17-an

Image

Setelah gagal ikut upacara di dua tempat yang sudah direncanakan sebelumnya (manusia berencana, manusia juga yang membatalkannya) kemarin aku akhirnya bisa “merayakan” 17-an juga. Sempat tertawa sambil meringis ketika pagi-pagi seorang teman menelpon mengajak pergi. Gak usah ngumun, ojo’o ngguyu karo mringis, macul karo SMS-an ae aku iso. Multitasking aku, le!

Piknik atau sebut saja perjalanan kali ini sedikit berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Ya kalau bahasa sok kerennya, perjalanan kali ini Macak Touring. Kami bertiga( aku, Paa dan Maria) pergi dengan dua sepeda motor “tua.” Yang satu tua karena lawas, yang satu lawas karena tua. Jare Paa sih, sing tuwo luwih asik. Betul juga, gak penting tuwek’e sing penting tumpakane. Seperti tulisan di sepeda motornya, old bike, young blood!

Image

Rencananya kita mau ke Ambarawa tapi sebelah mana belum tahu. Menembus jalanan Yogyakarta yang masih sepi selepas Shubuh tubuh imut kami menggigil. Tak dapat momen matahari terbit karena mendung kami berhenti di Banaran Café, ngopi dan yang penting makan. Di Banaran ini kami berhenti cukup lama, menikmati hidangan sambil “menghangatkan” diri. Di sini kami sempat bertanya ke pelayan tentang tempat wisata apa yang bisa kami kunjungi. Dari sini juga akhirnya kami memutuskan untuk menuju Gedong Songo, yang berada di Kecamatan Bandungan, Semarang.

Image

Di Gedong Songo kami memilih satu spot untuk leyeh-leyeh. Menikmati semilir angin dari atas dengan beralas jarik salah seorang teman. Oh iya, sebelumnya kami sempat berhenti di tengah perjalanan menuju Gedong Songo untuk mengibarkan bendera. Ketika kami kembali mengibarkan bendera di Gedong Songo kami menerima banyak tatapan mata. Sebenarnya kami lebih memilih tatapan, juga komen, itu diberikan dalam bentuk uang tunai tapi ya monggo lah, apapun.

Keluar dari Komplek Candi Gedong Songo kami disambut hujan. Kami meluncur bersama hujan yang lumayan deras. Sempat salah jalan kami kembali menemukan jalur menuju tujuan kami selanjutnya, Rawa Pening, Ambarawa. Memperhitungkan kami akan sampai sebelum momen tenggelamnya matahari kami menyempatkan mengisi perut di sebuah warung pinggir jalan.

Masuk ke area wisata Rawa Pening kami disambut “Bangunan Selamat Datang” yang mangkrak. Dari pandangan mata terlihat baru dibangun tapi tak dilanjutkan, mungkin. Bukit Cinta yang sempat kubaca di portal wisata ternyata begitu saja. Jauh dari kata bagus juga bersih. Rawa Pening tak jauh berbeda. Tadinya ingin naik perahu sampai tengah sambil menikmati senja tapi ternyata perahunya hanya berputar-putar saja dengan rute yang pendek. Akhirnya kami memilih menanti senja di pinggir dermaga saja sambil ngobrol dengan dua anak kecil penduduk setempat juga bapak-bapak tukang perahu.

Image

Kembali menuju Yogyakarta kami berhenti untuk istirahat di sebuah SPBU yang tidak berhasil kami temukan kepanjangannya. Di sini kami melepaskan hajat juga pegal. Hawa dingin menembus jaket kami, membuat bulu merinding. Pukul sepuluh malam, aku sudah sampai kembali di kamar tercinta. Hari yang cukup melelahkan tapi tentu saja menyenangkan. Cerita selebihnya tak bisa bisa dibagikan lewat kata, mungkin bisa dilihat dari beberapa foto yang kami ambil. Selebihnya lagi yang tertangkap oleh indera kami tersimpan di hati dan kepala kami, sebagai kenangan. Halah!

Akhir kata marilah kita akhiri tulisan ini dengan quote mintilihir dari Laurel Thatcher Ulrich, “Perempuan baik-baik jarang membuat sejarah.” Opo yo ngunu temenan?

Image

Advertisements

7 thoughts on “17-an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s