Cita-Cita

 

            “Ngunu iku tulisen, Mak. Lek aku tak tulis ngendi sing pingin tak parani (tak lakoni), trus tak coret sing wis tak parani (lakoni).” ~ Faa, Si Sapi yang Asyu.

 

Bukan tiba-tiba teringat kata-kata teman di atas jika kemudian aku nulis ini. Sudah lama ingin menuliskannya dan semakin kuat setelah beberapa malam lalu si teman “berkunjung.” Dulu ketika masih kecil aku pernah punya cita-cita, pingin jadi seorang pengacara. Aku yang tumbuh bersama film-film India sering melihat adegan di mana seorang pengacara dengan gagahnya membela sang pahlawan yang justru jadi pesakitan. Tak lama karena ibuku bilang, “9 dari 10 hakim (orang-orang yang berhubungan dengan hokum) akan masuk neraka.”

Ibuku bukan tipe orang yang suka menakuti tapi kata-katanya langsung membuyarkan keinginanku untuk jadi seorang pengancara. Jatuh. Mati. Sejak itu aku tak punya lagi cita-cita. Aku tak tahu mau jadi apa, tak kupikirkan, tak ada keinginan. Bermain dan bermain kerjaanku sampai aku besar.

Sudah cukup banyak mengarungi dunia, halah, mencoba banyak hal dan mulai menemukan cita-cita. Beberapa waktu lalu aku mulai mantap jadi seorang petani. Menanam banyak tumbuhan mulai dari yang kecil sampai besar sampai saat ini cita-citaku yang ini baru bisa sebatas hobi. Kemudiaan beberapa saat yang lalu setelah nonton konser musik di sebuah kampus lahir cita-cita baru, aku mau jadi penyanyi!

Sebuah cita-cita yang cukup sulit, bukan untukku tapi untuk orang lain yang mendengar keinginanku ini. Lebih sulit lagi untuk orang-orang yang sudah pernah mendengar suaraku. Tapi kenapa harus aku peduli? Sejak kapan juga peduli dengan pendapat “miring” seperti itu. Maka biarlah kutulis di sini, kurangkum sebagai coretan penyemangat atau pengingat untukku atau orang lain yang mungkin nanti menemukan tulisan ini dan menjadi saksi jadi apa aku.

Image

Rumah orang di daerah Ngasem, Yogyakarta.

 

Oh iya satu lagi, ini entah cita-cita atau sebatas keinginan, yang pasti ini impian yang ingin kuwujudkan. Tinggal di rumah yang halamannya lebih luas dari bangunan rumahnya, yang didominasi kayu dengan perabot lawas. Di halamannya ada kolam ikan, kandang ayam (kalau bisa kandang kambing juga) dan tanaman obat juga sayur dan bunga segala macam. Ini impian seorang gadis yang salah jaman, mungkin.

Aku tidak butuh diamini. Cita-cita itu tentang apa yang kamu inginkan dan bagaimana kamu mengusahakan. Tidak ada urusannya dengan Tuhan. Kalaupun aku tak berhasil itu karena aku tak cukup mengusahakan. Jangan bawa-bawa Tuhan, terutama untuk apa yang tidak bisa kita raih. Tuhan sudah beri apa yang kita butuhkan, selanjutnya usahakan sendiri. Pancal terus, Jon!

 

*Cek di soundcloud Roro Asyu untuk mendengarkan lagu-laguku yang akan ada di album “Urip Pisan Ambyar.”

Advertisements

4 thoughts on “Cita-Cita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s