Kesombongan Di Masa Muda yang Indah

Bersama teman mancal, Mesha, di 0 Km. Pancal terus, Jon!

Bersama teman mancal, Mesha, di 0 Km. Pancal terus, Jon!

Papah Jenggot pernah bertanya, meski tidak diajukan langsung padaku, “Nang gunung golek opo?” Sopir angkot yang aku dan teman-temanku tumpaki ketika baru turun dari Gunung Andong, Magelang, juga bertanya, “Dapat apa dari gunung?” Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini pasti beragam. Jawabanku? Rahasia, halah.

Aku sering keluyuran, mbambung dan memamerkan hasil keluyuran yang berupa foto-foto juga tulisan ke blog, media sosial, juga ke teman. Hasilnya, sebuah kepuasan sementara. Senang karena merasa kita selangkah lebih dari mereka. Sudah pernah naik gunung ini, menyusuri pantai itu, kleleran di kota sana. Keren? Mari kita tertawa.

Menikmati tanpa merusak? Hampir semua yang suka mbambung mengerti, jangan ambil apapun kecuali foto, jangan meninggalkan apapun kecuali kenangan. Sayang, hanya dimengerti. Pengalaman keluyuran selama ini mempertemukanku dengan banyak orang, banyak yang memberi pencerahan, tidak sedikit yang garai pingin misuhi.

Manusia adalah monyet yang paling egois, selain juga paling berisik. Demi kekerenan semu pengorbanan tak bisa dihindari. Ya kalau mengorbankan diri sendiri, yang sering terjadi adalah mengorbanan orang lain, makluk lain. Semua demi kesombongan di masa muda yang indah.

*macak dandang elektrik*

Note: Sebuah tulisan singkat untuk mengingatkan diri sendiri, setelah melihat foto yang banyak diupload di jejaring sosial hari ini.

Advertisements

2 thoughts on “Kesombongan Di Masa Muda yang Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s