Jelajah Negeri Sendiri

“Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah, hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya.” ~ Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran.

Image

Kalimat di atas kupakai untuk mengawali coretanku di Kompasiana. Coretan tentang perjalanan yang kulakukan bersama Faa dan Yula saat kami menyambangi Bromo. Aku masih ingat betul bagaimana perjalanan kami itu. Mengambil waktu setelah lebaran 2012 kami bertemu di Terminal Purabaya, Surabaya. Selanjutnya adalah perjalanan panjang dan selo yang terbayar dengan indahnya alam juga kebersamaan yang ternyata bisa berakhir kapan saja tanpa bisa diramalkan sebelumnya. Ya, Faa, si Sapi itu, telah mendahului dengan melakukan perjalanan sendiri ke puncak keabadian.

Kenapa ditulis lagi? Kemarin sore adikku mengirim foto. Sebuah buku dikirimkan ke rumah. Jelajah Negeri Sendiri, begitu judul yang tertera. Ah, buku itu. Tahun kemarin aku sudah menerima pembayaran atas tiga tulisanku yang masuk di buku ini. Tulisan yang aku daftarkan saat ada proyek buku keroyokan di Kompasiana yang bekerja sama dengan Bentang Pustaka. Dari ketiga tulisan yang kudaftarkan, ketiga-tiganya masuk seleksi dan ketiga-tiganya ada Faa di sana. Canyoning pertama kami di Sri Gethuk, Gunung Kidul, yang kami lakukan berempat saat teman-teman dari Komunitas Canting sedang ikut Kompasianival di Jakarta. Juga coretanku tentang Susur Pantai kami yang tentu saja sekaligus Piknik Ceria di Pantai Seruni.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, menurut Pramoedya Ananta Toer. Iya, sangat setuju. Seperti saat ini, coretan-coretan tentang perjalananku bersama teman-temanku yang kemudian dibukukan oleh Bentang Pustaka ini akan menjadi saksi pernah ada kebersamaan, cerita juga anak manusia montok, penuh semangat yang bernama Faa. Ya, buku ini khusus kupersembahkan untuknya. Dia yang juga suka menulis, dia yang suka menggambar, dia yang tak lama kukenal tapi begitu membekas.

Image

“Mati dalam persepsinya itu apa maksudnya?” tanyaku waktu itu saat membaca tulisan di blognya yang bercerita tentang seorang temannya yang meninggal karena kecelakaan di jalan raya.

Mati dalam persepsinya artinya mati saat melakukan (sesuatu) yang dicintainya, begitu jelasnya. Kematian yang indah? Entahlah, aku tak pernah tahu ada mati yang indah. Meski konon katanya yang mati sudah berbahagia. Mungkin juga karena yang ditinggal terlalu cenggeng, entahlah. Mati dalam persepsinya yang kemudian juga terjadi padanya. Dia pergi untuk selama-lamanya di atas sepeda motor tua kesayangannya, Micel, saat dalam perjalanan touring ke Bali. Belum sampai tujuan memang tapi sudah melakukan apa yang ingin dilakukannya. Dan dia sudah mencapai tujuannya, mati dalam persepsinya.

Dunia mungkin seluas langkah kaki tapi dunia juga bisa luas tanpa harus melangkah jauh, dengan buku. Dengan buku kita bisa tahu berbagai tempat yang belum pernah kita injak tanahnya, hirup udaranya. Hanya imajinasi? Mungkin tapi jangan pernah menyepelekan imajinasi. Dari buku sebuah pikiran, ide, bisa dituangkan dan dibagikan. Ide dan pikiran yang kemudian menginspirasi pembacanya, menimbulkan imajinasi, mimpi juga semangat untuk berani melangkah, menjelajah.

Pernah kukatakan pada seorang teman, “Tanpa buku, sudah dari dulu-dulu aku gila.” Aku belum membaca buku ini, Jelajah Negeri Sendiri, karena dikirim ke alamat rumah di kampung tapi menurutku buku ini layak dibaca. Cerita tentang menjelajahi negeri sendiri, mengenali masyarakatnya bukan hanya wisatanya. Baca, tulis dan mulailah menjelajah.

***

Advertisements

4 thoughts on “Jelajah Negeri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s