Keabadian

Untuk kamu yang mendahului ke puncak keabadian,

            Malam itu aku ngantuk sekali, kurasa kamu pun sudah tahu itu, sudah paham. Malam itu mungkin yang kamu tidak tahu aku bukan hanya sedang berjuang menahan kantuk tapi juga berjuang menepiskan perasaan yang mengingatkanku pada hari sebelum ibuku meninggalkanku untuk selamanya. Kamu mungkin juga tidak tahu, malam itu kamu terlihat bercahaya. Ceria sudah biasa kulihat, bukan itu, kamu bersinar. Malam itu entah kenapa aku ingin memelukmu, sesuatu yang hampir mustahil kulakukan padamu, pada teman-teman kita. Kita bukan jenis seperti itu. Itu juga yang membuatku menahan bibir ini untuk sekadar mengatakan apa yang kurasa malam itu.

                Hati-hati sayang. Pulang utuh ya.

            Tak berbalas. Meski tak seperti biasa dan lagi-lagi perasaan tidak enak itu muncul masih aku menahan diri untuk tidak mengatakan padamu. Ini hanya perasaanku, perasaan seorang perempuan yang hampir selalu ketakutan manakala berada di jalanan. Membayangkanmu di atas Micel, sepeda motormu, menempuh jarak ratusan kilometer dan tahu betul perilaku bangsa ini ketika berkendara di jalanan bukan perasaan yang mengenakkan, sebaliknya, mengerikan. Kamu bukan seperti itu, kamu perempuan tangguh yang aku tahu tidak akan menghentikan niatmu andai kukatakan apa yang kurasakan.

            Mamak asyu, iya, mamakmu ini memang asu. Seandainya, seharusnya tidak pernah berlaku, karena itu tidak pernah terjadi. Hanya pikiran yang dimunculkan untuk membuat perasaan lebih baik, tapi tidak, tidak lebih baik. Mamak tibake nangisan, iya, mamakmu ini asu yang suka nangis daripada menggonggong. Mamakmu ini asu, menangisi orang yang sudah bahagia itu asu. Kamu sudah bahagia dan entah apa yang harus kutangisi tapi air mata ini tak punya otak, dia keluar begitu saja. Dia asu!

Kamu tahu, aku sempat iri padamu. Kamu bisa ke mana saja yang kamu mau, kamu bisa tetap terlihat ceria setelah apa yang terjadi padamu. Kita bukan besi, itu kataku padamu saat itu. Kita boleh bersandar juga menangis, meski yang aku lihat kamu tetap memilih tegak dan tanpa air mata.

            TK Sukar Waras untuk saat ini libur dulu, entah sampai kapan. Bersama Maria Kiwir-kiwir dan adikmu kadang tidak mudah. Bibir kiwir-kiwirnya yang suka membuat orang gemas, belum lagi adikmu yang sok ganteng itu. Mamak akan merindukanmu, sudah rindu. Mamak akan kangen suara panggilanmu. Mamak akan kangen bibir ngowohmu. Kalau ada orang ngowoh dan pantes itu cuma kamu! Bukan akan tapi sudah, Su, sudah!

            Selamat jalan, Su, tidak ada lagi yang bisa menghalangi lajumu. Teruslah bersenang-senang, meski tempat kita saat ini berbeda aku yakin kamu bisa melihat kami di sini. Suatu saat kita akan berkumpul kembali, di puncak keabadian, bersama dan bersenang-senang. Kamu bisa pegang ukulele seperti yang kamu inginkan, Maria bisa meniupkan sangkakala dan cukup Mamak saja yang jadi penjaga toilet. Aku tidak pernah bilang ini sama kamu biar kali ini kukatakan meski mungkin terlambat, aku sayang koen, Su dan aku juga yakin teman-temanmu di sini juga merasakan hal yang sama. Menarilah, menarilah di bawah sinar bulan seperti saat malam kudus di Nglanggeran kala itu.

Image

 ***

           

           

           

Advertisements

15 thoughts on “Keabadian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s