Depresi? Bernyanyilah!

“Mung loro iki thok lagumu?”

“Ho oh.”

“Pantes koen gampang setruk.”

“-___-“ *macak kodok*

 

Sejak meninggalkan Surabaya ada kebiasaan yang juga kutinggalkan. Dulu begitu melek sampai mau merem lagi nyaris nggak pernah berhenti yang namanya mendengarkan musik. Bangun pagi kalau nggak nyalain musik di laptop ya dari telepon genggam. Pun begitu ketika di jalan, juga ketika mau tidur. Tapi itu dulu. Pindah ke Jogja kebiasaan itu entah kenapa tidak lagi kulakukan. Bangun tidur nyalain televisi, nonton berita yang begitu-begitu saja.

Bukan sama sekali tidak pernah lagi mendengarkan musik sih. Kadang saja aku mendengarkan radio. Pernah suatu malam aku tiba-tiba kangen dan langsung menyalakan radio. Aku hampir menangis malam itu karena radio itu sedang memutar lagu-lagu yang dulu biasa kudengarkan. Selain dari radio, di Jogja ini aku lumayan sering menonton pertunjukan musik secara live.  Sesuatu yang membuatku kemudian lupa plus tidak menemukan alasan kenapa aku bisa sedih, khawatir atau pun ragu. Tapi tetap saja ketika sudah berakhir, kembali lagi.

Balik lagi ke setruk, meski sudah punya banyak kebiasaan baru yang tak kalah efektif melawan “virus” ini tetap saja ada yang kurang. Dan benar saja apa yang dikatakan temanku. Dulu aku tidak mengenal setruk karena lagu, musik selalu berhasil membangkitkan semangatku. Jadi ingat satu lagi kebiasaanku selama di Surabaya dulu yang biasa kulakukan dengan teman-temanku yaitu “party.” Biasanya malam, sehabis Magrib, aku mengajak teman-temanku kumpul di kamarku. Pintu juga jendela kututup rapat-rapat. Lampu kumatikan. Speaker dipasang dan mulailah musik meraung keras-keras. Seperti orang kesurupan, kalau nggak mau dibilang gila, kami berdendang dan bergoyang. Keringat mengalir deras bersama tawa. Selama sekitar satu jam kami berlagak seolah sedang di lantai dansa atau diskotik. Puas sekali rasanya.

Maka ketika kembali teringat kata-kata temanku di atas, dan ketika setruk ternyata masih begitu lihay mengambil celah, inilah yang harus kulakukan, bernyanyi. Orang bilang bahagia itu sederhana, aku tidak membantah tapi baru beberapa hari ini aku benar-benar merasakannya. Ya istilahnya nancep, pas.

 

“Urip wis abot kok sik kate digawe soro. Lek ancen gak cocok dadi wong waras yo bahno, aku yo gak pingin waras,” ~ Tomin, Bakul Keong.

 

Dan pagi ini aku harus sekali lagi mengucapkan terima kasih pada Mas Pitbull yang sudah membantu mencerahkan pagiku.

 

Terus kenapa judulnya “DEPRESI” orang yang diomongin “SETRUK”?

Jawabnya sederhana saja, karena aku nggak setruk, aku depresi (luwih keren).

 

Jadi buat kamu yang setruk atau depresi, halah, mungkin kata-kata Mas Pitbull ini bisa membantumu.

 

“Forget about your boyfriend and meet me at the hotel room!”

 Image

 

Nyanyi sak bantere, goyang sak gempore!

Depresi? Koen ae eh, nyanyi ae!

 

***

Advertisements

2 thoughts on “Depresi? Bernyanyilah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s