Sumini Dari Lereng Merapi Bagian 4

            Hawa dingin menusuk tulang tak dihiraukan oleh laki-laki itu. Kakinya terus saja melangkah menyusuri jalanan Dusun Tunggul. Baju hitamnya sesekali berkibar diterpa angin. Cahaya remang bulan purnama yang tertutup awan sedikit membantu pandangannya. Seolah ada yang memburu, langkahnya panjang-panjang dan cepat.

            “Hmm….hmmm…”

            Dari bibirnya beberapa kali keluar suara yang mirip erangan. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Di ujung dusun laki-laki itu berhenti. Dipandangnya langit di atas. Kepalanya menggeleng-geleng sebentar. Hujan bisa merusak rencananya. Kembali laki-laki itu berjalan. Jajaran pohon kamboja menyambut begitu dia memasuki sebuah gerbang dari tumpukan batu bata.

Laki-laki itu berhenti di salah satu gundukan tanah. Pandangannya diedarkan ke sekelilingnya sebelum akhirnya berjongkok sambil meraba tanah di depannya.

“Yang ini,” bisiknya nyaris tak terdengar.

            Kedua tangannya yang kekar mulai menggaruk tanah. Cahaya kilat tampak membelah langit Dusun Tunggul. Laki-laki itu semakin mempercepat gerakan tangannya. Rambutnya yang tadi tak tampak, tertutup di balik baju hitamnya saat ini terurai keluar. Keringat menetes, membasahi wajahnya. Nafasnya memburu seiring gerakan tangannya yang semakin cepat.

            Kilat yang kembali datang memperliatkan wajahnya. Dua bola mata tajam dengan garis hitam melingkarinya. Tanah yang digaruknya dilempar begitu saja ke samping kedua sisi tangannya. Hujan akan segera datang dan dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.

            “Hhhhh….hhhh….”

            Sementara itu di kamarnya Sumini tampak belum bisa tidur. Perempuan muda itu menutup erat dua telinganya. Meski tak terdengar suara tapi cahaya kilat yang terlihat dari sela-sela genteng membuatnya takut. Sejak kecil dia paling tidak suka dengan kilat atau petir. Jaritnya ditarik untuk menutup wajahnya. Rasanya ingin berlari menuju kamar simboknya tapi dia tahan. Simboknya juga bapaknya pasti sudah lelap tidur dan dia tak ingin mengganggu mereka.

            Sumini berteriak kencang ketika tiba-tiba petir datang menggelegar. Simboknya yang tadi sudah lelap langsung terbangun dan buru-buru masuk ke kamarnya.

            “Tenang nduk, mbok nang kene,” kata simbok sambil memeluk kepala anaknya itu.

            “Aku takut mbok,” kata Sumini hampir menangis.

            “Ho oh, mbok nang kene, ora tak tinggal.”

            Suara rintik di atas genteng menandakan hujan sudah mulai turun. Simbok naik ke atas ranjang lalu memeluk anak perempuan satu-satunya itu. Dielus-elus rambut panjang Sumini yang terurai. Sumini membenamkan wajahnya di dada simboknya. Kedua tangannya masih erat menutup telinganya.

            “Asu! Asu tenan!

            Laki-laki di pekuburan terlihat memaki-maki. Hujan yang datang mulai menggenangi tanah yang dia gali. Dia harus cepat. Matanya semakin nyalang. Kedua tangannya kuat-kuat mencengkeram tanah. Seolah kesetanan gerakannya semakin kuat dan cepat. Usahanya tak sia-sia. Yang dia cari sudah mulai tampak. Bibirnya meringis puas.

            Jedarrr!!!

            Petir kembali menyambar, memperlihatkan wajahnya. Laki-laki itu dikenal warga sebagai Ki Sono, salah satu orang yang cukup disegani di Dusun Tunggul.

Advertisements

2 thoughts on “Sumini Dari Lereng Merapi Bagian 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s