Studio Biru

 Camera 360

            Bukan karena bangunannya berwarna biru apalagi dipakai untuk membuat film biru kalau tempat ini disebut Studio Biru. Studio Biru adalah sebuah bangunan, aku dan teman-temanku biasa menyebut sanggar, tempat adik-adik di Ripungan, Prambanan, Yogyakarta, biasa berkumpul, bermain dan belajar. Aku ingat betul pertama kali ke sini, tahun 2010, bentuknya belum seperti sekarang ini. Studio Biru masih berupa rumah semi permanen dengan tembok dari bambu dan lantai tanah. Rumah bekas tempat pengungsian korban gempa Yogyakarta yang kemudian dimanfaatkan anak-anak KKN waktu itu untuk menjadi tempat belajar bersama.

            Meski sudah berbeda posisi dan bangunan, Studio Biru masih “biru.” Selalu menyenangkan datang kemari. Warga yang hangat dan tentu saja adik-adik di sana yang mesti sudah saling hapal dan kenal pertama-tama bertemu (lagi) selalu malu-malu. Seperti pagi ini ketika aku, Ngashim dan Gundul kembali bermain ke Studio Biru. Menurut cerita keluarga Pak Jiman, tokoh masyarakat Ripungan, yang kami dengar saat kami dijamu makan siang di rumahnya sedari pagi cucunya yang bernama Hendra begitu semangat karena mendengar kami mau datang.

            Sayang kami tidak bisa berlama-lama. Meski begitu kami sempat bermain dan menggambar bersama.  Kami membuat berbagai macam benda dengan malam dan menggambar dengan cat air sampai belepotan tangan kami. Terima kasih kepada teman di Surabaya yang telah berbagi kebahagiaan juga ilmu lewat sumbangan buku-buku juga alat menggambar yang tadi kami pakai.

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Camera 360

            Tidak terasa ternyata sudah setahun lebih semenjak kami anak-anak Canting mengadakan acara di desa ini yaitu saat kami berkaraoke ria dengan warga dalam rangka memperingati ultah Canting ketiga. Dan cerita tentang Mbak Faa yang mendahului kami, Mbak Ika yang biasa tiba-tiba muncul, Paman Dori yang gondrong, Mas Yula yang di Tembi, semua masih diingat dan ditanyakan kabarnya. Hidup merampas kebersamaan kami? Bukan, hidup terus berjalan dan meski kadang tak seperti yang kami ingini dia terus berjalan.

            Sore ini juga kami harus melepas Paman Dori kembali ke kampung halamannya di Pulau Celebes. Kabar yang kami terima dari salah satu teman Canting ketika kami baru turun dari Studio Biru. Tidak ada kata perpisahan, tidak ada lambaian tangan. Sedih? Hidup mengajari banyak hal, senang, sedih, suka, luka, perjumpaan juga perpisahan. Hidup juga mengajarkan bahwa apapun yang terjadi dia akan terus berjalan, sampai nanti waktumu untuk pergi pun dia tak akan berhenti. Maka memilih untuk ikut berjalan atau berhenti adalah sepenuhnya pilihan kita. Sama juga dengan pilihan untuk berbagi kebahagiaan atau untuk dinikmati sendiri.

            Untuk yang pergi, selamat jalan. Untuk yang masih bertahan, selamat memperjuangkan hidup sesuai keinginan dan keyakinan masing-masing.

***

Advertisements

2 thoughts on “Studio Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s