UJ(I)AN

Heboh (carut marut) ujian yang mending nggak usah dibahas, pagi ini kurasakan juga meskipun nggak secara langsung. Bukan Ujian Nasional memang, ujian yang kalo menurutku sih biasa meski aku juga tau nggak biasa buat temanku yang sedang menjalaninya.

Aku sedang leyeh-leyeh pagi ini ketika tiba-tiba teman kamar sebelah dan depan tertawa keras. Penasaran aku pun keluar dan ternyata teman-temanku itu sedang menertawakan teman lainnya yang salah jadwal. Ujian jam sebelas dan teman yang ditertawakan itu sudah rapi jali jam 7. Dongkol, tentu saja. Apalagi materi ujian dari dua dosen belum selesai dibaca.

Ngomong-ngomong tentang ujian aku punya cerita sendiri. Sejauh ingatanku aku belum pernah seheboh itu ketika ujian.  Yang seperti ini bolehlah kubilang aku beruntung. Aku beruntung punya orang tua yang tidak pernah menarget hasil ujian. Jangankan menarget hasil ujian, menyuruh  belajar saja tidak pernah. Jadilah masa kecilku benar-benar kupuaskan untuk bermain.

Aku ingat betul, kelas tiga SD aku belum bisa membaca kata secara utuh. Sangat tidak lancar sehingga aku harus sering-sering “bersandiwara” agar tidak diminta guru membaca. Jangan tanya raport, meski tidak merah tapi tidak juga bisa dibilang bagus. Ujian Nasional SD, aku yang diharapkan guru-guru (karena pengaruh Papah Jenggot yang dikenal sebagai guru berotak brilian) bisa meraih nilai bagus hanya bisa mendapatkan nilai rata-rata enam lebih sedikit alias enam mepet. Tidak ada keluhan dari orang tua, hanya olokan canda dari kakak yang kebetulan juga bareng ujiannya (dia ujian untuk SMP) dan bernilai bagus. Ibuku cuma geleng-geleng sambil tersenyum.

Jangan tanya “lembur” untuk belajar, itu tidak ada di kamusku. Bukan tidak suka dapat nilai bagus, aku hanya tidak suka duduk, diam dan membaca. Tidak jika itu untuk buku pelajaran. Masuk SMA dan memilih jurusan aku pilih IPA. Jujur waktu itu masuk IPA demi gengsi tapi satu juga alasan yang menguatkan aku harus masuk IPA adalah menghindari pelajaran Akuntansi. Ya, aku tidak suka pelajaran ini. Tidak bisa membaca sebuah tabel dengan angka entah apa itu disebutnya. PR, kakakku pasti yang mengerjakan. Aku ingat dia pernah bilang, “Nggak bisa akuntansi sih biasa tapi masak nggaris aja nggak lurus.” Iya, bikin kolom-kolomnya saja aku nggak pernah bisa lurus, rapi. Nilai akuntansiku? 8. 8 bukan nilai yang buruk dalam ratio 1-10 tapi jika rationya…ah, sudahlah.

Lalu apa nggak boleh belajar? Nggak boleh lembur belajar sampai malem? Sapa yang nglarang, ya monggo saja. Yang pasti menurutku jangan lupa menyayangi diri sendiri. Ada ujian yang lebih penting dari sekadar kertas juga angka-angka itu, menurutku. Untuk mengakhiri coretan ini ada satu soal ujian saat aku SD yang kuingat betul. Kuingat betul karena waktu itu aku jadi olok-olokan kakakku, jadi alasan senyum di bibir ibuku. Soal itu di pelajaran Bahasa Daerah, untukku Bahasa Jawa.

Jenang gulo kowe ojo….

Soalnya seperti di atas. Bukan soal pilihan ganda alias isian. Otak “brilian” kanak-kanakku langsung mengeluarkan lampu. Apa yang diawali dengan “ojo” pasti sesuatu yang tidak baik. Mungkin kalo aku anak SD di jaman edan ini aku bisa langsung menjawab, ojo korupsi, ojo nyabu, ojo mateni uwong, ojo dadi presiden, ojo dadi DPR, ojo galau, ojo alay dan ojo-ojo lainnya. Tapi tidak, otak “cerdasku” waktu itu masih begitu lugu. Maka dengan kemantapan hati, yakin seyakin-yakinnya aku pun mulai menuliskan huruf demi huruf N-A-K-A-L.

Sekian dan mari ujan-ujanan!

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s