“Dipikir Karo Rokokan”

"Dipikir karo rokokan."  pic by Anggoro.

“Dipikir karo rokokan.”
pic by Anggoro.

Pagi ini badan masih ngajak turu, tak peduli usaha yang sudah kulakukan untuk ‘bangun’ wong njancuki akan selalu ada dan siap ngajak tawur. Dan ngurusi wong koyok ngunu iku bukan hanya gak onok gunane tapi ngenteki-ngenteki abab. “Dipikir karo rokokan,” lek jare koncoku. Tapi lebih enak lagi lek dipikir karo turu sih menurutku.

Aku ngomong sama kamu aja, syu. Yang di atas tadi intro saja. Kemarin aku ke Salatiga, kota yang lumayan sering kamu sebut dan datangi, menurutku. Kota di mana banyak kawanmu di sana, itu yang sering kudengar. Ah, koncomu kan ancen nang endi-endi. Kemarin aku anggon arek dan aku ingat kamu. Natal tahun lalu kita bersama. Natal tahun ini aku ketemu “teman-temanmu.” Mereka yang mencintai motor dan fotografi juga gunung. Wes ngunu ae, tak tulis di sini seperti katamu. Tak kei gambar, untuk penanda pernah ada masa seperti ini di hidupku. Muaahhh…

Merbabu dilihat dari Telomoyo.

Merbabu dilihat dari Telomoyo.

Note: Terima kasih buat Mas Anggoro, Mbak Tita, Mas Heru, Mas Gatot, Mas Said, Mas Yudi yang sudah menerima dan mengajak berkeliling. Gusti sing mbales, Gusti Randa mungkin.

Advertisements

3 thoughts on ““Dipikir Karo Rokokan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s