Warung Mak’e Gendut

 warung

            Sejak mulai memasak (baca: belajar masak) hampir dua bulan ini ada pikiran yang muncul dan mulai mengusik kepalaku. Pikiran yang selama ini tak terlintas sebelumnya. Pikiran itu adalah membuka sebuah warung makanan.

            Seorang teman berkomentar ketika aku menceritakan pikiranku ini padanya. Dia bilang, “Lek ndelok jarimu masakanmu pasti enak Rin.” Hmmm, langsung deh memandangi jari-jari dan tak melihat apapun meski juga nggak menolak kata-kata temanku tersebut. Tiap selesai masak aku selalu meminta teman kos menyicipi dan hampir selalu tanggapannya positif.

            Bermodal bumbu andalan bawang merah, bawang putih, cabe dan garam dengan porsi yang disesuaikan dan bumbu tambahan yang menyesuaikan jenis masakan, masakanku memang nyaris tak keluar jalur alias bisa dimakan, catat ya, bisa dimakan.

            Warungku nanti konsepnya warung jaman kala bendu, jaman lawas, warung tradisional dalam artian bukan resto. Tempat tergantung dapatnya (artinya semampunya dulu). Mau di depan rumah, di gerobak atau di mana saja tapi kalau mengikuti keinginan inginnya ya punya warung yang permanen. Pintunya dua, sisi kiri dan kanan dengan jendela di bagian tengah dari kayu yang dibuka selembar demi selembar (jendela dari papan itu lho). Kalau nggak model angkringan juga boleh, untuk sementara.

            Menunya kalau bisa apa saja ada tapi untuk permulaan mungkin masakan rumahan dulu, yang pasti serba pedas. Lele bumbu kemangi, sambel goreng ati, pidang masak pedas dan lain-lain yang aku nggak tahu namanya tapi tahu modelnya. Minumnya belum tahu banyak, paling ya sekitar es teh, es jeruk favorit dan kopi.

            Ini sebuah keinginan yang tiba-tiba muncul dan ingin diwujudkan. Ditulis dulu untuk mengingatkan dan untuk mencari teman yang mungkin punya keinginan yang sama sepertiku. Kali aja kita bisa buka warung bareng. Tapi nggak buka nutup aja lho, ingat guyonan salah satu temanku, “Ho oh, mbukak nutup warung” alias hanya jadi karyawan bukan pemilik.

            Akhir kata, tulisan ini bukan hanya uneg-uneg yang ingin dikeluarkan agar tidak mengganggu tidurku tapi juga sekaligus doa.

            “Gusti, paringi kulo warung. Amin!”

***

Advertisements

One thought on “Warung Mak’e Gendut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s