Jancuk Moment

Kemarin kutulis, Ketika kita menangis Tuhan mungkin sedang tertawa, menertawakan kebodohan kita. Aku semakin yakin apa yang kupikirkan tentang Tuhan kemarin benar adanya.

Kalau kata Voltaire, Tuhan adalah komedian yang tampil di hadapan penonton yang terlalu takut untuk tertawa. Benar. Terkadang, ah bukan, seringnya kita terlalu sulit bahkan untuk sekadar tertawa padahal kita tahu di dunia ini, terutama di negeri ini, banyak sekali hal yang bisa ditertawakan. Dan Tuhan, Tuhan maneh digowo-gowo, mengajakku bercanda siang ini.

Di tempat baruku ini aku adalah wedokan yang sering ditinggal sendiri bersama para laki-laki. Biyasa. Yang kadang sulit adalah saat-saat tertentu seperti yang baru saja terjadi. Masuk toilet tak ada prasangka apapun. Kebutuhan sudah disalurkan. Selanjutnya yang sedikit sulit, sedikit saja adalah banyune mati, su! Andai cemas ada gunanya aku pasti sudah cemas. Teriak, minta tolong? Untuk apa? Pada siapa? Paling-paling tambah malu dan dipastikan tidak ada solusi juga. Yok opo maneh wong banyune ancen mati. M-A-MA, T-I-TI! MATI!

Ya sudahlah, terima kasih Tuhan atas otak yang kau anugerahkan padaku. Pada hal-hal seperti ini aku baru bisa menyadari kalau aku sedikit cerdas. Terima kasih sudah membuatku tertawa, menertawakan kecerdasan diri sendiri. Sing penasaran apa yang terjadi selama aku di dalam toilet, yang airnya hanya dukun saja yang tahu kenapa tiba-tiba MATI itu, mikiro dewe, lek koen yo cerdas koen pasti iso. Ngko lek tak critakno koen mesti niru-niru. Hih! ~___~

 

Advertisements

One thought on “Jancuk Moment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s