Canting Itu…

Image

foto oleh Yula

            Seperti biyasa tanpa banyak ngek-ngok, aku dan dua orang personil Canting lainnya, Sabtu kemarin kembali mengendong ransel. Tujuan kami kali ini aku tidak tahu. Ini juga biyasa. Dijak,(langsung) budal, gak diajak, nesu, halah. Sudah tahu apa yang perlu dibawa, sudah hapal kebiasaan masing-masing jadi ya tinggal berangkat.

            Kami memulai perjalanan dari Pantai Wediombo, Gunung Kidul, Yogyakarta. Eh dari tempat masing-masing sih, maksudnya untuk ke tempat kemping kami mulainya dari pantai ini. Bingung? Kathokan sik. Jalur ini pernah kami lewati bersama rombongan “besar’ Canting sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Rasanya seperti nostalgia. Berbeda dengan yang dulu, kali ini kita hanya setengah perjalanan saja. Ada tempat yang lebih asyik untuk bermalam.

            Semesta mendukung. Cuaca Yogyakarta yang hampir setiap hari hujan tidak kami temui akhir pekan kemarin. Kami sampai di lokasi dengan selamat meski gempor, aku maksude. Aku hampir-hampir nggak kuat ngangkat kaki saat harus menaiki bukit dengan tanah liat yang licin dan tanpa pegangan yang memadai. Dengkul lemes gara-gara kebanyakan ketawa saat di sepeda motor bersama Maria. Lemes nahan sepeda motor yang ngeden-ngeden saat naik tanjakan.

Image

foto oleh Yula

Image

foto oleh Yula

            Kembali menyusuri pantai aku jadi teringat masa-masa awal kenal Canting. Selalu mengosongkan jadwal (sok iyes) satu dua hari untuk bisa ke Yogyakarta dan mbambung bersama gerombolan anak-anak ora mutu, yo mutu ning rendah itu. Menyusuri satu pantai ke pantai lainnya dengan hati masing-masing yang penuh cinta, setengah cinta, patah bahkan remuk atau hancur berkeping-keping tapi punya benang merah yang sama yaitu ambyar hidupnya.

            Mundur ke belakang lagi, aku ingat sekali hari ini tiga tahun yang lalu. Tepat satu hari sebelum ulang tahun Canting, aku mematikan handphone-ku (sok payu). Bukan tanpa alasan. Aku sedang menjauhi SMS, Facebook dan perangkat dunia maya lainnya agar tidak perlu mendengar ocehan gerombolan anak hutan itu yang merayu-rayu untuk ke Jogja lagi. Jogja itu candu, waktu itu. Jogja itu racun, waktu itu. Jogja itu luka sekaligus cinta, waktu itu. Mari mengheningkan cipta sejenak untuk para hati yang mendahului kita. Selesai. Amin!

            Tahun pertama ulang tahun Canting aku mendekam di kamarku di Surabaya. Tahun kedua aku bisa ikut menggila di Gunung Api Purba Nglanggeran sekaligus meluncurkan buku yang maha dahsyat ambyarnya. Tahun ketiga kami berkaraoke bersama warga Ripungan, Prambanan. Mari berdoa semoga tahun ini aku tidak perlu mematikan handphone lagi. Berdoa mulai!

            Canting itu ora mutu, yo mutu ning rendah, kalau epok-epok dadi Dedek Ngashim, pemuda Cilacap yang banyak cakap dan penuh semangat akan mengunjungi Banda, Raja Ampat dan sebagainya meskipun belum terwujud (silakan berdoa).

            Canting itu ambyar, ini kalau pinjam istilah Bayu, pemuda Bekasi yang sudah banyak makan nasi di atas gunung di Indonesia.

            Canting itu cihuy, yang ini pinjam Sasha, cewek yang keasliannya dipertanyakan sampai-sampai harus ditambahkan nama Murni di ijazah-ijazahnya.

            Canting itu 7! Artinya seperti nama-nama hari selama seminggu, bervariasi. 7 rupa, seperti warna bunga yang dijadikan syarat para dukun, warna-warni.

            Canting itu sak karepmuh, nyelang bosone Yula. Mau diartikan seperti apa ya terserah. Tidak ada definisi seperti juga tak adanya pemimpin atau apapun yang biasanya ada pada sebuah komunitas. Kami bertemu, berkumpul, ngobrol tidak jelas, mbambung, dan melakukan sak karepmuh lainnya.

            Canting itu semangArt, kalau ikut Pamandori, pemuda asli dari Pulau Celebes ini. SesemangArt si sapi Faa yang mendahului para tetuanya menuju puncak keabadian, ngopi bersama Tuhan, yang saat ini mungkin sedang menertawakan kami yang kadang masih suka menangis mengingatnya. Terkutuklah jiwa-jiwa lemah ini! Mari menundukkan kepala sejenak untuk dia yang mati muda dan sudah berbahagia di tempatnya.

            Canting itu Geronimo kalau kataku. Iya, seperti slogan salah satu  radio swasta ternama di Yogyakarta ini. Nggak tahu? Love Jogja and you, cuk!

Image

Canting versi anak-anak asyu.

***

Advertisements

6 thoughts on “Canting Itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s