecil itu untuk mendekati kami para “pelari.”

 Camera 360

Camera 360

Terus acara larinya? Lari ya lari saja. Banyak jalannya sih. Malam Minggu jalanan Yogyakarta terutama daerah sekitar Malioboro padat merayap, semakin merayap dengan adanya gerombolan pelari dadakan ini. Finish, dapat kupon undian, minum terus…dugem! Yes, semalam kami para gadis salah jaman yang biasa kalem ini berubah liar. Menyanyi juga goyang bersama DJ Marisa, Mbak-mbak dan Mas-mas yang begitu luwes dan fasih melafalkan “lagu kebangsaan” mereka, lagu-lagu yang biasa hanya kudengar di toko baju berharga miring itu. Yeah, good girls gone bad, very bad. Kapan lagi bisa dugem gratis di alun-alun lagi. Badan segar hati senang tapi perut lapar.

Tak ada dandang elektrik yang bisa kami bawa pulang. Kami bertiga tak berhasil mendapat hadiah undian. Tak apa, tak mengurangi keceriaan kami. Kami adalah pemburu dandang elektrik yang tak pernah kekurangan cara dan semangat untuk terus berlari dan mengejar dandang kami.

***

Advertisements

2 thoughts on “Para Pemburu Dandang Elektrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s