Jemblung adalah Sebagian dari Iman

Sudah enam bulan lebih aku bersepeda, sejak itu juga banyak perubahan fisik dan mental kurasakan. Secara fisik sudah pernah kutulis sebelumnya di blog ini, aku tidak gampang capek, lebih fit. Secara mental aku lebih berani, tidak takut lagi kalau ada kendaraan yang menyalip. Dari sekian perubahan positif yang kurasakan masih ada satu hal yang tidak berubah dariku. Sebelumnya aku berpikir aktivitas bersepedaku ini akan memberi efek besar pada satu hal ini tapi kenyataannya tidak, entah belum. Satu hal itu adalah perut jemblung-ku.

            “Yo koen mari sepedaan mampirmu nang sego padang.”

Satu dari sekian komen jleb yang dilontarkan temanku terkait kondisi perutku ini. Kuakui untuk satu hal ini aku memang lemah (sok kuat). Godaan nasi padang apalagi pulang macul sangat menyiksa. Padahal di kos aku selalu masak dan sering menyiapkan jagung atau kentang untuk direbus sebagai makan malam. Seringnya kalah sama warung yang satu itu.

Foto diperankan oleh model.

Foto diperankan oleh model.

Kegemaran makan-(nasi)ku sebenarnya belum begitu lama. Dulu aku adalah anak yang terkenal susah makan. Sampai SMA pun aku masih begitu. Nggak heran kalau aku dulu kurus dan kecil, juga pendek. Meski teman-teman kemudian hariku selalu tidak percaya dengan hal itu. Aku hampir tidak pernah jajan. Ibuku telah berhasil menanamkan doktrin bahwa tidak ada makanan seenak masakannya. Dan aku mengikuti doktrin itu tanpa dipaksa, terpaksa. Ibuku bisa membuat aku ketagihan masakannya, menolak makanan yang ditawarkan tetangga, teman bahkan saudara. Meski begitu aku bukan anak yang doyan makan. Aku makan sesuai jadwal makan, pagi, siang dan malam dengan porsi biasa. Dan karena aku suka sekali bermain makanan yang masuk ke tubuhku itu tak jadi daging.

Awal aku doyan makan adalah ketika aku meninggalkan rumah. Kuliah di luar kota, jadi anak kos adalah awal “kerakusanku.” Aku punya partner, teman kuliah, sama-sama cewek. Tiap kali ke kantin pesanan kami selalu sama. “Nasinya penuh, bu, kalau bisa ditambah.”Kenapa harus bilang begitu? Sudah jadi kebiasaan para penjaja makanan di kantin-kantin atau warung dekat kampus bahwa jika pembelinya cewek nasinya hanya akan diberi separuh porsi alias lebih sedikit dari porsi normal. Kadang aku dan temanku itu harus pindah kantin kalau ternyata tambahan nasi yang diberikan berarti menambah biaya alias lebih mahal. Bukan itu saja, aku punya teman yang suka sekali melihat aku makan. Dia bilang aku kalau makan menyenangkan, seolah makanan yang sedang kumakan begitu enaknya. Alasan yang dihaluskan menurutku karena ada juga seorang teman yang terang-terangan langsung komentar,”Gusti, lekmu mangan koyok wong gak ketemu sego limang taun!”

Untuk teman yang terakhir ini adalah teman yang paling sering mengejek cara makanku, teman yang kemudian mengikuti cara makanku. Melu-melu nggragas. Kemarin kami baru bicara di telepon, mengomentari foto perutku yang kuunggah di media sosial beberapa hari lalu. Dia bilang dia ingat betul kata-kataku awal kita berteman dulu, saat aku cerita padanya kalau aku pernah dan bisa menangis sambil makan. Bahwa masalah hati (atau pikiran) tidak akan ngefek pada selera makanku. Waktu itu aku sedang sedih, saking sedihnya aku sampai nangis tapi karena saat itu aku belum makan aku pun mengambil nasi untuk makan. Jadilah aku nyamuk-nyamuk sambil nangis. Romantisnya!

Entah prinsip atau memang sudah jadi kebiasaan, bagiku makan adalah modal dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Aktivitas (baru bisa) diawali dari perut yang sudah diisi. Mungkin itu kenapa Papah Jenggot tiap ketemu aku selalu itu-itu saja yang ditanyakan, “Wes maem?” Lima kali bertemu, dalam satu hari, lima kali pula dia akan menanyakan hal yang sama. Seolah tidak ada yang lebih penting untuk (dilakukan) anaknya selain makan. Atau mungkin dia juga sudah hafal kalau anaknya suka sekali mecucu kalau lapar.

Maka daripada memecah cermin yang tak mau berbohong sekadar untuk memberiku figur gadis langsing berperut rata seperti Agnes Monica biarlah kuterima kenyataan bahwa seperti juga aku yang doyan sego, perut jemblung adalah paketan yang paling pas untukku. Bahwa sepedaan dua kali sehari bukan untuk merampingkan si jemblung tapi demi hidup yang lebih baik dari sekadar penampilan fisik, halah. Dan jemblung adalah sebagian dari iman, iman pada sego (imane kawulo telih, abdul butun).

Baiklah, Jon, aku wes maem dan aku siap menghadapi dunia. Hidup sego! Hidup sego! Hidup sego (segawe)!

 

Sego Segawe!

Sego Segawe!

 

***

Advertisements

2 thoughts on “Jemblung adalah Sebagian dari Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s