Ke Dokter Gigi

            Sudah mendaki banyak gunung, sudah bertualang ke tempat-tempat yang menurutmu masih perawan, belum tersentuh, dan kamu (sudah) merasa keren karena berani? Kamu harus ke dokter gigi!

            Sejak kecil aku bisa dibilang paling rajin sikat gigi. Aku juga rajin mengingatkan adikku untuk sikat gigi. Bukan hanya mengingatkan, aku juga menggunakan rayuan agar adikku itu mau sikat gigi sebelum tidur. Aku ingat sekali, aku rela macak jaran agar adikku bisa naik dan mau dibawa ke kamar mandi untuk disikat giginya. Lain waktu aku akan macak bakul kayu dan menggendong adikku ke kamar mandi.

            Seingatku selama hidup aku baru 3 kali berurusan dengan dokter gigi. Sekali pas SD, cabut gigi. Dua kali setahun kemarin pas seorang teman butuh pasien, tambal gigi. Bukan pengalaman yang buruk, tak membuatku trauma tapi ke dokter gigi tak pernah jadi agendaku atau setidaknya sesuatu yang menurutku perlu dilakukan. Aku rajin sikat gigi!

            Beberapa bulan terakhir ada sesuatu yang membuatku sedikit takut. Tiap sikat gigi selalu keluar darah. Aku yang hampir tiap hari online akhirnya mencari tahu di internet. Kubaca artikel satu persatu untuk mencari tahu penyebab berdarah saat sikat gigi dan jawaban yang kemudian kusimpulkan adalah adanya karang gigi. Karang gigi yang menumpuk bisa menyebabkan penyakit gusi dan ini bisa jadi hal yang berbahaya.

            Rajin sikat gigi kok bisa punya karang gigi? Bisa. Rajin sikat gigi saja tidak cukup, apalagi jika cara sikatnya salah. Selama ini aku kalau sikat gigi kayak orang lagi ngosek WC, keras dan kasar. Kesalahanku inilah yang kemudian kuketahui menjadi penyebab abrasi gigi yang kualami selain juga karang gigi.

            Aku menghubungi seorang dokter gigi yang kukenal, meminta dijadwalkan untuk periksa sekaligus membersihkan karang gigi. Sebelumnya kami juga chatting di mana aku menyakan perihal gigiku dan proses plus biaya pembersihan karang gigiku nanti. Dari pembicaraan itu aku semakin mantap, maka dua hari lalu aku pun mengunjungi tempat prakteknya.

            Meskipun belum banyak aku sudah pernah naik beberapa gunung. Aku juga biasa menyusuri jalanan naik turun nan terjal plus merasakan dahsyatnya ombak saat susur pantai. Aku pernah merasakan adrenalinku seolah dipacu kuat sekali saat pertama kali canyoning. Semua itu bisa dibilang uji nyali. Dan apa yang terjadi kemarin di kursi gigi tidak beda jauh dengan itu. Bukan sakitnya, tidak sesakit pikiranku sebelum merasakan. Tidak juga se-ngilu yang dibilang temanku atau seperti yang aku baca di artikel-artikel saat kita melakukan pembersihan gigi atau scaling.

            Tanganku menegang tiap kali alat kecil itu dimasukkan ke mulutku, berputar dan bergerak ke sana kemari membersihkan gigiku. Darah keluar, lumayan banyak. Aku bahkan sampai beberapa kali meminta berhenti karena capek mangap dan ingin kumur. Sempat kucoba untuk tidur, memejamkan mata dan pasrah tapi lagi-lagi benda kecil yang disebut scaller itu menguing-nguing, membuat mataku terus terjaga. Sekujur tubuhku menegang. Dan itu berlangsung hampir 1 jam.

            Adrenaline rush yang membuahkan hasil. Sekarang aku tak lagi mengeluarkan darah tiap sikat gigi. Mulut rasanya lebih isis dan enteng dan tentu saja lebih bersih. Terima kasih drg. Stefi atas diskonnya. Mari ke dokter gigi!

Pamer untu.

Pamer untu.

***

Advertisements

2 thoughts on “Ke Dokter Gigi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s