Rumah Tua

            “Dek, rak bukumu mau ditaruh mana?”

            “Di samping meja tv aja Mas. Di sisi kiri sama kanannya,” jawab Retno dari dapur.

            “Mau dipaku di tembok atau ditaruh bawah?”

            “Di atas.”

            Beni mengangkat rak buku kecil yang baru dibeli bersama istrinya itu, mencoba mencari posisi yang pas.

            “Iya, di situ saja  Mas,” kata Retno sambil mendekati suaminya.

            “Bantu pegangin Dek.”

            “Kalau nggak mau?” goda Retno.

            Beni memandang istri yang baru dinikahinya tiga bulan itu.

            “Tak cium,” katanya kemudian.

            Pasangan muda itu baru saja pindah. Sebelumnya mereka tinggal bersama kedua orang tua Retno. Sebulan yang lalu Beni yang ingin segera mandiri mendapat sebuah rumah yang menurutnya cocok ditinggali. Salah seorang teman kantornya menawari rumah saudaranya yang kebetulan lama tak ditinggali. Hitung-hitung sambil merawat agar tidak rusak, Beni mendapat harga sewa kontrak yang pas untuk kantong pasangan muda seperti dia dan Retno.

            Rumah yang ditempat Beni cukup lebar untuk ditinggali berdua saja dengan istrinya. Kamarnya ada empat dan halamannya cukup luas. Di depan ada sebuah pohon asem tua yang tak begitu tinggi selain beberapa pohon seperti pohon mangga dan tanaman hias. Dilihat sekilas saja orang akan tahu kalau rumah itu menggunakan model arsitektur jaman Belanda. Pagar rumah dari besi yang tak terlalu tinggi, hanya sebatas pinggang orang dewasa saja.

            Malam hari hujan turun rintik-rintik, membuat pasangan muda itu cepat tidur. Hawa yang dingin juga karena tubuh yang capek setelah hampir seharian menata rumah membuat mereka lelap. Entah jam berapa ketika tiba-tiba Retno merasa ingin pipis. Perempuan itu bangun dan melihat suaminya pulas di sampingnya. Tadinya dia ingin membangunkan suaminya itu tapi tak tega mendengar dengkuran halusnya. Kamar mandi di rumah barunya terletak di belakang, bersebelahan dengan dapur.

            “Dingin….” suara Retno bergetar lirih.

            Perempuan muda itu berjalan melewati ruang tengah. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri.

            “Retno.”

            “Iya.”

            Retno yang berjalan langsung berhenti. Kepalanya menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tak ada siapapun. Matanya yang masih ngantuk dipelototkan. Meski tak keras dia yakin dia mendengar suara orang memanggil namanya. Dan suara itu berasal dari salah satu kamar yang ada di rumahnya. Untuk sesaat Retno mematung di depan pintu kamar yang tertutup rapat itu.

            Tubuh Retno bergidik. Cepat-cepat perempuan itu berjalan, kembali ke kamar. Tiba-tiba saja dia merasa takut. Begitu sampai di kamarnya dia segera naik ke atas ranjang dan memeluk suaminya. Beni menggeliat sebentar merasakan pelukan kuat istrinya tapi kembali diam, tidur.

            “Siapa tadi?” tanya Retno dalam hati.

            Perempuan itu lupa rasa ingin pipisnya. Jelas-jelas di rumah ini hanya dia dan suaminya, pikirnya. Tiba-tiba bulu di tangannya berdiri. Setelah menarik selimutnya, menutupi hampir semua tubuhnya, Retno menarik tubuh suaminya agar menghadapnya. Perempuan itu ketakutan.

            “Mas, kamu ngrasa ada yang aneh nggak sih di rumah ini?” tanya Retno suatu pagi.

            “Aneh? Nggak,” jawab Beni.

            Retno diam. Dipandangi suaminya yang sedang enak menikmati masakannya. Kejadian malam kemarin ketika dia hendak ke kamar mandi bukan satu-satunya yang dia alami. Tadi malam ketika akan merebus air untuk mandi suaminya dia mendengar suara seorang perempuan sedang menangis. Memang tak keras tapi dia yakin karena suara itu keluar dari kamar paling belakang yang dekat dengan dapur.

            “Nanti jangan malam-malam ya pulangnya,” kata Retno.

            Beni mengangguk sambil tersenyum menggoda. Suaminya itu pasti berpikir lain, pikir Retno, tapi dibiarkannya. Dia tak ingin menceritakan apa yang dialaminya kepada suaminya karena dia tak ingin dibilang manja. Sejak menikah dengan Beni, Retno berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi istri terbaik bagi suaminya. Mungkin karena aku sering sendiri, tidak punya kegiatan sehingga jadi berpikir yang tidak-tidak, katanya pada dirinya sendiri.

            “Aku berangkat dulu ya,” pamit Beni begitu selesai sarapan.

            Retno mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah. Meski suaminya sudah hilang dari pandangan, Retno tak segera beranjak. Dipandangi sekelilingnya. Dia dan Beni beruntung, meski rumah yang mereka tinggali adalah rumah tua tapi rumah ini cukup terawat. Pepohonan yang ada di sekitar rumah juga menyejukkan. Seorang tukang sayur melintas, menawarinya dagangan. Retno menggeleng sambil tersenyum.

            “Kurasa aku butuh jalan-jalan,” bisiknya.

            Beni mengunci pintu garasi dan segera masuk ke rumah. Dilepas jaketnya dan meletakkannya ke atas kursi di ruang tengah. Laki-laki itu baru pulang dari kerja. Duduk di depan televisi, laki-laki itu mulai melepas sepatunya.

            “Cantik bener, Dek, mau ke mana?” tanyanya.

            Yang ditanya hanya tersenyum.

            “Mau ke kawinan apa mau dikawini?” tanya Beni lagi sambil tersenyum menggoda.

            Lagi-lagi yang ditanya diam saja sambil berjalan masuk ke kamar. Beni menyandarkan punggungnya yang pegal ke kursi. Istrinya itu tak suka kalau dia tak segera mandi tapi hawa dingin membuatnya malas. Baru saja Beni hendak beranjak ketika tiba-tiba istrinya muncul dari depan rumah.

            “Sudah pulang, Mas?”

            Beni melongo. Dipandangi perempuan yang saat ini berdiri di depannya.

            “Kok malah melongo? Jelek,” kata Retno sambil berlalu.

            Beni masih memaku di tempatnya berdiri. Belum ada lima menit dia melihat istrinya dan sekarang dia melihat istrinya lagi dengan pakaian yang berbeda. Laki-laki itu tak habis pikir. Istri yang pertama dilihatnya tadi memakai baju seperti kebaya dan jarit. Beni langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak mungkin istrinya menggenakan jarit atau kebaya. Penampilan istrinya tadi mengingatkan Beni pada sebuah lukisan yang ada di kamar paling belakang yang dilihatnya dulu ketika pertama kali melihat rumah ini. Perempuan muda dengan kebaya dan jarit yang berdiri bersama seorang laki-laki Belanda. Suara adzan dari toa masjid dekat rumahnya nyaris membuat Beni melompat.

            “Mas, sudah magrib jangan bengong saja,” teriak Retno dari kamar.

            Beni menggaruk-garuk kepalanya dan tiba-tiba saja tubuhnya bergidik.

***

Advertisements

8 thoughts on “Rumah Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s